Suara.com - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada HUT ke-23, di Jakarta, Senin (7/8), memberikan Penghargaan Suardi Tasrif kepada dua kelompok pejuang yang tak kenal lelah mengungkapkan cerita dan fakta yang tersingkirkan, yakni Aksi Kamisan dan Kartini Kendeng.
Dewan Juri Penghargaan Suardi Tasrif atau Tasrif Award bersepakat memberikan penghargaan kepada Aksi Kamisan dan Kartini Kendeng, karena keduanya dinilai memiliki konsistensi yang sulit dicari bandingannya. Keduanya tak henti membeberkan cerita dan fakta atas ketidakadilan yang mereka alami—yang dinilai dewan juri mewakili spirit Suadi Tasrif, Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia.
Pada tanggal 27 Juli lalu, Aksi Kamisan menginjakkan kakinya yang ke 500 di depan Istana Negara dengan payung hitam dan dalam diam sebagai simbol duka.
"Artinya sudah 500 Kamis tanpa jeda mereka hadir untuk menuntut pengungkapan kebenaran dan keadilan bagi korban dan keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia masa lalu," tutur juri Tasrif Award dan aktivis Dhyta Caturani.
Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada Maret 2017, Kartini-kartini Kendeng melakukan aksi dengan memasung kaki dalam semen selama delapan hari.
"Aksi yang dianggap sebagai menyakiti diri sendiri ini memang sulit diterima oleh akal. Tapi aksi damai yang tidak menyakiti siapapun ini adalah bentuk yang dipilih oleh Kartini-kartini Kendeng sebagai wujud dari kefrustrasian atas keadilan yang tak kunjung datang meski proses hukum telah memenangkan mereka di tingkat Mahkamah Agung," jelas juri Ati Nurbaiti dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Sejak 2006, Kartini-kartini Kendeng telah berjuang melawan rencana pendirian pabrik semen dari berbagai korporasi di banyak wilayah di Kendeng. Tahun 2017 menandai 11
tahun perjuangan para Kartini ini dalam memperjuangkan hak atas ruang hidup dan kehidupan mereka.
Juri Asfinawati dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengatakan, tidak diragukan lagi bahwa Aksi Kamisan dan Kartini Kendeng telah teruji konsistensinya.
"Pun keduanya sama-sama digerakkan oleh perempuan, berjuang secara kolektif yang mengajarkan kita tentang solidaritas. Mereka tak kenal lelah mengungkapkan cerita dan
fakta yang disingkirkan," jelas Asfinawati.
Koordinator Divisi Advokasi Iman D. Nugroho mengatakan tahun ini AJI menerima sekitar 15 usulan nama atau kandidat peraih penghargaan Suardi Tasrif. Usulan masuk
dari berbagai daerah, AJI Kota, dan organisasi non-profit jaringan AJI.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia memberikan Penghargaan Suardi Tasrif sejak 1997 kepada kelompok atau lembaga yang gigih memperjuangkan kemerdekaan pers,
berpendapat—yang keduanya berujung pada kegigihan pengungkapkan cerita dan fakta yang tersingkirkan.
Tasrif Award 1997 diberikan kepada Benyamin Mangkoedilaga, mantan Kepala Pengadilan Tinggi Tata Negara Jakarta. Tasrif Award 1998 diberikan kepada Munir, koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).
Peraih Tasrif Award dari tahun ke tahun
1997 : Benyamin Mangkoedilaga, Mantan Kepala Pengadilan Tinggi Tata Negara Jakarta
1998 : KONTRAS
1999 : Indonesian Corruption Watch (ICW)
2000 : Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta
2001 : Baku Bae Maluku
2002 : Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS)
2003 : Andi Samsan Nganro, Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Lin Che
Wei, seorang ahli pasar modal yang membongkar kasus “Penggorengan Saham” PT.
