SuaraSoreang.id - Proses perceraian Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika dan Dedi Mulyadi menjadi semakin memanas dengan aksi saling sindir keduanya.
Diketahui, Anne Ratna Mustika alias Ambu Anne memilih untuk menceraikan Dedi Mulyadi karena beberapa alasan.
Menurut Ambu Anne, Dedi Mulyadi sebagai suami tidak menjalankan perannya sesuai syariat Islam. Seperti soal nafkah lahir dan batin serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) psikis yang dialaminya.
Pada materi lanjutan sidang perceraiannya, Dedi Mulyadi membantah tuduhan Ambu Anne soal nafkah dan KDRT psikis.
"Apa yang dituduhkan oleh istri saya dalam materi gugatan tidak benar. Jadi perlu disampaikan agar menjadi pertimbangan majelis hakim," ungkap Dedi Mulyadi.
Dengan tegas, Dedi Mulyadi tetap enggan mengakui telah melakukan KDRT psikis pada Ambu Anne. Karena Ambu Anne tidak mengalami ciri-ciri sebagai korban KDRT.
Adapun soal nafkah, Dedi Mulyadi merasa telah memberikannya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya pribadi hingga membayarkan biaya pendidikan bagi anak-anaknya.
Namun, Dedi Mulyadi tidak memberikan anggaran untuk rumah dinas menurutnya hal ini merupakan tanggungan negara.
Sebelumnya Ambu Anne sempat meminta Dedi Mulyadi untuk terbuka soal manajemen keuangannya. Namun, Ambu Anne menilai Dedi Mulyadi tidak terbuka.
Baca Juga: Samakan Korupsi dengan Covid-19, Wapres Ma'ruf: Sama-sama Musibah Global
Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi membantahnya. Dia merasa sudah terbuka tekait hartanya.
"Saya sudah sampaikan ini aset kita, ini penghasilan ayah dalam setiap bulan, ini pengeluaran ayah dalam setiap bulan, sudah saya sampaikan," ujar Kang Dedi Mulyadi.
Dia juga menyinggung permintaan Ambu Anne terkait nafkah untuk tabungan keluarga.
"Kalau untuk ditabung itu bukan kategori nafkah, tapi tabungan keluarga," katanya.
Dedi Mulyadi juga jelaskan definisi nafkah menurut dirinya yang diduga beda pemahaman nafkah dengan Ambu Anne.
"Nafkah dalam pemahaman saya adalah membantu istri menjadi bupati, mengeluarkan biaya, brand nama saya menjadi faktor keberhasilannya, kalau bicara cukup dalam pandangan kami yang orang desa orang yang biasa hidup sederhana itu sudah lebih dari cukup," kata Dedi Mulyadi.