Tiga Kali Jadi Runner-up, Susy Susanti Sentil Praveen / Melati

Rizki Nurmansyah
Tiga Kali Jadi Runner-up, Susy Susanti Sentil Praveen / Melati
Pasangan ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, menang atas Ren Xiangyu/Zhou Chaomin (Cina), dengan skor 21-13 dan 21-19, di babak pertama Malaysia Masters 2019, Rabu (16/1). [Humas PBSI]

"Melati cenderung lebih baru di level elite dibanding Praveen. Jadi tugas Praveen untuk membimbing Melati," ujar Susy.

Suara.com - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti soroti kegagalan pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti di final Australia Open 2019, akhir pekan lalu.

Ganda campuran Indonesia itu belum mampu membawa pulang gelar usai kalah dari Wang Yilyu/Huang Dongping (China), dengan skor 15-21 dan 8-21.

Kegagalan meraih gelar di Australia Open membuat Praveen/Melati harus memperpanjang puasa gelar di tahun 2019 ini.

Sebelumnya mereka menjadi runner-up di India Open dan New Zealand Open.

Di India Open, 31 Maret lalu, Praveen/Melati menyerah dengan skor 13-21 dan 11-21 dari Wang/Huang.

Sedangkan di final New Zealand Open, 5 Mei 2019, Praveen/Melati kalah dari Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia), setelah bertarung tiga game 14-21, 21-16, dan 27-29.

Pasangan ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan / Melati Daeva Oktavianti. [Dok. PBSI]
Pasangan ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan / Melati Daeva Oktavianti. [Dok. PBSI]

Meski memuji telah banyak progres, namun Susy menyoroti kematangan permainan anak asuh Richard Mainaky di Pelatnas PBSI ini.

Khususnya Praveen yang 'disentil' Susy lantaran masih belum stabil permainannya.

"Praveen itu punya potensi, tinggal kemauan dia, dia harus lebih siap lagi. Kestabilannya masih naik turun, padahal ini waktunya Praveen," ujar Susy dalam keterangan tertulis yang diterima Suara.com, Rabu (12/6/2019).

"Melati cenderung lebih baru di level elite dibanding Praveen. Jadi tugas Praveen untuk membimbing Melati, untuk bisa menarik Melati ke atas supaya bisa jadi pasangan yang solid. Melati memang butuh kerja keras," Susy menambahkan.

Di sisi lain, Susy juga mengkritisi penampilan Melati. Peraih medali emas Olimpiade 1992 Barcelona itu meminta Melati untuk terus mengembangkan potensi.

"Melati harus bisa melatih diri supaya lebih gesit, lebih lincah, penguasaan lapangan harus diperbanyak. Pemain putri pasti diincar lawan kalau di ganda campuran," ungkap Susy.

"Paling tidak, Melati harus siap, jangan lengah, jangan tegang, jangan kaku. Hal ini sangat berpengaruh, kalau dicecar, lama-lama bikin salah terus, jadi nggak bisa keluar dari tekanan," sambungnya.

Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia Praveen Jordan yang berpasangan dengan Melati Daeva Oktavianti mengembalikan kok ke arah pebulu tangkis Taiwan Wang Chi-Lin dan Hsieh Pei Shan pada babak perempat final Piala Sudirman 2019 di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China, Jumat (24/5/2019). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Pasangan ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, saat menghadapi wakil China Taipei, Wang Chi-Lin/Hsieh Pei Shan, pada babak perempat final Piala Sudirman 2019 di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China, Jumat (24/5). [Antara/Wahyu Putro A]

Kekalahan di final Australia Open 2019 merupakan kekalahan kelima beruntun yang dialami Praveen/Melati dari Wang/Huang.

Praveen/Melati belum pernah berhasil mengalahkan pasangan ranking dua dunia itu.

Permainan cepat dan kematangan strategi yang diterapkan Wang/Huang membuat Praveen/Melati kewalahan. Mereka tidak bisa keluar dari tekanan demi tekanan dan sulit mengembangkan permainan.

"Praveen/Melati juga harus lebih cerdik menganalisa lawan. Misalnya (lawan) Wang/Huang, sudah lima kali kalah. Benar-benar harus dipelajari kekalahan sebelumnya. Misalnya banyak error, ya perlu ditingkatkan fokusnya, diperkuat defense-nya," ujar Susy.

"Kalau kami lihat kan pasangan China ini pintar. Mereka tidak pernah memberi bola ke atas pada Praveen. Nah Praveen tidak dapat serangan, sedangkan ini andalan dia," lanjutnya.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI yang juga menjabat sebagai Manajer Tim Indonesia di Sudirman Cup 2019, Susy Susanti di Hotel Century, Senayan, Jakarta, Sabtu (12/5/2019). (Suara.com/Arief Apriadi)
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI yang juga menjabat sebagai Manajer Tim Indonesia di Sudirman Cup 2019, Susy Susanti di Hotel Century, Senayan, Jakarta, Sabtu (12/5/2019). (Suara.com/Arief Apriadi)

Secara individu, Susy menilai Praveen/Melati memiliki potensi sebagai pemain ganda campuran top dunia.

Praveen/Melati yang kini duduk di peringkat tujuh dunia, beberapa kali mampu menghadang lawan yang memiliki peringkat lebih tinggi.

Praveen/Melati pun sudah memiliki cara tersendiri dalam menghadapi pasangan ranking satu dunia asal China, Zheng Siwei/Huang Yaqiong, yang terkenal sulit dikalahkan lawan-lawan mereka.

"Sebetulnya sayang, progresnya sudah ada, tinggal melewati batas ini, batas mereka bisa juara, rasa percaya diri mereka akan lebih tinggi," ungkap Susy.

"Kami tahu ada beberapa lawan yang mainnya kurang pas sama mereka. Misalnya yang mainnya cepat, mungkin agak enggak 'ngikut'," tukasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS