Ada juga takbir yang lebih panjang lagi dan berikut lafal lengkapnya.
“Allahu akbar kabira, wal hamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukrataw wa ashila, la ilaha illallah, wa la na’budu iyyahu mukhlisina lahud din, wa law karihal kafirun, la ilaha illlallah wahdah, shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzab wahdah, la ilaha illallah wallahu akbar”
Dijelaskan oleh Buya Yahya, kalau takbir pada Lebaran adalah berhukum sunnah, khususnya di Idul Fitri.
"Takbir yang dikumandangkan di jalan-jalan adalah sunnah, mulai dari terbenamnya matahari akhir Ramadhan sampai imam naik mimbar. Disunnahkan kita melantunkan takbir," ungkap Buya Yahya dilansari dari Youtube Al-Bahjah.
Dari lafadz yang disebutkan, ada beberapa jenis bacaan takbir seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan ada tambahan dari Imam Syafi'I, yakni Allahu Akbar Kabira wal-hamdu lil-Lahi katsira dan seterusnya.
Buya Yahya mengatakan terkait dengan makna tang terkandung adalah benar dan bukan suatu yang salah.
"Tambahan dari Imam Syafi'i tersebut adalah suatu yang umum, dan dianggap sebagai pemberi semangat, boleh dibaca, dan dianggap sebagai kebaikan," terang Buya Yahya.
Kara kata dia, ada doa-doa dan tambahan tersebut diambil dari dari firman Allah SWT termasuk ditambah dengan gabungan hadist-hadist dari Rasulullah.
"Orang munafik adalah kafir bathin. Maka menyebut wa lau karihal-munafiquun, sangat tidak apa-apa dan aman," terangnya. (*)