Suara Tasikmalaya.id - Pusat oleh-oleh khas Tasikmalaya dan Ciamis ternyata ada di Desa Pamokolan Kecamatan Cihaurbeuti Ciamis. Kenapa bisa begitu? Sebab hampir 70 persen pasokan makanan olahan untuk keperluan lebaran dipasok dari daerah ini.
"Mekipun kami di Ciamis para UKM makanan olahan ini memasok kebutuhan oleh-oleh khas Tasikmalaya, apalagi jarak desa kami lebih dekat ke Tasikmalaya ketimbang ke Ciamis," tandas Ketua Asosiasi Makanan Olahan (AIKMA) Priangan Timur Rahmat Wangsatamaja kepada Suara Tasikmalaya Rabu (29/05/2023)
UKM di Desa Pamokolan memproduksi beragam jenis kue kering dan oleh oleh khas ada sekitar 600 jenis kue lebaran dan makanan ringan. Diantaranya seroja, semprong, wajit, comring dan lain lain.
Jadi Desa Pamokolan ini bisa dibilang sebagai salah satu pusat Usaha Kecil Menengah (UKM) makanan olahan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Warga desa itu sudah melakukannya sejak puluhan tahun lalu secara turun temurun. Mereka sukses-sukses meski tak harus sekolah tinggi dan bantuan dari pemerintah.
Aneka makanan yang diproduksi warga adalah, kue pilus, kue semprong bolu, saroja dan aneka makanan khas Ciamis lainnya. Sedangkan jaringan pemasarannya meliputi wilayah
Sebut saja H Opon warga Kampung Pasajen Desa Pamokolan dia adalah pemasok aneka kue kering untuk wilayah Priangan Timur. Dia memulianya dari awal. Dari hanya membawa ima bungkus aneka kue lima bungkus dengan keliling, hingga kini punya sebuah grosir oleh oleh di Kecamatan Ciawi dan Sindangkasih. Kini omzet perbulannya mencapai Rp 700 juta. Padahal dia tak pernah lulus SD.
“Dagang itu ilmunya adalah pengalaman, bukan banyak teori. Anak-anak sekarang mah ngakunya sarjana ekonomi tahu ilmu pemasaran tapi prakteknya nol besar,” kata dia.
Bukan hanya H Opon, pemilik Rumah Makan Mie Baso SR di Jalan Layang Rajapolah-Tasikmalaya itu berasal dari Desa Pamokolan. Ya, namanya H Odin Saefudin, dia adalah perajin sistik dan semprong. Punya pabrik yang memperkerjakan 400 karyawan. Sukses di bidang makanan ringan H Odin memperluas jaringan bisnisnya dengan membuka rumah makan bakso yang tersebar di Ciamis dan Tasikmalaya. “Saya juga tidak sekolah tinggi, sebab dagang itu adalah pengalaman dan keberanian,” katanya.
Ketika ditanya Omzet, dengan nada merendah H Odin mengatakan tidak ada apa-apanya dibanding pengusaha kuliner lain. Namun dia tak mengelak ketika disebutkan angka satu miliar perbulan. “Ya memang kadang sampai di angka segitu,” katanya. Bisa jadi memang omzetnya satu miliar sebab bidang usahanya sekarang sudah besar. Selain rumah makan juga ada travel wisata.
Baca Juga: Marc Klok Puas Timnas Indonesia Tak Kalah dari Burundi, Puji Perkembangan Garuda
Ternyata modal mereka untuk sukses adalah kerja keras dan keberanian. Disamping doa. Para pelaku UKM di Desa Pamokolan juga sangat mandiri, sebab tak pernah dibantu oleh bank dan pemerintah. Sebab biasanya pemerintah hanya bisa menjual atau mengatasnamakan UKM saja untuk kepentingan pribadi. “Misalnya ada bantuan ya disunatdinas oleh orang kecamatan dan , pinjaman lbank pun kecil dan banyak aturannya,” kata Acep salah seorang perajin bolu.
Memang benar adanya, pelaku UKM di Desa Pamokolan tersebut mandiri. Mereka lebih rela menjual sawah untuk modal daripada pinjam ke bank dengan bunga tinggi. Menngenai bantuan UKM dari pemerintah Kabupaten Ciamis, perajin di Pamolan tak pernah mengaksesnya. “Saya menganggap bantuan itu kotor, orang dinas sering minta bagian. Sampai saat ini saya tak percaya dengan orang dinas,” kata Enceng. (der)