TANTRUM - Pekerja swasta di Kota Bandung menjadi kelompok paling tinggi terpapar oleh HIV sebanyak 31.01 persen setara dengan 1.842 kasus.
Peringkat paparan HIV itu disusul oleh kelompok wiraswasta 15 persen, ibu rumah tangga 11,8 persen setara 653 kasus dan mahasiswa 6,97 persen atau setara 414 kasus.
Besaran angka itu dari jumlah total 5.943 orang berdomisili sebagai warga Kota Bandung. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, terdapat 4.000an warga lainnya yang ikut serta memeriksakan HIV di Kota Bandung.
"Database dari Kemenkes di Kota Bandung yang tes HIV ada 10.800 orang. Kan pelayanan tes HIV ini menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) yang asli warga Bandung 6.000an. Sisanya akan kita sisir lagi," ujar Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung Sis Silvia Dewi saat dihubungi, ditulis Sabtu, 27 Agustus 2022.
Silvia mengatakan data itu merupakan akumulasi jumlah kasus dari tahun 1991 - 2021. Dalam periode itu, tiap tahunnya ditemukan 300 - 500 kasus paparan HIV.
Silvia menyebutkan jika dilihat paparan kelompok usia, sebanyak 45 persen usia produktif warga Kota Bandung yaitu 20 - 29 tahun terkena paparan HIV.
"Untuk usia 30-39 tahun 34 persen dan 2,7 persen atau setara 164 orang di rentang usia 0-14 tahun anak terpapar HIV saat ibu hamil," kata Silvia.
Diketahui pula dalam temuan kasus tersebut, pemicu terbanyak terjadinya penyebarluasan HIV adalah dari hubungan heteroseksual atau perilaku seksual berisiko hampir 40 persen.
Angka paparan melalui hubungan heteroseksual tersebut tiap tahun mengalami kenaikan. Pasalnya masih banyak warga yang kurang menyadari pentingnya datang ke fasilitas kesehatan untuk memeriksa HIV.
Baca Juga: Ketua Federal Reserve Pidato Soal Inflasi, Harga Emas Turun 1,22 Persen
"Pemeriksaan HIV penting agar tidak menular ke orang lain, apalagi ke pasangan hidup. Dengan memeriksakan diri, maka paparan HIV akan berhenti di pengidap saja," jelas Silvia.
Silvia menerangkan tidak adanya gejala awal yang dirasakan oleh pengidap HIV menjadi faktor lain pengidap beresiko menularkan kembali kepada orang lain atau bahkan pasangannya.
"Yang jadi sedih itu kan HIV/AIDS itu kan terutama HIV-nya enggak ada gejala tuh, jadi banyaknya orang yang kena HIV tidak tahu kalau dia kena HIV. Akhirnya orang yang tertular ga sadar kalau ada ibu rumah tangga tertular lalu hamil akhirnya punya anak yang positif," ungkap Silvia.
Namun, berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya sebut Silvia, paparan tertinggi HIV yaitu akibat menggunakan alat atau jarum suntik yang tidak steril.
Seperti diketahui banyak pengidap HIV akibat penggunaan tidak steril jarum suntik. Jumlahnya hampir 40 persen, tetapi sekarang menurun 30, 9 persen.