- PABKI mengukuhkan kepengurusan periode 2026–2030 dengan Brigjen Pol Victor Alexander Lateka sebagai Ketua Umum di Jakarta.
- Organisasi ini menaungi lebih dari 1.000 atlet dari 30 klub yang tersebar di 14 provinsi seluruh Indonesia.
- PABKI menargetkan pengakuan resmi dari KORMI dan KONI guna mentransformasi olahraga akurasi menjadi cabang olahraga prestasi nasional.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan dalam ekosistem olahraga akurasi di Indonesia.
Hingga kini, jaringan penggiat yang tergabung dalam PABKI telah berkembang di sedikitnya 14 provinsi dan 8 kabupaten/kota, dengan lebih dari 30 klub serta lebih dari 1.000 anggota di seluruh Indonesia.
Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan semakin masifnya edukasi dan pembukaan cabang-cabang baru di kota-kota besar.
Pengangkatan ketua umum dan pengurus pusat PABKI, kata dia, menjadi momentum penting untuk menyatukan komunitas olahraga akurasi bilah dan kapak dari berbagai daerah di Indonesia dalam satu arah pembinaan nasional yang lebih terstruktur, aman, dan berkelanjutan.
Penyatuan ini krusial untuk menghilangkan ego sektoral dan menyeragamkan standar keselamatan serta kompetisi di seluruh tanah air.
Victor menekankan, PABKI bukan hanya milik segelintir elite, melainkan milik seluruh anggotanya.
“Jadi, PABKI harus dibangun sebagai organisasi induk berskala nasional, bukan sekadar komunitas. PABKI harus jadi rumah bersama bagi seluruh atlet dan klub di berbagai daerah."
Target Strategis: Menuju KORMI, KONI, dan Dunia
Visi besar PABKI di bawah kepemimpinan baru ini sangat jelas: pengakuan negara secara utuh. Ke depan, PABKI menargetkan penguatan tata kelola organisasi serta mendorong olahraga akurasi bilah dan kapak masuk ke dalam struktur olahraga nasional, termasuk KORMI Nasional dan KONI, sebagai langkah menuju pengakuan dan jejaring induk organisasi olahraga dunia.
Bergabung dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), akan membuka pintu bagi para atlet untuk berlaga di ajang yang lebih prestisius, seperti Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) hingga Pekan Olahraga Nasional (PON).
Hal ini juga akan mempermudah akses terhadap pendanaan, fasilitas latihan, dan pembinaan atlet usia dini secara lebih terukur.
Untuk mencapai target ambisius tersebut, Victor menggarisbawahi pentingnya profesionalisme di setiap lini.
“Untuk menuju itu semua, saya ingin menegaskan, tak ada prestasi tanpa keselamatan. Organisasi tak akan besar tanpa tata kelola yang baik serta persatuan, disiplin, dan kerja nyata," kata Victor.