SUARA SEMARANG – Laju inflasi di wilayah Jawa Tengah selama periode lebaran tahun ini tercatat sebesar 0,28 persen.
Laju inflasi itu merupakan yang terendah dibandingkan dengan rata – rata periode lebaran dalam beberapa tahun terakhir.
Rahmat Dwisaputra, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah mengatakan, rendahnya inflasi dipengaruhi oleh kelompok transportasi, khususnya penurunan harga tiket penerbangan.
Hal ini seiring dengan penambahan frekuensi penerbangan, serta masa berlaku penerapan biaya tambahan (fuel surcharge) kepada maskapai penerbangan yang sudah berakhir.
“Penurunan harga avtur juga diperkirakan menjadi penyebab penurunan tarif angkutan udara,” ungkap Rahmat, rabu (10/5/2023)
Sementara itu, penurunan inflasi tertahan oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami peningkatan inflasi sebesar 0,66 persen.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh komoditas daging ayam ras dan beras.
“Kenaikan harga daging ayam ras dan beras didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat seiring dengan momentum festive season Idul Fitri 1444 H,” kata Rahmat
Sementar itu pada triwulan pertama tahun 2023, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,04 persen.
Baca Juga: Konser Coldplay Belum Izin ke Polisi, tapi Sudah Direstui Stadion GBK
Jumlah ini lebih tinggi dibanding perekonomian Jawa dan Nasional yang masing-masing tumbuh sebesar 4,96 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang tetap kuat tersebut bersumber dari konsumsi Rumah Tangga memiliki andil terhadap PDRB sebesar 3,11 persen dan tumbuh sebesar 5,31 persen,” ujarnya
Sementara dari sisi lapangan usaha, sumber pertumbuhan berasal dari sektor lapangan usaha utama industri pengolahan yang tumbuh sebesar 4,12 persen (yoy).
“Peningkatan sektor tersebut terutama disebabkan oleh perbaikan konsumsi domestik seiring dengan inflasi yang mulai menurun pada awal tahun serta persiapan momentum Ramadhan dan Lebaran di triwulan selanjutnya,” pungkasnya.