SUARA SEMARANG - Hasil riset dan survey 2017 dilakukan oleh Wahid Foundation kepada siswa dengan kegiatan rohani Islam (Rohis) menemukan adanya 68 persen setuju dengan khilafah Islamiyah.
Riset dan survey tentang sosial keagamaan dilakukan kepada siswa dengan tingkat pendidikan SMA dan SMK tertentu yang rentan terhadap keyakinan keagamaan dan usia yang masih labil.
Adanya hasil riset survey tersebut Wahid Foundation menilai, menjadi potensi tumbuh adanya intelorensi terhadap antar siswa di sekolah.
Karenanya, Wahid Foundation mengimplementasikan dengan melaunching program Sekolah Damai sejak 2018.
Program Sekolah Damai juga sejalan dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dimana pada tahun 2018 menyusun perencanaan aksi nasional terhadap penanggulangan ektrimisme dan intoleransi. Dalan hal tersebut memuat program intervensi di sekolah.
"Jadi yang menjadi dasar dari sekolah damai itu adalah ini yang disusun oleh BNPT," kata Ubbadul Adzkiya selaku peneliti dari Wahid Foundation dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama jurnalis dan Kesbangpolinmas Jawa Tengah, di Semarang Rabu (19/10/2022).
Wahid Foundation melaporkan sejak tahun 2018 program ini sudah ada di beberapa SMA/SMK di DKI, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Jawa Tengah yang sudah melakukan sekolah damai ini ada 5 sekolahan pertama SMAN 7, 10, 11, 13 Kota Semarang dan SMAN Cepiring Kendal.
Sekolahan yang sudah menerapkan Sekolah Damai sejak 2018 dan 3 sekolahan yang akan menjalankan juga diantaranya yaitu SMAN 12 Semarang.
"Pada September kami melakukan kick off mengundang dari 70 SMA/SMK se-Jateng sebagai perwakilan dari semua sekolahan yang ada di Jawa Tengah untuk menjadi percontohan implamentasi sekolah damai. Dari 35 kabupaten/kota diambil 2 sekolahan negeri favorit," jelasnya.
Baca Juga: Imbauan Terbaru IDAI Terkait Gangguan Ginjal Progresif Atipikal (GgGAPA)
Kemudian Pada tanggal 24 oktober 2022 Wahid Foundation akan melauncing Sekolah Damai bersama Gubernur Jawa Tengah dan Yenni Wahiud.
Wahid Foundation akan mengundang para kepala sekolah, guru agama Islam Guru BK, Rohis dan OSIS. Kegiatan akan dilaksanakan di Kota Solo secara hibryd.
"Kemarin kita sudah bertemu Pak Ganjar dan bersedia untuk hadir di Senin depan, mungkin ini adalah pertama kali yang hadir di Indonesia program yang mengimplementasikan sekolah damai," tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, Wahid Foundation akan membantu mengembangkan budaya damai melalui kebijakan dan praktik toleransi dengan melibatkan warga sekolah secara parsitipatif, kolaboratif dan kreatif.
Pada dasarnya, tambah Ubed, sekolah damai ini bukan menambah kurikulum baru atau menambah mata pelajaran baru. Namun sekolah damai itu menerapkan budaya-budaya damai di sekolahan.
"Pilar sekolah damai yang pertama kebijakan, sekolah punya kebijakan untuk mengantisipasi intoleransi dan kekerasan di sekolah. Selanjutnya bisa berupa peraturan kepala sekolah atau SOP yang mencegah intoleransi," urainya.