Usai disalin, keduanya dengan Arif Rachman Arifin dan Ridwan Rhekynellson Soplanit menonton bersama-sama rekaman CCTV tersebut.
Dari hasil nonton bareng itu mereka membongkar kebohongan Ferdy Sambo.
Pasalnya fakta itu berbeda dengan kronologi yang mereka dengar dari Ferdy Sambo.
Di mana cerita Ferdy Sambo, saat tiba di rumah Duren Tiga ketiga Brigadir J dan Bharada E sudah selesai tembak-menembak, tetapi ternyata korban masih terlihat hidup sekitar pukul 17.07-17.11 WIB.
Kebohongan ini langsung disampaikan kepada Brigjen Pol Hendra Kurniawan selaku atasan langsung Arif Rachman Arifin.
Hendra lantas menerangkan bawahannya yang gemetar ketakutan karena memergoki kebohongan sang atasan, lalu mengajak Arif untuk menghadap Sambo di hari berikutnya.
Di pertemuan itulah Sambo menyampaikan ancaman kepada anak-anak buahnya yang berusaha mengonfrontasi perihal kebohongan kronologi pembunuhan Brigadir J yang selama ini disampaikan.
Awalnya Ferdy Sambo masih sempat berkilah, "Masa sih? Itu keliru," katanya saat itu kepada Hendra dan Arif.
Namun saat itu Ferdy Sambo tampaknya sudah mulai panik, terbukti dari nada bicaranya yang disebut sudah mulai meninggi dan emosi.
"Masa kamu tidak percaya sama saya?!" bentak Ferdy Sambo lagi, lalu mempertanyakan siapa saja yang ikut menyaksikan rekaman CCTV tersebut.
Ferdy Sambo kemudian mengancam kedua anak buahnya yang menghadap tersebut. "Berarti kalau ada bocor, dari kalian berempat!" ancamnya.
Masih dengan wajah tegang dan marah, Ferdh Sambo memerintahkan Arif Rachman Arifin untuk menghapus dan memusnahkan file DVR CCTV tersebut.
Bukan hanya itu, Ferdy Sambo juga disebut sempat menitikkan air mata di hadapan Hendra Kurniawan dan Arif.
"Kenapa kamu tidak berani menatap mata saya? Kamu kan sudah tahu apa yang terjadi dengan Mbakmu," ucap Ferdy Sambo.
Amukan, ancaman, hingga tangisan inilah yang akhirnya membuat Hendra Kurniawan menyarankan Arif Rachman Arifin untuk mengikuti seluruh perintah Ferdy Sambo.