Mengurangi Limbah Styrofoam dengan Jamur, Bisakah Mushfoam Jadi Alternatif Kemasan?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 14 September 2026 | 15:55 WIB
Mengurangi Limbah Styrofoam dengan Jamur, Bisakah Mushfoam Jadi Alternatif Kemasan?
Ilustrasi jamur miselium. Sumber: shutterstock.com/Oleg Kovtun Hydrobio

Suara.com - Styrofoam yang biasa digunakan sebagai alat pembungkus makanan, membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dan berisiko melepaskan residu mikroplastik ke tanah, air, bahkan makanan yang dibungkusnya. 

Kekhawatiran itulah yang mendorong lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan Mushfoam, kemasan pengganti styrofoam yang dibuat dari jalinan miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus).

Bedanya dengan styrofoam yang perlu ratusan tahun untuk terurai, Mushfoam cukup dikomposkan setelah dipakai dan yang terpenting, tidak melepaskan residu mikroplastik ke lingkungan.

Cara kerja Mushfoam sebenarnya sederhana, jamur dibiarkan tumbuh di atas limbah pertanian hingga hifa-hifanya (jaringan benang halus yang biasanya membentuk tubuh jamur) mengikat serpihan limbah menjadi lembaran padat.

Bahan bakunya pun bukan barang mahal. Ampas tebu halus berperan sebagai serat penguat, tongkol jagung giling mengisi massa lembaran, sementara dedak padi jadi sumber nutrisi dan kalsium karbonat menstabilkan tingkat keasaman.

Setelah disterilisasi dan diinokulasi bibit jamur, campuran ini dibiarkan "tumbuh" selama lima hingga tujuh hari — proses yang dalam riset material dikenal sebagai mycelium bio-fabrication.

"Lembaran yang telah terbentuk kemudian dikeringkan menggunakan oven dan dilapisi beeswax agar lebih tahan terhadap kelembapan," kata Divo dikutip dari laman UGM, Senin (7/9/2026).

Divo menambahkan, gagasan ini lahir dari keresahan tim melihat tumpukan limbah styrofoam yang sulit terurai. "Dari persoalan tersebut, muncul gagasan untuk memanfaatkan limbah pertanian yang mudah terurai sebagai pengganti polistirena, guna mengurangi limbah styrofoam sekaligus memaksimalkan potensi limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan," ujarnya.

Hasil akhirnya adalah panel setebal 1–2 cm berukuran standar 60 x 40 cm yang bisa dicetak sesuai bentuk pesanan.

baca juga

Menguji Layak Tidaknya di Pasar

Tim UGM yang berhasil memanfaatkan jamur menjadi pengganti styrofoam. Sumber: ugm.ac.id
Tim UGM yang berhasil memanfaatkan jamur menjadi pengganti styrofoam. Sumber: ugm.ac.id

Tantangan sebenarnya baru dimulai setelah material ini jadi. Anggota tim, Umi Muthoharoh, mengatakan menciptakan bahan ramah lingkungan hanyalah setengah perjalanan — setengah lainnya adalah membuatnya laku dijual. "Kami perlu menghitung biaya produksi dan menentukan harga yang tetap terjangkau bagi calon pengguna, sekaligus memastikan usaha ini dapat terus berkembang," ujarnya.

Perhitungan kelayakan usaha yang dilakukan tim menunjukkan hasil yang menjanjikan, proyeksi return on investment(ROI) 46,24 persen dan B/C ratio 1,42 pada kuartal pertama penjualan, dengan target awal 400 pak unit produk.

