- Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 mewajibkan pengendara sepeda motor di Indonesia menggunakan helm berstandar SNI untuk perlindungan kepala.
- Helm SNI yang telah melalui pengujian ketat tersedia dalam berbagai jenis seperti full face, half face, dan modular.
- Pengendara harus memilih ukuran tepat, memeriksa cangkang dan busa, serta menguji tali pengaman sebelum membeli helm.
Suara.com - Memilih helm motor yang sesuai standar keselamatan SNI menjadi langkah penting untuk melindungi kepala selama berkendara.
Helm yang terlihat kokoh belum tentu memberikan perlindungan optimal jika ukurannya tidak sesuai atau komponen pengamannya tidak berfungsi dengan baik.
Di Indonesia, pengendara sepeda motor juga diwajibkan menggunakan helm yang memenuhi standar keselamatan sebagaimana diatur dalam peraturan lalu lintas.
Karena itu, memahami ciri helm SNI dan cara memilihnya dengan tepat dapat membantu pengendara mendapatkan perlindungan sekaligus kenyamanan saat berada di jalan.
Kenapa Harus Pakai Helm Bersertifikat SNI?
SNI merupakan singkatan dari Standar Nasional Indonesia yang menjadi acuan persyaratan mutu dan keselamatan berbagai produk yang beredar di Indonesia, termasuk helm sepeda motor.
Helm yang memenuhi standar tersebut harus melalui persyaratan pengujian tertentu untuk memastikan kemampuan produk dalam memberikan perlindungan kepada pengguna.
Aspek yang diperhatikan mencakup konstruksi helm, kemampuan menahan benturan, sistem pengikat, serta sejumlah komponen lain yang berkaitan dengan keselamatan.
Penggunaan helm sesuai standar juga bukan sekadar persoalan memenuhi aturan. Helm berfungsi sebagai perlindungan utama kepala ketika pengendara mengalami kecelakaan atau terjatuh dari sepeda motor.
Aturan mengenai penggunaan helm berstandar SNI tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Oleh sebab itu, pengendara sebaiknya tidak memilih helm hanya berdasarkan desain, merek, atau harga.
Jenis Helm Sesuai Standar SNI
Helm SNI tersedia dalam berbagai bentuk yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan berkendara.
Helm full face menutupi kepala, wajah, hingga bagian dagu sehingga memberikan cakupan perlindungan yang lebih menyeluruh. Jenis ini banyak dipilih untuk perjalanan jauh, berkendara di jalan dengan kecepatan relatif tinggi, maupun touring.
Helm half face atau open face menutupi bagian atas, samping, dan belakang kepala, tetapi tidak memiliki pelindung dagu. Bentuknya lebih terbuka sehingga sering digunakan untuk aktivitas berkendara sehari-hari di dalam kota.
Sementara itu, helm modular atau flip-up menawarkan mekanisme bagian depan yang dapat dibuka dan ditutup. Saat bagian depan dikunci dalam posisi tertutup, helm memberikan perlindungan seperti helm dengan bagian wajah tertutup, sedangkan mekanisme flip-up memudahkan pengguna ketika sedang berhenti.
Apa pun jenisnya, pastikan helm yang dipilih memiliki tanda atau sertifikasi SNI dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Cara Memilih Helm Motor yang Sesuai dengan Standar Keselamatan SNI
Setelah menentukan jenis helm, beberapa aspek berikut perlu diperhatikan sebelum membeli.
1. Pilih ukuran yang sesuai
Ukuran helm harus pas dengan kepala, bukan sekadar terasa nyaman ketika pertama kali dicoba. Helm yang terlalu longgar dapat mudah bergeser, sedangkan helm yang terlalu sempit dapat menimbulkan tekanan dan rasa tidak nyaman.
Ukur lingkar kepala menggunakan meteran dari area sedikit di atas alis hingga bagian kepala yang paling lebar. Gunakan hasil pengukuran tersebut sebagai panduan, kemudian tetap coba helm secara langsung karena bentuk kepala setiap orang berbeda.
2. Periksa kondisi cangkang helm
Cangkang luar atau shell merupakan bagian yang menerima benturan dari luar. Periksa permukaannya untuk memastikan tidak terdapat retakan, kerusakan, atau cacat produksi.
Material helm dapat berbeda-beda, tetapi keberadaan standar keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama daripada sekadar mengejar material yang dianggap paling mahal.
3. Pastikan lapisan dalam masih baik
Bagian dalam helm umumnya memiliki lapisan penyerap energi benturan. Pastikan busa tidak rusak, terlepas, atau mengalami perubahan bentuk yang berlebihan.
Helm yang pernah mengalami benturan keras sebaiknya tidak digunakan kembali meskipun kerusakan pada bagian luarnya tidak terlihat jelas.
4. Cek tali pengaman
Kencangkan tali helm sesuai petunjuk dan pastikan penguncinya dapat bekerja dengan baik. Tali yang terpasang dengan benar membantu mempertahankan posisi helm ketika terjadi benturan.
Jangan menggunakan helm tanpa mengunci tali hanya karena perjalanan yang ditempuh dekat.
5. Perhatikan ventilasi
Sistem ventilasi dapat membuat penggunaan helm terasa lebih nyaman, terutama ketika berkendara dalam cuaca panas atau perjalanan panjang. Lubang ventilasi yang baik membantu mengurangi udara panas yang terperangkap di dalam helm.
6. Sesuaikan dengan kebutuhan berkendara
Helm untuk perjalanan harian tidak selalu memiliki kebutuhan yang sama dengan helm untuk touring. Pertimbangkan jarak perjalanan, kondisi jalan, durasi penggunaan, serta fitur yang memang diperlukan.