SUARA TASIKMALAYA – Tradisi ziarah kubur memang sudah melekat dengan masyarakat Indonesia.
Tidak hanya melakukan ziarah terhadap sanak keluarga yang sudah wafat, masyarakat juga biasanya berziarah ke makam-makam tokoh Islam.
Dalam bahasa Arab, ziarah diartikan dengan mengunjungi. Jadi ziarah bukan hanya mengunjungi orang yang wafat saja, tetapi juga mereka yang masih hidup.
Zaman dahulu Rasulullah SAW pernah melarang umatnya untuk melakukan ziarah, karena keimanan mereka yang masih lemah, serta pada saat itu terdapat tradisi kaum jahiliyah yang ditakutkan akan mempengaruhi umat-umatnya.
Akan tetapi, setelah Islam meluas dan keimanan umatnya menguat, Rasulullah SAW memperbolehkan umatnya untuk berziarah kubur, dengan tujuan agar mengingat kematian.
Jadi, dalam Islam ziarah kubur itu hukumnya sunnah.
Meski begitu, tetap saja ada hal-hal yang dilarang untuk dilakukan oleh umat muslim ketika berziarah.
1. Berdoa kepada kuburan
Rasulullah SAW pernah melarang umat Islam pada saat itu untuk berziarah kubur, karena masih lemahnya keimanan yang mereka miliki.
Larangan tersebut kemudian dicabut oleh Rasulullah SAW, setelah Islam berkembang lebih besar serta keimanan umatnya yang meningkat.
Larangan Rasulullah SAW ini bermula dari tabiat kaum jahiliyyah yang saat itu memohon bahkan berdoa kepada kuburan.
Padahal berdoa dan memohon sesuatu harusnya dilakukan kepada Allah SWT, hal ini bisa termasuk ke dalam perbuatan syirik.
2. Memberikan sesembahan pada kuburan
Kita dilarang untuk memberikan sesembahan kepada kuburan, baik itu sesajen, sembelihan hewan, dan lain sebaginya.
Tradisi ini sudah ada sejak zaman jahiliyyah, di mana saat itu mereka memberikan tumbal pada kuburan yang dianggap sebagai penunggu.
Tradisi ini diharamkan oleh Allah SWT, seperti yang tertulis dalam QS. Al-Jin ayat 6 dan QS. Al-An’aam ayat 128.
3. Duduk dan berdiri di atas kuburan
Ketika berziarah kubur, tak jarang kita menemui orang-orang yang duduk, berdiri, bahkan berjalan di atas kuburan orang lain.
Padahal ketika berziarah kubur, kita hanya diperbolehkan berjalan di samping atau diantara pusaran kuburan.
Adapun dalam sebuah hadist dijelaskan, mereka yang masih duduk atau berdiri di atas kuburan bagaikan sedang berjalan di atas bara api. (*)