- Pebulu tangkis Thailand, Pitchamon Opatniputh, sukses melaju ke babak 16 besar Indonesia Open 2026 setelah mengalahkan wakil Vietnam.
- Kemenangan dua gim langsung diraih dalam waktu 35 menit berkat adaptasi cepat pemain terhadap kondisi angin di Istora Senayan.
- Pitchamon memuji atmosfer meriah suporter Indonesia di Jakarta yang dinilainya lebih berisik dibandingkan suasana kompetisi di Bangkok, Thailand.
Suara.com - Pebulu tangkis tunggal putri Thailand, Pitchamon Opatniputh, kembali merasakan magisnya atmosfer penonton saat berlaga di ajang bergengsi Indonesia Open 2026.
Tunggal putri yang akrab disapa Pink tersebut secara terang-terangan menyebut para suporter yang hadir langsung di Istora Senayan sangat menggemaskan.
Pujian itu dilontarkan sang atlet setelah sukses menumbangkan wakil Vietnam, Nguyen Thuy Linh, pada pertandingan babak 32 besar.
Atmosfer Istora Senayan Lebih Berisik dari Bangkok
Kemenangan meyakinkan atas wakil Vietnam pada Rabu (3/6/2026) memastikan langkah Pink menuju babak 16 besar turnamen BWF Super 1000 tersebut.
Bermain di hadapan ribuan penggemar bulu tangkis Indonesia selalu menghadirkan kenangan manis bagi gadis berusia 19 tahun itu.
Ia mengaku sangat menikmati setiap momen bertanding di Jakarta karena keramahan luar biasa yang ditunjukkan para pencinta bulu tangkis Tanah Air.
"Saya tahu laga selanjutnya akan sangat sulit, tetapi saya suka bermain di sini," kata Pink di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
"Saya suka dengan penggemar di Indonesia, mereka sangat menggemaskan."
Atmosfer di dalam arena pertandingan juga dinilainya jauh lebih meriah dibandingkan suasana kompetisi di negara asalnya.
"Di Indonesia itu sangat berisik, bahkan lebih berisik daripada Bangkok," ujar Pink.
"Dan itu juga menggemaskan."
"Mereka semua sangat menggemaskan," tambahnya, sebagaimana dikutip dari laman Djarum Badminton.
Kunci Kemenangan atas Nguyen Thuy Linh
Terkait jalannya pertandingan, pemain yang kini menduduki peringkat 24 dunia itu menang dua gim langsung dengan skor 21-8 dan 21-13.
Kemenangan atas pemain andalan Vietnam tersebut diraih hanya dalam waktu 35 menit.
Kondisi arah angin di dalam stadion rupanya menjadi salah satu faktor teknis yang membantunya mengendalikan ritme permainan sejak awal laga.
"Saya rasa, dengan kondisi lapangan yang berangin, di gim pertama lawan kesulitan mengendalikan laju kok."
"Sementara itu, saya dapat memanfaatkan kondisi tersebut dengan baik dan memenangi gim pertama."
Kesigapannya dalam beradaptasi dengan arah angin membuat perolehan poinnya melesat jauh meninggalkan sang lawan.
"Di sisi saya pada gim pertama itu lebih mudah untuk dikontrol, tetapi juga diperlukan waktu yang cepat untuk beradaptasi."
Realistis Menatap Turnamen BWF Super 1000
Istora Senayan juga pernah menjadi saksi perjalanan impresif Pink saat mencapai final Indonesia Masters 2026.
Kala itu, langkahnya harus terhenti di partai puncak setelah mengakui keunggulan tunggal putri China, Chen Yufei.
Kini, tampil di level turnamen yang lebih tinggi, Pink memilih bersikap realistis dan tidak membebani dirinya dengan target berlebihan.
"Ini Super 1000 saya yang kedua, dan kali ini saya akan berusaha memberikan performa terbaik."
"Saya tahu ini tidak mudah, levelnya tinggi, tetapi saya akan berusaha."