Suara Sumatera - Isu reshuffle Kabinet Indonesia Maju belakangan menyeruak. Kabar perombakan menteri tersebut pun sempat mendapat tanggapan Presiden Joko Widodo.
Di tengah rumor reshuffle kabinet, kabar menteri dari Partai NasDem bakal dievaluasi. Hal tersebut disampaikan Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat baru-baru ini.
Mendengar ucapan Djarot, Ketua DPP Partai Nasdem, Irma Suryani Chaniago buka suara.
Menurut Irma jika mantan pasangan Ahok itu sebaiknya tidak asal bicara terkait urusan evaluasi menteri.
Sebab, dua menteri Nasdem yakni Menteri Kehutanan, Siti Nurbaya, dan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, punya segelintir prestasi.
“Reshuffle adalah hak prerogatif Presiden. Sebaiknya Saiful Djarot jangan asal bunyi. Karena faktanya, dua menteri Nasdem yang dia minta dievaluasi adalah menteri-menteri yang punya prestasi," jelas Irma kepada wartawan dikutip dari Wartaekonomi.co.id--jaringan Suara.com, Sabtu (24/12/2022).
Ia mengungkapkan bahwa Kementerian Kehutanan di masa Siti Nurbaya mampu menekan angka kebakaran hutan.
Dampaknya, kata Irma, kualitas udara jauh lebih baik. Selain itu, penanaman mangrove pun semakin masif dilakukan dalam rangka mencegah abrasi.
"Lalu, coba lihat bagaimana beliau membagi dengan sangat baik mana hutan tanaman industri, hutan tanaman rakyat, dan mana yang hutan lindung dengan tegas dan jelas," jelas dia.
Baca Juga: Hari Ini 18 Tahun Tsunami Aceh, Lokasi Kuburan Massal Sirion Jadi Pusat Peringatan
Irma mengungkapkan, Siti Nurbaya juga disebut telah melakukan kinerja yang sangat baik dengan memberi sanksi-sanksi tegas terhadap pelanggar ketentuan pemerintah terkait penggunaan lahan.
Sebanyak jutaan hektare hutan yang selama ini lepas ke tangan orang-orang yang hanya menguntungkan oknum-oknum tertentu kini dapat dikelola dengan baik oleh pemerintah.
Sementara itu, Irma menyatakan, Syahrul Yasin Limpo dinilai Irma mampu menjaga nilai pertanian di masa pandemi Covid-19.
"Mana ada kementerian yang tumbuh di era pandemi kecuali Kementerian Pertanian," jelasnya.
Lebih lanjut, Irma juga meminta Djarot untuk melihat data mengenai impor beras. Hal ini dikarenakan selama ini Syahrul selalu menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu impor karena stok beras di petani sudah cukup.
Sebelumnya, Djarot meminta agar dua menteri dari Nasdem untuk bisa dievaluasi.