- Mantan pebasket Romy Tanaka akan menggelar Seri 2 Season 3 Liga Antar Akademi Basket di Bogor pada Agustus 2026.
- Kompetisi usia dini ini melibatkan empat akademi untuk memperkuat ekosistem pembinaan dan menerapkan kurikulum modern serta sport science.
- Pembinaan usia dini harus fokus pada karakter, kedisiplinan, dan basketball IQ demi mencetak atlet pebasket elite masa depan.
Suara.com - Geliat bola basket Indonesia yang terus menunjukkan tren positif memicu menjamurnya akademi pembinaan usia dini di berbagai daerah.
Merespons antusiasme tersebut, mantan pebasket profesional Romy Tanaka Pattipeilohy siap menggelar Seri 2 Season 3 Liga Antar Akademi Basket 2026 di Kota Bogor.
Langkah ini menjadi wadah kompetisi sekaligus mendorong penerapan kurikulum modern dan sport science untuk mencetak generasi pebasket nasional masa depan.
Turnamen pembinaan bakat tersebut dijadwalkan berlangsung di lapangan Bucketlist, Taman Budaya Sentul, pada 1, 2, dan 8 Agustus 2026.
Kompetisi akan mempertandingkan sejumlah kategori kelompok umur, mulai dari KU-8 Mix, KU-10 Mix, hingga KU-12 dan KU-14 putra dan putri.
Kolaborasi untuk Perkuat Ekosistem Basket
![Eks Satria Muda Romy Tanaka gelar Liga Antar Akademi Basket 2026 di Sentul. Kompetisi fokus pada sport science, basketball IQ, dan pembinaan usia dini. [Dok. Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/30/50449-eks-satria-muda-romy-tanaka.jpg)
Empat akademi akan bersaing dalam kompetisi ini, yakni Thunderstorm Bogor selaku tuan rumah, Asaba Jakarta, Tamtelahitu Jakarta, serta Crossover Basketball sebagai tim undangan.
Romy Tanaka yang pernah membela Satria Muda, Pelita Jaya, dan Aspac Jakarta menegaskan bahwa kompetisi tersebut merupakan wujud kolaborasi dalam pembinaan.
"Melalui penyelenggaraan Seri 2 Season 3 Liga Antar Akademi Basket, kita semua berharap dapat menghadirkan kompetisi yang sehat sekaligus mempererat kolaborasi antar akademi dalam membangun ekosistem pembinaan bola basket Indonesia," kata Romy Tanaka.
Visi tersebut bermula dari reuni sederhana Romy bersama dua mantan rekannya di Citra Satria, Imanuel Beda Kelen dan Roland Andreyanto, pada awal 2020.
Dari diskusi tersebut, lahirlah Thunderstorm Basketball Akademi yang kini membina hampir 80 atlet muda dengan dukungan lima pelatih berlisensi.
Kualitas Pembinaan Jadi Sorotan
Mantan penggawa Timnas Indonesia di ajang Seaba U-22 1996 itu mengingatkan bahwa menjamurnya akademi harus diiringi peningkatan kualitas pembinaan.
Ekosistem basket nasional memang terus berkembang seiring kemajuan liga lokal IBL dan meningkatnya antusiasme penonton.
Namun, Romy menilai tidak semua akademi memiliki standar pembinaan yang memadai untuk mencetak atlet menuju level profesional.
"Yang membedakan bukan nama besar dan fasilitasnya saja, melainkan juga harus memperhatikan beberapa aspek seperti kurikulum latihannya, kualitas pelatihnya, filosofi latihan, jalur pengembangan dan termasuk juga dengan sport science," tegasnya.
Bagi jajaran pelatih, hasil menang atau kalah di turnamen kelompok umur bukanlah tujuan utama yang harus dikejar.
Bangun Karakter dan Basketball IQ
Pembinaan usia dini seharusnya berfokus pada menumbuhkan kecintaan anak terhadap olahraga sekaligus membentuk karakter dan kedisiplinan.
"Akademi tidak boleh hanya mengejar prestasi sesaat di turnamen usia dini," pesan Romy kepada para penggiat bola basket akar rumput di seluruh Indonesia.
Membangun fondasi teknik dasar yang benar serta meningkatkan kecerdasan bermain atau basketball IQ dinilai jauh lebih penting bagi masa depan atlet.
Jika aspek-aspek tersebut menjadi fokus bersama, Indonesia berpeluang memanen generasi pebasket elite yang siap bersaing di kancah internasional dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.