Studi: Kawasan Arab Tak Lagi Bisa Didiami Manusia pada 2100

Liberty Jemadu

Selasa, 27 Oktober 2015 | 14:55 WIB
Studi: Kawasan Arab Tak Lagi Bisa Didiami Manusia pada 2100
Ribuan jemaah haji di Mina, Arab Saudi (Reuters/Ahmad Masood).

Suara.com - Teluk Persia, kawasan yang menjadi rumah bagi sejumlah negara Arab, diperkirakan tak lagi bisa didiami oleh manusia pada tahun 2100. Alasannya karena satu abad dari sekarang suhu dan kelembaban udara di kawasan itu sudah meningkat drastis, sehingga tak mampu diatasi oleh tubuh manusia.

Menurut sebuah riset yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, emisi gas rumah kaca akan membuat kawasan Teluk sangat panas pada 2100 sehingga tubuh manusia normal tak lagi mampu menahannya.

Lazimnya ketika panas, tubuh manusia akan mengeluarkan keringat untuk mendinginkan tubuh. Tetap di Teluk, 100 tahun dari sekarang, suhu panas dan kelembaban udara akibat uap air dari lautan yang lebih hangat akan membuat manusia tak lagi mampu mendinginkan tubuh secara alami.

Kondisi ini akan mengancam nyawa mereka yang bekerja di luar ruangan seperti petani, mereka yang tinggal di dalam rumah tanpa pendingin udara, kaum miskin, bahkan pelaksanaan ibadah haji.

"Hasil studi kami menunjukkan adanya titik panas di kawasan itu, yang tampaknya berdampak besar pada kemampuan manusia untuk hidup (di kawasan itu) di masa depan," tulis Jeremy S. Pal dari Loyola Marymount University dan Elfatih A.B. Eltahir dari Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, yang menggelar riset tersebut.

Seratus Tahun Lebih Cepat

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa perubahan iklim gobal akan menaikan suhu udara ke tingkat yang tak mampu diatasi oleh tubuh manusia dalam 200 tahun ke depan. Tetapi riset baru Pal dan Eltahir menemukan bahwa kondisi ekstrem itu akan datang 100 tahun lebih cepat.

Dalam riset itu mereka menggunakan pemodelan komputer untuk meprediksi perubahan cuaca global. Mereka melandaskan model itu pada tren pemanasan dan perubahan cuaca dunia saat ini.

Analisis mereka didasarkan pada metode penghitungan kondisi atmosfer yang dikenal dengan nama "suhu wet-bulb". Menurut Eltahir, suhu wet-bulb biasanya digunakan untuk mengukur kondisi, sejauh mana penguapan dan aliran udara bisa mengurangi suhu sebuah objek.

Yang dihitung dalam pengukuran suhu wet-bulb adalah suhu dan kelembaban udara. Suhu wet-bulb selalu lebih rendah dibandingkan dengan suhu udara yang dihitung menggunakan termometer biasa (dry bulb).

Menurut Eltahir, tubuh manusia hanya bisa bertahan dalam kondisi suhu wet-bulb di bawah 95 derajat Farenheit (35 derajat Celcius). Jika terpapar suhu wet-bulb di atas 95 derajat Farenheit maka efeknya akan "cukup mematikan."

Ancam Ibadah Haji

Eltahir memperkirakan suhu wet-bulb di atas 95 derajat Farenheit akan terjadi satu kali setiap 10 atau 20 tahun ke depan. Adapun gelombang panas yang berlangsung pada Juli kemarin, yang menewaskan ribuan orang di India, sudah mencapai 94,3 derajat Farenheit.

Dalam studinya Eltahir secara khusus memperingatkan bahwa kenaikan suhu ekstrem ini akan mengancam penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi, yang sebagian besar ritualnya berlangsung di luar ruangan.

"Ritual wajib umat Islam ini, yang digelar di luar ruangan, akan sangat mengancam kesehatan manusia," tulis para peneliti.

