- Polytron Indonesia Open 2026 berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, pada 2-7 Juni 2026.
- Inovasi teknologi LED serta fasilitas pemain mendapat pujian tinggi dari Direktur Event BWF.
- Turnamen ini menjadi wadah regenerasi atlet muda Indonesia sekaligus barometer manajemen penyelenggaraan event bulu tangkis kelas dunia.
Suara.com - Badminton lovers boleh kecewa melihat para jagoan bulu tangkis tuan rumah pada akhirnya gagal menaiki podium juara di Polytron Indonesia Open 2026 pekan lalu. Namun, keriuhan dan semarak bulu tangkis yang membuncah di Istora Senayan, Jakarta, sepanjang 2-7 Juni lalu nyatanya tak bisa disembunyikan begitu saja dari sorotan dunia.
Meski Jonatan Christie dan pasangan ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin harus puas menjadi runner-up di rumah sendiri, gairah pecinta bulutangkis Indonesia tidak serta-merta surut. Di balik kekalahan di atas lapangan, turnamen ini justru mencatatkan kemenangan besar dalam hal manajemen prestasi dan regenerasi, serta inovasi teknologi untuk event bulu tangkis dunia yang lebih modern.
Mengusung tagline "Pride of the Nation", Polytron Indonesia Open 2026 menjelma menjadi 'laboratorium' inovasi bagi BWF yang akan melakukan transformasi besar dalam sistem turnamen mulai tahun depan.
Lewat perpaduan fasilitas kelas wahid di dalam dan luar lapangan, turnamen BWF World Tour Super 1000 ini bertransformasi menjadi sebuah pesta rakyat yang memanjakan lintas generasi—mulai dari anak-anak yang mengantre di booth Pokemon hingga orang tua yang bernostalgia di tribun Istora.
Bahkan setelah Jojo, sapaan akrab Jonatan Christie, takluk secara mengejutkan dari tunggal putra Kanada, Victor Lai di final, atmosfer di Istora Senayan tetap mendidih. Area permainan tetap penuh, dan sorak-sorai tidak berhenti hingga partai final ganda putra usai. Inilah standar baru yang membuat Direktur Event BWF, Selvaam Supramaniam, memberikan pujian setinggi langit.
![Ekspresi Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie usai dikalahkan tunggal putra Kanada Victor Lai pada pertandingan final Polytron Indonesia Open 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/07/92907-indonesia-open-2026-jonatan-christie.jpg)
"Selamat yang sebesar-besarnya kepada panitia penyelenggara dan PBSI karena telah menggelar turnamen yang luar biasa tahun ini. Polytron Indonesia Open, yang merupakan bagian dari HSBC BWF World Tour Super 1000, bahkan melampaui ekspektasi kami," ujar Selvaam dalam konferensi pers pasca turnamen di Istora Senayan, Jakarta, 7 Juni lalu.
Pujian tersebut bukan tanpa alasan. Kebisingan yang menjadi identitas Istora kembali menemukan bentuk terbaiknya. Kondisi ini membawa nuansa nostalgia bagi mantan pebulu tangkis ganda putra nomor satu dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo saat hadir di tengah kerumunan fans.
"Yang dikangenin dari Istora itu atmosfernya. Saking bisingnya sampai pukulan kok itu tak terdengar. Instruksi pelatih juga tak terdengar," kenang Kevin saat ditemui di booth Djarum Foundation pada Jumat (5/6/2026).
Ia juga mencatat perbedaan signifikan dibandingkan beberapa edisi sebelumnya. "Sekarang ini hampir sama, tahun-tahun lalu agak sepi. Sekarang mirip sama zaman saya main."
Daya pikat atmosfer Polytron Indonesia Open 2026 nyatanya tak hanya menyihir penonton lokal, tapi juga para pemain asing yang merasa sangat dihargai. Ng Ka Long Angus, tunggal putra Hong Kong keturunan Indonesia, menyebutkan bahwa kultur suporter Indonesia salah satu yang paling inklusif di dunia.
"Menurut saya, atmosfer secara keseluruhan di sini sangat, sangat bagus. Dengan penonton yang sangat bersemangat, selalu bersorak untuk semua pemain—bukan hanya untuk pemain Indonesia, tetapi juga pemain dari seluruh dunia," tutur Ng Ka Long Angus saat ditemui Suara.com di mixed zone Istora Senayan, Jakarta, 4 Juni lalu.
Tolok Ukur Turnamen Kelas Dunia
![Ketua Panitia Pelaksana Polytron Indonesia Open 2026 Achmad Budiharto. [Dok. Djarum Badminton]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/14/74055-achmad-budiharto.jpg)
Kembalinya marwah Istora ini merupakan buah manis dari strategi panitia pelaksana. Achmad Budiharto, selaku Ketua Panpel, menyebut tujuan utama menggelar Polytron Indonesia Open 2026 adalah untuk memberikan kebanggaan sekaligus kenyamanan total bagi atlet dan penggemar.
"Kita ingin memenuhi harapan pecinta bulu tangkis semuanya lewat kemudahan tiket, akses, dan sesuatu yang mengikat mereka untuk datang ke Istora," papar Achmad Budiharto dalam sesi konferensi pers pasca-turnamen.
