"Atau kemudian menggunakan teknologi 'Superbodi' yang sudah saya perkenalkan untuk budi daya tanaman kacang-kacangan di wilayah-wilayah yang rawan kekeringan dan tidak bisa mendapatkan pasokan air. 'Superbodi' merupakan akronim dari masukkan benih ke pertengahan bonggol padi," katanya.
Sebab teknologi "Superbodi" dapat digunakan untuk menanam kacang hijau, kedelai, dan sebagainya di lahan sawah dengan membuat lubang tanam di tengah bonggol tanaman padi yang telah dipanen.
Nantinya tinggi bonggol tanaman padi yang digunakan untuk menanam tanaman kacang-kacangan itu sekitar 1,5 centimeter.
"Walaupun kemarau panjang, kelembaban yang ada di sekitar bonggol padi termasuk sisa tanaman padi beserta akarnya masih mampu menyuplai kelembapan dan ketersediaan air bagi tanaman kacang-kacangan sampai saatnya panen," jelasnya.
Ia mengatakan hal itu disebabkan usia tanaman kacang hijau pendek atau sekitar 2 bulan serta kedelai dan kacang tanah usianya hampir 3 bulan, sehingga bisa dipanen sebelum kekeringan.
Akan tetapi jika kacang-kacangan tersebut ditanam di tanah, kata dia, tanahnya akan retak ketika kekeringan yang mengakibatkan akar tanamannya patah, sehingga tanaman menjadi layu
"Jika kacang-kacangan ditanam di bonggol padi sisa panen, tanaman itu akan mampu tumbuh dan berkembang hingga masa panen walaupun kemarau," tegas Totok.
Khusus untuk tanaman kedelai, kata dia, petani bisa memilih varietas lokal yang bagus karena banyak pilihannya atau menanam kedelai yang berumur pendek.***
Baca Juga: Sho Yamamoto Resmi Perpanjang Kontrak dengan Persebaya Hingga Musim Depan