LIPPO Group
2004 : Putu Wirata, Ketua Bali Corruption Watch
2005 : Bpk Alm. Prof.Andi Muis, akademisi dan Gordon Bishop dari Joyo News
2006 : Tidak ada
2007 : Dra. Hj. Rustriningsih Msi, Bupati Kebumen dan News Dot Com
2008 : Jaringan Radio Komunitas (JRK) Indonesia dan Vincentia Hanni Sulistyaningtyas
(Tyas)
2009 : Khoe Seng Seng, pemilik kios di ITC Mangga 2 yang memperjuangkan hak
konsumen melalui surat pembaca
2010 : Onno W. Purbo, seorang penggiat IT (Information Technology)
2011 : Tessa Piper, MDLF Program Director for Asia
2012 : LBH Pers
2013 : Luviana
2014 : Remotivi dan ICT Watch
2015 : Joshua Oppenheimer dan Anonim
2016 : Forum LGBTIQ dan IPT 65
UDIN AWARD 2017
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat puluhan kasus kekerasan yang terjadi pada jurnalis selama kurun waktu satu tahun terakhir. Terdapat beberapa nama yang masuk dalam nominasi penerima Udin Award tahun ini.
Udin Award, diambil dari kata panggilan wartawan Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin yang meninggal dunia pada 16 Agustus 1996 di Yogyakarta. Udin dianiaya
orang tidak dikenal karena pemberitaan yang ditulisnya pada 13 Agustus 1996, dan meninggal dunia tiga hari kemudian. Sampai saat ini, kasusnya tidak tuntas diusut.
Pembunuh Udin masih berkeliaran.
Melalui Udin Award, AJI ingin memberikan penghargaan kepada jurnalis maupun kelompok jurnalis profesional, dan memiliki dedikasi pada dunia jurnalistik, serta menjadi korban kekerasan.
Juri Udin Award tahun ini adalah Tosca Santoso (pendiri AJI), Yati Andriyani (KontraS), dan Nawawi Bahrudin (LBH Pers). Beberapa nominasi yang telah diterima AJI ditelusuri oleh ketiga juri, untuk menguji adakah yang layak menerima Udin Award.
"Parameter pemberian Udin Award tidak hanya berdasarkan pada kekerasan yang terjadi terhadap seorang jurnalis, tetapi juga mempertimbangkan kegigihannya dalam
melawan kekerasan yang dialaminya, termasuk upaya untuk melakukan proses hukum kepada terduga pelaku, agar menimbulkan efek jera dan mencegah terjadi impunitas,”
tutur Yati Andiryani.
Lebih daripada itu, Nawawi Bahrudin mengatakan sosok dan kasus Udin tidak hanya merepresentasikan kekerasan terhadap jurnalis, "tetapi juga merepresentasikan
konsistensi, keberanian, independensi dan idealisme dalam menjalankan kerja jurnalistiknya."
Poin-poin yang disebutkan oleh dewan juri tersebut masuk ke dalam kriteria Udin Award yang berjumlah enam poin.
"Tidak mudah menemukan kandidat yang memenuhi enam kriteria umum dan khusus Udin Award. Hanya dua kandidat yang mendekati memenuhi enam kriteria tersebut.
Sayang, keduanya gugur dalam pertimbangan juri yang lebih mendalam," kata Tosca Santoso.
Namun, dewan juri meminta AJI untuk ke depan dapat mempertimbangkan kembali poin-poin umum dan khusus kriteria Udin Award. Termasuk kekerasan lalu dan kini.
Peraih Udin Award tahun-tahun sebelumnya:
1997 : Tim Kijang Putih
1998 : Bambang Bujono dan Margiono, jurnalis dari Majalah D&R
1999 : Tidak ada Pemenang
2000 : Agus Mulyawan. Fixer – Asia Press-Jepang
2001 : Para Jurnalis Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh
2002 : Tidak ada pemenang
2003 : Alm Ersa Siregar dan Ferry Santoro, Jurnalis dan kameramen RCTI
2004 : Tim Media untuk Pembebasan Fery Santoro di Aceh
2005 : Tidak ada Pemenang
2006 : Tidak ada Pemenang
2007 : Tidak ada Pemenang
2008 : Metta Darmasaputra, Redaktur Investigasi Majalah Tempo
2009 : Jupriadi Asmaradhana, Koordinator Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Makassar
2010 : Budi Laksono, jurnalis yang kehilangan pekerjaannya setelah membentuk dan
memotori organisasi serikat pekerja di perusahaan media tempatnya bekerja
2011 : Almarhum Ridwan Salamun, Jurnalis Sun TV, Tual, Maluku Tenggara
2012 : Tidak ada pemenang
2013 : Didik Herwanto, Rian FB Anggoro, Fakhri Robianto
2014 : Tidak ada pemenang
2015 : Tidak ada pemenang
2016 : Tidak ada pemenang