Salah satu lompatan besar dalam turnamen ini adalah penerapan teknologi papan iklan Light Emitting Diode (LED) di pinggir lapangan—sebuah terobosan perdana dalam sejarah turnamen BWF di tanah air. Kreativitas ini diakui BWF sebagai referensi masa depan untuk penyelenggara di negara lain.
"Penggunaan LED, kreativitas di baliknya, sangat bagus. Bagi BWF, kami belajar banyak dari uji coba ini sehingga kami dapat mempersiapkan tuan rumah lainnya untuk apa yang akan datang di masa depan," tambah Selvaam.
Inovasi tersebut tidak hanya memanjakan mata penonton, tapi juga menyentuh aspek paling krusial bagi para 'gladiator' lapangan: fasilitas atlet. Kehadiran player lounge yang luas dan fasilitas kebugaran yang mutakhir menjadi alasan mengapa para pemain dunia merasa betah berlama-lama di sana.
Toma Junior Popov, tunggal putra Prancis, terang-terangan mengapresiasi peningkatan kualitas turnamen ini.
"Fasilitasnya semakin baik, organisasinya sangat bagus, dan ada banyak peningkatan. Sebagai pemain, kami merasa nyaman bermain di turnamen dengan kualitas penyelenggaraan seperti ini," puji Toma usai takluk dari Victor Lai di perempat final.
Ng Ka Long Angus bahkan merinci secara detail betapa mewahnya dukungan logistik di balik layar. Dari peralatan gym yang lebih lengkap hingga asupan nutrisi yang melimpah di player lounge.
"Saya melihat fasilitas di sini semakin maju. Kita memiliki peralatan gym, makanan, buah-buahan, dan ruang fisio. Ini semua adalah hal yang benar-benar dibutuhkan pemain sebelum dan sesudah pertandingan," ujar pebulu tangkis 31 tahun tersebut.
Ia juga terkesan dengan kedekatan atlet dan fans melalui rute masuk lapangan yang interaktif. "Kita bisa berjabat tangan, melakukan tos, dan melemparkan suvenir. Itu membuat kami merasa sangat dekat dengan penggemar."
Wadah Regenerasi
![Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin berpose dengan pialanya usai dikalahkan ganda putra Malaysia Goh Sze Fei/Nur Izzuddin pada final Polytron Indonesia Open 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/07/10077-indonesia-open-2026-raymond-indranikolaus-joaquin-raymondjoaquin.jpg)
Di sela gemerlap teknologi dan inovasinya, Polytron Indonesia Open 2026 tetap menjalankan fungsinya sebagai kawah candradimuka bagi manajemen prestasi dan regenerasi. Sektor ganda putra Indonesia menunjukkan napas baru lewat performa impresif Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
Meski gagal juara, keberhasilan pasangan muda ini menembus final Super 1000 adalah indikator positif. Begitu pula dengan kemunculan Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi yang memberikan perlawanan sengit di babak 16 besar.
Legenda ganda putra Indonesia, Sigit Budiarto, menegaskan bahwa kemunculan nama-nama ini harus segera diikuti oleh lapisan di bawahnya. "Selain Joaquin/Raymond, harus disiapkan regenerasi berikutnya. Di bawah mereka ada Devin/Fathir," tegas Sigit di sela-sela turnamen pada 5 Juni.
Namun, Kevin Sanjaya memberikan catatan penting bagi para juniornya. Menurutnya, melewati satu fase sebagai rising star barulah tantangan awal.
"Dari sisi umur mereka masih cukup muda dan sudah pernah merasakan juara, itu modal baik. Tapi tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola ekspektasi dan mentalitas untuk terus tampil konsisten. Itu yang lebih sulit," ujar eks pebulu tangkis yang dijuluki Si Tangan Petir itu.
Ironisnya, manajemen pembinaan Indonesia yang melegenda justru bertuah bagi pebulu tangkis asing, yakni Victor Lai. Tunggal putra Kanada itu keluar sebagai juara usai menumbangkan Jonatan Christie di partai final.
Atlet berusia 21 tahun tersebut secara jujur mengakui bahwa kemenangan besarnya atas Jojo di final tidak lepas dari sentuhan tangan dingin pelatih asal Indonesia.
"Pada 2016, saya datang ke Indonesia untuk berlatih dengan Coach Jeffer Rosobin. Jadi saya memiliki hubungan kuat dengan Indonesia. Banyak pemain di klub saya dan pelatih saya sekarang berasal dari Indonesia," ungkap Victor Lai dengan nada penuh hormat dalam konferensi pers usai laga final.
Keberhasilan Victor Lai, kemunculan Raymond/Joaquin, hingga standar fasilitas yang dipuji BWF, menjadikan Polytron Indonesia Open 2026 lebih dari sekadar turnamen berhadiah total Rp25 miliar. Ajang ini secara tak langsung menjadi barometer bagaimana sebuah turnamen BWF seharusnya dijalankan.
"Indonesia Open selalu berusaha untuk berbuat lebih baik daripada yang lain. Mereka meningkatkan standar dan mencoba sesuatu yang berbeda. Ini pertanda baik bagi masa depan bulu tangkis dunia," pungkas Selvaam Supramaniam.