PURWOKERTO.SUARA.COM Dalam urusan mendidik anak, orang tua adalah guru sebelum ia masuk sekolah. Sebagian orang tua mungkin akan mengajarkan keahlian membaca, menulis, dan berhitung, atau calistung, sebelum anak masuk ke tahap sekolah dasar.
Seiring perkembangan zaman, dengan beragamnya profesi mengajarkan calistung saja ternyata tidak cukup.
Menurut psikolog Tiga Generasi Saskya Aulia Prima, orang tua saat ini dihadapkan dengan berbagai tantangan dalam mendidik anak untuk bisa berprestasi setinggi mungkin dan dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang makin pesat.
"Banyak sekali hal-hal di masa depan bukan cuma kompetisi, tapi bagaimana membentuk anak yang punya kepribadian, karakter, dan kemampuan yang bisa membantu mereka untuk relevan di dunianya," kata Saskya saat webinar Winning Window Period bersama Nutrilon Royal.
Anak yang telah mengenal kepribadian, karakter, tahu kemampuan dirinya dapat memudahkannya untuk menentukan pilihan terkait profesinya di masa depan.
Saskia melanjutkan, dalam penelitian, 50 persen karyawan di seluruh dunia butuh pembaruan keahlian apa pun setiap 6 bulan. Akan tetapi, otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk selalu membuat sesuatu yang baru terus menerus karena berisiko sebabkan stres.
Agat tetap bisa bersaing dan mengikuti zaman, Saskya mengatakan, orang tua perlu memastikan kemampuan motorik anak terstimulasi dengan optimal.
"Sebetulnya ada tiga aspek besar dari sisi motorik karena tetap aja anak-anak di masa depan butuh operating sesuatu, mesin atau apapun yang mungkin mereka juga harus create sendiri," ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan agar anak jangan terlalu sering dibiarkan memegang ponsel. Orang tua lebih mengarahkan anak untuk menggunakan tangannya secara lebih aktif, seperti memegang pensil, kuas, membuka dan menutup tutup botol juga lainnya.
Baca Juga: Bersiap Di Final AFF U-16 2022, 5 Pemain Ini Menjadi Ancaman Vietnam
Selain itu, asah kemampuan kognitif anak dengan mengajaknya fokus mengerjakan sesuatu atau juga dengan membaca.
"Ini sebetulnya gambaran aja kalau kita mau mengembangkan skill anak atau keterampilan sebetulnya yang perlu kita pikirkan banyak banget. Jadi bukan cuma sekadar baca, tulis, hitung," kata Saskya. (iruma cezza)