Suara.com - Styrofoam yang biasa digunakan sebagai alat pembungkus makanan, membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dan berisiko melepaskan residu mikroplastik ke tanah, air, bahkan makanan yang dibungkusnya.
Kekhawatiran itulah yang mendorong lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan Mushfoam, kemasan pengganti styrofoam yang dibuat dari jalinan miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus).
Bedanya dengan styrofoam yang perlu ratusan tahun untuk terurai, Mushfoam cukup dikomposkan setelah dipakai dan yang terpenting, tidak melepaskan residu mikroplastik ke lingkungan.
Cara kerja Mushfoam sebenarnya sederhana, jamur dibiarkan tumbuh di atas limbah pertanian hingga hifa-hifanya (jaringan benang halus yang biasanya membentuk tubuh jamur) mengikat serpihan limbah menjadi lembaran padat.
Bahan bakunya pun bukan barang mahal. Ampas tebu halus berperan sebagai serat penguat, tongkol jagung giling mengisi massa lembaran, sementara dedak padi jadi sumber nutrisi dan kalsium karbonat menstabilkan tingkat keasaman.
Setelah disterilisasi dan diinokulasi bibit jamur, campuran ini dibiarkan "tumbuh" selama lima hingga tujuh hari — proses yang dalam riset material dikenal sebagai mycelium bio-fabrication.
"Lembaran yang telah terbentuk kemudian dikeringkan menggunakan oven dan dilapisi beeswax agar lebih tahan terhadap kelembapan," kata Divo dikutip dari laman UGM, Senin (7/9/2026).
Divo menambahkan, gagasan ini lahir dari keresahan tim melihat tumpukan limbah styrofoam yang sulit terurai. "Dari persoalan tersebut, muncul gagasan untuk memanfaatkan limbah pertanian yang mudah terurai sebagai pengganti polistirena, guna mengurangi limbah styrofoam sekaligus memaksimalkan potensi limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan," ujarnya.
Hasil akhirnya adalah panel setebal 1–2 cm berukuran standar 60 x 40 cm yang bisa dicetak sesuai bentuk pesanan.
Menguji Layak Tidaknya di Pasar

Tantangan sebenarnya baru dimulai setelah material ini jadi. Anggota tim, Umi Muthoharoh, mengatakan menciptakan bahan ramah lingkungan hanyalah setengah perjalanan — setengah lainnya adalah membuatnya laku dijual. "Kami perlu menghitung biaya produksi dan menentukan harga yang tetap terjangkau bagi calon pengguna, sekaligus memastikan usaha ini dapat terus berkembang," ujarnya.
Perhitungan kelayakan usaha yang dilakukan tim menunjukkan hasil yang menjanjikan, proyeksi return on investment(ROI) 46,24 persen dan B/C ratio 1,42 pada kuartal pertama penjualan, dengan target awal 400 pak unit produk.
Strategi masuk pasar disusun bertahap. Alih-alih langsung menyasar pasar nasional, tim memilih Yogyakarta sebagai titik uji terlebih dahulu, menyasar UMKM dan industri kecil-menengah yang butuh kemasan pelindung non-pangan. Penetrasi awal direncanakan lewat skema business to business dengan sampel gratis dan edukasi langsung ke calon mitra, sebelum ekspansi ke pasar digital secara nasional
Ke depan, tim menyusun peta jalan usaha lima tahap — existence, survival, success, take-off, hingga resource maturity — mengacu pada kerangka Churchill dan Lewis (1987). Salah satu target jangka panjangnya adalah mengembangkan varian Mushfoam berstandar food grade, sehingga suatu saat kemasan ini bisa langsung membungkus makanan, bukan sekadar barang non-pangan.
Riset ini dikembangkan lewat skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2026, oleh Divo Cahaya Fikri (Fakultas Teknik) selaku ketua tim bersama Nasyawana Ladita Agustine, Umi Muthoharoh, Reyhan Abelard Fikri, dan Balqhis Naila Andini, dengan pendampingan Choirunnisa Arifa, dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.
Penulis: Inesia Dian