Strategi masuk pasar disusun bertahap. Alih-alih langsung menyasar pasar nasional, tim memilih Yogyakarta sebagai titik uji terlebih dahulu, menyasar UMKM dan industri kecil-menengah yang butuh kemasan pelindung non-pangan. Penetrasi awal direncanakan lewat skema business to business dengan sampel gratis dan edukasi langsung ke calon mitra, sebelum ekspansi ke pasar digital secara nasional

Ke depan, tim menyusun peta jalan usaha lima tahap — existence, survival, success, take-off, hingga resource maturity — mengacu pada kerangka Churchill dan Lewis (1987). Salah satu target jangka panjangnya adalah mengembangkan varian Mushfoam berstandar food grade, sehingga suatu saat kemasan ini bisa langsung membungkus makanan, bukan sekadar barang non-pangan.

Riset ini dikembangkan lewat skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2026, oleh Divo Cahaya Fikri (Fakultas Teknik) selaku ketua tim bersama Nasyawana Ladita Agustine, Umi Muthoharoh, Reyhan Abelard Fikri, dan Balqhis Naila Andini, dengan pendampingan Choirunnisa Arifa, dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Penulis: Inesia Dian

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Hanya Soal Asap, Vape Sekali Pakai Jadi Ancaman Baru bagi Lingkungan: Kenapa?

Tak Hanya Soal Asap, Vape Sekali Pakai Jadi Ancaman Baru bagi Lingkungan: Kenapa?

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 11:17 WIB

Pemerintah Segel 50 Perusahaan, 27 Ribu Hektare Konsesi Terbakar

Pemerintah Segel 50 Perusahaan, 27 Ribu Hektare Konsesi Terbakar

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 08:24 WIB

Gen Z Impact Fest 2026 Bahas Gaya Hidup Berkelanjutan, dari Hilirisasi hingga Pengelolaan Sampah

Gen Z Impact Fest 2026 Bahas Gaya Hidup Berkelanjutan, dari Hilirisasi hingga Pengelolaan Sampah

News | Sabtu, 12 September 2026 | 15:11 WIB

Terkini

Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan

Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan

Jogja | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:41 WIB

DPR Desak Pidana Maksimal Korporasi Nakal Pelaku Karhutla Berulang

DPR Desak Pidana Maksimal Korporasi Nakal Pelaku Karhutla Berulang

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:37 WIB

JKT48, Bernadya, dan Inul Daratista Satu Panggung di Grand Final AXIS Nation Cup 2026

JKT48, Bernadya, dan Inul Daratista Satu Panggung di Grand Final AXIS Nation Cup 2026

Jogja | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:36 WIB

Liburan ke Vietnam Bisa Jadi Awal Menjelajah Asia, Ada Promo Tiket Mulai Rp0 dari Vietjet

Liburan ke Vietnam Bisa Jadi Awal Menjelajah Asia, Ada Promo Tiket Mulai Rp0 dari Vietjet

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:36 WIB

Rudal Houthi Guncang Riyadh Usai Serangan Mematikan Militer Saudi Saudi di Yaman

Rudal Houthi Guncang Riyadh Usai Serangan Mematikan Militer Saudi Saudi di Yaman

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:34 WIB

Motorola Signature 27 Meluncur 5 November, Spesifikasi Terungkap di Geekbench

Motorola Signature 27 Meluncur 5 November, Spesifikasi Terungkap di Geekbench

Tekno | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:32 WIB

Beban Ganda Perempuan Indonesia: Tubuh Diatur, Rahim Dipajaki

Beban Ganda Perempuan Indonesia: Tubuh Diatur, Rahim Dipajaki

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Gebyar Pap Smear JKN, Upaya BPJS Lindungi Ibu dari Kanker Rahim

Gebyar Pap Smear JKN, Upaya BPJS Lindungi Ibu dari Kanker Rahim

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:29 WIB

Peringati Setahun Sekolah Rakyat, Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulsel

Peringati Setahun Sekolah Rakyat, Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulsel

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:25 WIB

Kenapa Pembalut Kena Pajak? Ini Alasan Produk Menstruasi Dikenai PPN 11 Persen

Kenapa Pembalut Kena Pajak? Ini Alasan Produk Menstruasi Dikenai PPN 11 Persen

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:24 WIB

×