Charger Listrik BYD Dirantai Besi Diduga Akibat Persaingan Bisnis

Manuel Jeghesta Nainggolan

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:20 WIB
Charger Listrik BYD Dirantai Besi Diduga Akibat Persaingan Bisnis
Charger Listrik BYD Dirantai Diduga Akibat Persaingan Bisnis. (Foto: Ist)
baca 10 detik
  • Dua gagang pengisi daya Megawatt Flash Charger milik BYD ditemukan terikat rantai besi dan tidak bisa beroperasi.
  • Insiden tersebut melumpuhkan fungsi fasilitas, mengancam keselamatan kendaraan, serta memicu spekulasi dugaan sabotase bisnis.
  • Pihak BYD belum memberikan tanggapan resmi dan motif pasti pembatasan akses charger tersebut masih ditelusuri.

Suara.com - Stasiun pengisian daya atau charger listrik BYD mendadak jadi sorotan usai dua gagang pengisi daya pada fasilitas Megawatt Flash Charger ditemukan terikat rantai besi. Insiden yang mendadak viral di media sosial tersebut menyulut spekulasi mengenai dugaan sabotase hingga sengitnya persaingan bisnis stasiun pengisian daya kendaraan listrik.

Dikutip dari CarNewsChina, foto yang beredar menampilkan dua steker pengisi daya yang dikunci menjadi satu dengan rantai besi. Kondisi ini membuat fasilitas charger listrik BYD tidak dapat dioperasikan secara normal oleh para pemilik kendaraan listrik.

Apabila pengemudi memaksakan penggunaan salah satu steker, steker yang lain berisiko menghantam serta merusak bodi kendaraan. Tindakan destruktif ini tidak cuma melumpuhkan fungsi stasiun pengisian daya, namun juga mengancam keselamatan fisik mobil konsumen.

Meskipun kedua steker terkunci rapat, indikator lampu perangkat terpantau tetap menyala hijau dengan layar sistem yang beroperasi normal. Hal tersebut mengindikasikan bahwa hambatan yang terjadi murni merupakan gangguan akses fisik dan bukan akibat malfungsi sistem kelistrikan.

Hingga saat ini pihak BYD belum merilis tanggapan resmi terkait insiden tersebut, serta belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas aksi itu.

Viralnya peristiwa ini memicu beragam asumsi warganet. Sebagian pengguna media sosial sempat menuding produsen pesaing berada di balik aksi tersebut, kendati klaim itu belum didukung bukti valid.

Skenario lain yang dinilai lebih rasional adalah keterlibatan operator stasiun pengisian lokal berskala kecil yang terdesak oleh ekspansi masif jaringan pengisian cepat BYD. Bisnis pengisian daya arus searah di Tiongkok memang sangat kompetitif dengan margin keuntungan tipis sekitar 1 hingga 1,5 yuan per kWh.

Kehadiran BYD Megawatt Flash Charger yang menawarkan pengisian daya super cepat jelas meningkatkan tekanan persaingan bagi operator independen. Kendati demikian, motif pasti di balik aksi pembatasan akses charger tersebut masih dalam proses penelusuran.

Fenomena ini kian menegaskan pentingnya pengawasan keamanan pada infrastruktur pengisian daya publik seiring dengan pesatnya pertumbuhan populasi kendaraan listrik.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peta Jalan Elektrifikasi Motor Listrik Sasar Ojol dan Kendaraan Dinas Mulai 2027

Peta Jalan Elektrifikasi Motor Listrik Sasar Ojol dan Kendaraan Dinas Mulai 2027

Otomotif | Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:15 WIB

PEVC 2026 Dorong Indonesia Jadi Pemain Utama Ekosistem Kendaraan Listrik

PEVC 2026 Dorong Indonesia Jadi Pemain Utama Ekosistem Kendaraan Listrik

Otomotif | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:40 WIB

Daihatsu Akui Daya Beli Masih Jadi Tantangan Pembeli Mobil Pertama

Daihatsu Akui Daya Beli Masih Jadi Tantangan Pembeli Mobil Pertama

Otomotif | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:05 WIB

Terkini

Wantimpres Bedah Isu Geopolitik hingga Kedaulatan Ekonomi untuk Siapkan Masukan ke Prabowo

Wantimpres Bedah Isu Geopolitik hingga Kedaulatan Ekonomi untuk Siapkan Masukan ke Prabowo

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:14 WIB

Oli Shell Advance Matic untuk BeAT, Mio, hingga NMAX: Cek Harga per November!

Oli Shell Advance Matic untuk BeAT, Mio, hingga NMAX: Cek Harga per November!

Otomotif | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:08 WIB

Hashim Bantah Pemerintah Kasih HP Gratis, Klaim Ucapannya Dipelintir

Hashim Bantah Pemerintah Kasih HP Gratis, Klaim Ucapannya Dipelintir

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:03 WIB

Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Naik Penyidikan, Bagaimana Nasib Betrand Peto?

Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Naik Penyidikan, Bagaimana Nasib Betrand Peto?

Entertainment | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:02 WIB

Tembok Basah Padahal Tidak Hujan? Coba Cek Kondisi AC

Tembok Basah Padahal Tidak Hujan? Coba Cek Kondisi AC

Sumut | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:01 WIB

Cinta dan Makna Sebuah Pilihan: Ulasan Novel Islammu Adalah Maharku

Cinta dan Makna Sebuah Pilihan: Ulasan Novel Islammu Adalah Maharku

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:00 WIB

Sering Bayar Pakai QRIS? Ini 4 Tips agar Pengeluaran Tetap Terkendali

Sering Bayar Pakai QRIS? Ini 4 Tips agar Pengeluaran Tetap Terkendali

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:00 WIB

Kasus Kekerasan Seksual Naik Penyidikan, Betrand Peto Bakal Jadi Tersangka?

Kasus Kekerasan Seksual Naik Penyidikan, Betrand Peto Bakal Jadi Tersangka?

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:56 WIB

SPBU Shell di Indonesia Kini Dikelola SEFAS Group

SPBU Shell di Indonesia Kini Dikelola SEFAS Group

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:56 WIB

Hashim Sebut Petugas Pajak & Bea Cukai Lemah, RI Seharusnya Surplus Anggaran Rp 900 T

Hashim Sebut Petugas Pajak & Bea Cukai Lemah, RI Seharusnya Surplus Anggaran Rp 900 T

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 13:53 WIB

×