KARAWANG - Pemerintah Kabupaten Karawang berkomitmen entaskan kemiskinan di wilayahnya. Langkah nyatanya dengan berencana membentuk Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos).
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Karawang Ridwan Salam mengatakan, melalui Puskesos pengangan kemiskinan di Kabupaten Karawang bisa tepat sasaran.
"Selama ini realisasi program kemiskinan sering dihadapkan dengan data penerimanya, karena itu diperlukan Puskesos," ungkapnya, Kamis (22/9/2022).
Tak hanya itu, disebutkan Ridwan Puskesos ini juga memudahkan warga miskin mendapatkan perlindungan sosial. Dengan harapan, warga tersebut bisa lepas dari kemiskinan.
Menurutnya, kedepannya Puskesos juga menjadi pusat data kemiskinan di Kabupaten Karawang. Sehingga penerima bantuan terkait program penanganan kemiskinan yang digulirkan oleh pemerintah bisa sampai kepada warga yang berhak.
Sementara itu, terkait dengan data penerima BLT BBM pasca-kenaikan harga BBM, data penerimanya bersumber dari pemerintah pusat yang disampaikan ke Kantor Pos sebagai pihak penyalur.
Menurut Ridwan Salam, dalam penyaluran BLT BBM, Dinas Sosial Karawang hanya bertugas melakukan peninjauan dalam proses penyalurannya.
Atas kondisi tersebut, Dinas Sosial Karawang tidak bisa melakukan perubahan data penerima BLT BBM jika dianggap tidak tepat sasaran.
Namun, diakuinya kalau saat ini Pemkab Karawang tengah melakukan pendataan terkait rencana penyaluran bantuan sosial kepada berbagai kalangan masyarakat yang tidak mendapatkan BLT BBM tapi terdampak kenaikan harga BBM.
Baca Juga: Tak Pernah Dapat Bantuan, Bertahun-tahun ODGJ di Jember Ini Tak Punya NIK KTP
Masyarakat yang akan mendapatkan bantuan sosial lainnya ialah mereka dari kalangan nelayan, petani, tukang ojek dan kalangan lainnya.
"Datanya sedang divalidasi, agar penerimanya tidak dobel. Artinya, penerima BLT BBM tidak akan menerima bantuan sosial yang nanti digulirkan pemkab," kata dia menlansir dari Antara.
Terkait dengan penanganan kemiskinan, kata dia, kalau persoalan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan data. Namun juga persoalan mental.
"Jadi penanganan kemiskinan juga mesti dilakukan dengan perbaikan mental, karena itu adalah akar persoalan," kata dia.
Disebutkan, ungkapan 'jangan beri ikan, tapi beri kail' dalam penanganan kemiskinan juga perlu ditinjau ulang, karena kurang relevan.
"Selain memberi kail, harus juga disediakan 'kolamnya', sehingga penanganan kemiskinan bisa lebih relevan," pungkas Ridwan. ***