3. Povidone iodine
Povidone iodine, atau yang biasa terkandung dalam betadine, bisa digunakan sebagai cairan pembersih untuk luka terbuka, seperti luka gigitan, tusukan, dan luka tembak.
Beberapa studi juga membuktikan cairan ini bisa digunakan untuk perawatan luka operasi dan menurunkan risiko infeksi pada jenis luka tersebut.
Pasalnya, cairan ini memiliki fungsi antimikroba yang bisa mencegah penyebab infeksi, seperti bakteri Staphylococcus aureus (S. aureus), dermatophytes, jamur, dan virus.
Meski begitu, povidone iodine tidak cocok untuk menangani luka kronis karena tidak boleh digunakan lebih dari tujuh hari.
Agen sitotoksik pada povidone iodine pun dapat memperlambat waktu penyembuhan. Bukan cuma itu, cairan ini juga bisa menyebabkan iritasi, kering, dan perubahan warna kulit. Kelenjar tiroid pun bisa terdampak akibat penggunaan cairan ini.
4. Hidrogen peroksida (H2O2)
Hidrogen peroksida (H2O2) atau hydrogen peroxide bisa digunakan sebagai cairan yang ampuh untuk membersihkan kotoran dan jaringan nekrosis yang ada pada permukaan luka.
Namun, cairan ini tidak dapat digunakan sendiri karena harus dibilas dengan saline setelahnya. Saat ini, H2O2 juga sudah jarang digunakan sebagai cairan pembersih luka.
Ini karena H2O2 bisa menghambat proses penyembuhan dan penutupan luka. Cairan ini juga tidak dapat digunakan untuk membersihkan luka di sekitar saluran sinus.
5. Asam asetat atau asam cuka
Berdasarkan studi dalam jurnal Indian Journal of Plastic Surgery, asam asetat atau asam cuka paling tepat digunakan untuk membersihkan luka dari bakteri, seperti S. aureus, MRSA, dan Pseudomonas aeruginosa.
Cairan ini juga bisa membantu mempercepat proses penyembuhan. Akan tetapi, asam asetat bisa menimbulkan rasa perih saat luka dibersihkan.
6. Octenidine
Cairan octenidine bisa digunakan untuk membersihkan luka pada permukaan kulit, kecuali luka yang dekat dengan saluran sinus.