Kendaraan bekas dari Jepang itu dapat diekspor asalkan nilainya kurang dari 6 juta yen (sekitar Rp 646,46 juta).
Total ekspor mobil bekas Jepang ke Rusia mencapai rekor tertinggi sejak Januari 2009, menurut data pemerintah.
Prefektur Toyama, yang telah lama menjadi pusat ekspor kendaraan yang melintasi Laut Jepang ke pelabuhan Vladivostok Rusia telah sibuk kali ini.
Ada lonjakan khusus dalam pengiriman kendaraan bekas dari Jepang ke Rusia.
Data perdagangan dari Kementerian Keuangan membuka, bila Jepang mengekspor sekitar 17.000 kendaraan bekas ke Rusia pada Juni 2022.
Jumlah itu tentu hampir setengah dari total ekspor Jepang ke negara tetangganya.
Katsunori Okamoto, profesor geografi manusia di Institut Teknologi Nasional Toyama College yang memiliki pengetahuan tentang bisnis ekspor mobil bekas juga bersuara,
Dia mengatakan ekspor kendaraan bekas Jepang ke Rusia merosot setelah Moskow menaikkan pajak impor pada Januari 2009.
Ada efek yang tersisa dari krisis keuangan global 2007-2008 juga menekan permintaan yang ada setelahnya.
Dia menyatakan, perusahaan asing pembuat mobil menangguhkan operasi pabriknya di Rusia selama invasi ke Ukraina.
Akhirnya masyarakat Rusia tidak dapat membeli kendaraan baru sehingga permintaan kendaraan bekas telah melonjak.
Seorang pejabat di Asosiasi Eksportir Kendaraan Bekas Jepang menyebutkan alasan lain orang Rusia membeli kendaraan bekas Jepang.
"Masyarakat Rusia memiliki sejarah tidak memercayai pemerintah atau mata uang mereka, dan memiliki kecenderungan untuk mengubah uang tunai menjadi apartemen, mobil, atau komoditas lain pada saat krisis," tukas narasumber anonim itu.
Disebutkannya kecil kemungkinan bahwa mobil Jepang, mengingat reputasi keandalannya, akan turun harganya.
"Sulit untuk membayangkan bahwa ekspor kendaraan bekas akan turun tajam dalam waktu dekat, tetapi situasi politik masih sangat tidak stabil," tambah Katsunori Okamoto.