PURWOKERTO.SUARA.COM – Cara unik dilakukan oleh warga krajan RT 3 RW 1 kelurahan Sokanandi, Kabupaten Banjarnegara untuk merawat keberagaman.
Salah satunya yakni dengan menggelar bancakan, atau makan bersama seluruh warga dengan makanan tradisional dan seadanya bertempat di omah rakyat.
Ketua RT 3 RW 1 Kelurahan Sokanandi Wahyudi mengatakan, tradisi makan bersama atau bancakan merupakan inisiatif bersama dan berjalan secara spontanitas dari warga.
“Jadi makanan kita gelar di atas daun panjang, dimana ada nasi dan lauk sederhana serta jajanan lainnya yang kita santap bersama-sama,” ujarnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, melalui bancakan tersebut banyak terkandung makna untuk senantiasa bersyukur atas nikmat dan karunia serta rejeki yang halal untuk semua.
“Disamping itu ada nilai filosofi yang terkandung yakni merawat keanekaragaman dalam kebersamaan dan seiring sejalan,” lanjutnya.
Pihaknya juga menjelaskan, dengan jargon guyub rukun maju bareng diharapkan keanekaragaman yang ada dalam warga RT 3 RW 1 tetap dalam satu irama dan satu nafas kekeluargaan.
“Semua adalah teman, saudara yang saling mengingatkan, belajar bergotong royong dalam kegiatan kemasyarakatan,” tegasnya.
Selain itu, melalui kegiatan tersebut sekaligus sebagai momentum untuk silaturahmi, saling mengingatkan dan memberi saran serta masukan untuk kepengurusan RT dalam merawat kebersamaan.
Baca Juga: Nama Desa di Grobogan Ini Sangat Unik, Jadi Ingat Mau Belanja
Sementara itu ketua PKK RT 3 RW 1 Muflikhah mengatakan, aneka menu dan masakan yang dihidangkan saat bancakan merupakan murni swadaya masyarakat secara ikhlas.
“Tidak mewah, justru lebih mengarah kepada kesederhaan dan kesahajaan dengan olahan tradisional,” ujarnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, beberapa aneka makanan yang dihidangkan seperti nasi putih, nasi jagung, nasi tiwul, nasi leye yang dipadu dengan aneka sayur sederhan.
“Lauknya ada ikan asin, tempe bacem, oseng kikil, telur dadar, perkedel, mendoan dan tahu brontak,” tegasnya.
Sedangkan untuk urusan sayur ditampilkan menu kluban urab, tempe Lombok, bihun, mie goreng dan sayur ketela.
“Semua merupakan iuran dari warga dan ditampung juga melalui beberapa kelompok dasa wisma RT,” pungkasnya.