TANTRUM - Interaksi sesama anggota keluarga pada masa kini dipastikan sangat minim dilakukan. Penyebabnya adalah rutinitas kesibukan yang tiada henti di luar rumah.
Hal itu memicu para orang tua untuk menyisihkan waktu yang sempit dengan harapan terjadi interaksi berkualitas.
Menurut psikolog anak yang merupakan Co - Founder Children Cafe Nuri Indira Dewi, untuk mengoptimalkan waktu sempit untuk interaksi berkualitas, tidak hanya hanya orang tua yang harus mengatur waktunya. Nuri menjelaskan anak juga perlu diajarkan mengatur waktunya.
"Kedua orang tua memiliki kegiatan dan kewajiban sendiri misalnya bekerja. Begitu pula anak-anak, misalnya sekolah, les, bermain, dan lainnya. Apabila waktunya tidak diatur maka dapat mengurangi frekuensi maupun intensitas interaksi antara orang tua dan anak," ujar Nuri ditulis Bandung, Selasa, 24 Mei 2022.
Nuri mengatakan dengan pengaturan waktu, anak-anak memiliki struktur yang membuat mereka lebih mudah memperkirakan apa yang akan terjadi.
Nuri menuturkan kemampuan merencanakan, memprediksi, hingga mengantisipasi, membuat anak - anak tahu apa yang diharapkan dari mereka dan perilaku apa yang dapat mereka tampilkan.
Alasan lainnya lanjut Nuri, kemampuan mengatur waktu sejak awal dapat membuat anak - anak menjadi orang dewasa yang efisien dan lebih terorganisir.
Keterampilan mengatur waktu tersebut kata Nuri, sudah bisa diajarkan sejak kecil yaitu dengan membuat jadwal harian (daily routine).
Nuri mengaku untuk membantu anak - anak mengatur waktunya, terdapat delapan cara sederhana dalam pelaksanaannya yang harus diketahui para orang tua.
Pertama, buatlah daftar kegiatan harian anak mulai dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur kembali di malam hari.
"Letakkan di tempat yang mudah dilihat anak," ujar Nuri.
Cara yang kedua, anak-anak usia batita yang belum mengenal huruf dan angka bisa dibuatkan jadwal dalam bentuk gambar.
Misalnya, waktu makan diwakili dengan gambar piring dan sendok, waktu mandi dengan gambar sabun dan shampoo, waktu bermain dengan gambar boneka atau mobil-mobilan. Cobalah menempelkannya di dinding kamar secara berurutan.
Anak - anak usia batita sudah diketahui belum perlu diajari tentang konsep jam, misalnya jam 1, jam 12 dan seterusnya. Namun, tidak ada salahnya menyebutkan range waktu untuk kegiatan tertentu.
"Misalnya, sambil menunjukkan gambar piring dan sendok kita dapat mengatakan, 'Sekarang kita akan makan, waktunya 20 menit ya' atau 'Adek, kita punya 1 jam untuk bermain bebas, yuk pilih mau main apa', sambil menunjukkan gambar boneka atau mobil-mobilan," tutur Nuri.
Cara ketiga adalah selalu sebutkan nama kegiatannya setiap kali pergantian waktu. Misalnya dengan menunjukkan gambar jadwal yang terpasang di dinding.
Contohnya dengan mengatakan "Karena kamu sudah selesai mandi, sekarang kita bisa sarapan deh”.
Untuk cara keempat bisa dilakukan agenda rutin (daily routine) dengan konsisten, baik urutannya maupun durasinya. Agar anak tidak bosan, cara kelima yang dilakukan oleh orang tua yaitu memvariasikan kegiatannya.
"Namun jangan mengubah urutannya. Misalnya jika kita sudah menentukan setelah mandi, anak bisa makan, baru bermain. Maka berikan pilihan yang berbeda-beda saat bermain. Misalnya hari ini bermain peran, besok bermain play dough, hari berikutnya boleh bermain bola. Tetapi harus diingat, bermain tetap dilakukan setelah anak selesai makan," jelas Nuri.
Untuk anak-anak yang lebih besar yang sudah mengenal huruf, cara lainnya dapat diberikan jadwal harian dalam bentuk tulisan dan kombinasi gambar, dan mengajak anak ikut menyusun jadwal mereka.
Apabila ada perubahan jadwal yang tiba-tiba, cara selanjutnya segera informasikan ke anak mengapa jadwalnya berubah dan katakan bahwa besok akan kembali lagi seperti semula.
Jika memang sudah ada rencana kegiatan lain dari jauh-jauh hari, anak bisa diberi tahu sejak beberapa hari sebelumnya.
Terakhir, kalau ibu bekerja maka bisa maksimalkan di morning activity.
"Selalu bangun 15-30 menit lebih awal agar bisa menyiapkan segala sesuatu sebelum anak sekolah, misalnya mandi lebih dulu, menyiapkan air hangat untuk anak mandi, sarapan, seragam, dan sebagainya. Sarapan bersama dan mengantar anak ke sekolah juga bisa dimanfaatkan untuk ngobrol dengan anak," kata Nuri.