Sebelumnya dalam penelitian di 2010, ilmuwan bernama Steven Sherwood memperkirakan bahwa sebagian kawasan di dunia tak akan lagi bisa didiami manusia dalam 200 tahun ke depan. Kondisi itu, jelas dia tak akan terhindarkan jika manusia tak segera mengurangi penggunaan bahan bakar berbasis fosil, salah satu komoditas utama negara-negara Arab. (New York Times)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Dalai Lama: Perubahan Iklim Lenyapkan Dua Pertiga Gletser Tibet

Dalai Lama: Perubahan Iklim Lenyapkan Dua Pertiga Gletser Tibet

Tekno | Selasa, 20 Oktober 2015 | 18:46 WIB

Studi: Manusia Sudah Babat Separuh Pohon di Bumi

Studi: Manusia Sudah Babat Separuh Pohon di Bumi

Tekno | Jum'at, 04 September 2015 | 08:44 WIB

Waspadalah! Permukaan Laut Naik 8cm Sejak 1992

Waspadalah! Permukaan Laut Naik 8cm Sejak 1992

Tekno | Kamis, 27 Agustus 2015 | 06:47 WIB

Juli 2015 Tercatat Sebagai Bulan Terpanas Sejak Tahun 1880

Juli 2015 Tercatat Sebagai Bulan Terpanas Sejak Tahun 1880

Tekno | Jum'at, 21 Agustus 2015 | 12:57 WIB

Gelombang Panas Tewaskan 21 Warga Mesir

Gelombang Panas Tewaskan 21 Warga Mesir

News | Selasa, 11 Agustus 2015 | 07:53 WIB

Gelombang Panas Landa Sebagian Eropa

Gelombang Panas Landa Sebagian Eropa

News | Senin, 10 Agustus 2015 | 07:21 WIB

Ratusan Warga Slovakia Pingsan Akibat Gelombang Panas

Ratusan Warga Slovakia Pingsan Akibat Gelombang Panas

News | Minggu, 09 Agustus 2015 | 08:09 WIB

Gelombang Panas Pakistan 'Bunuh' 800 Orang

Gelombang Panas Pakistan 'Bunuh' 800 Orang

News | Kamis, 25 Juni 2015 | 17:49 WIB

Gelombang Panas Tewaskan 400 Orang, Akankah Hujan Menolong?

Gelombang Panas Tewaskan 400 Orang, Akankah Hujan Menolong?

News | Selasa, 23 Juni 2015 | 15:52 WIB

Januari-Mei 2015 Adalah Bulan Terpanas dalam 130 Tahun Terakhir

Januari-Mei 2015 Adalah Bulan Terpanas dalam 130 Tahun Terakhir

Tekno | Selasa, 23 Juni 2015 | 15:47 WIB

Terkini

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 00:09 WIB

Pengendara Harap Bersiap, Dishub Bogor Terapkan Pengalihan Arus di Sukaraja Besok

Pengendara Harap Bersiap, Dishub Bogor Terapkan Pengalihan Arus di Sukaraja Besok

Bogor | Selasa, 22 September 2026 | 23:29 WIB

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:19 WIB

Hujan Turun di Palembang, Apakah Kabut Asap Benar-Benar Hilang?

Hujan Turun di Palembang, Apakah Kabut Asap Benar-Benar Hilang?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 23:15 WIB

Harga Timah Tembus US$54.250, Kenapa Komoditas Ini Makin Diburu Dunia?

Harga Timah Tembus US$54.250, Kenapa Komoditas Ini Makin Diburu Dunia?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 23:02 WIB

Janjian Balap Liar via WhatsApp, 4 Pemuda Diamankan Polres Cianjur

Janjian Balap Liar via WhatsApp, 4 Pemuda Diamankan Polres Cianjur

Jabar | Selasa, 22 September 2026 | 23:01 WIB

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:00 WIB

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 22:45 WIB

Bupati Askolani Sebut Bimtek Kepsek Ilegal, Kok Bisa Berujung OTT Polda Sumsel?

Bupati Askolani Sebut Bimtek Kepsek Ilegal, Kok Bisa Berujung OTT Polda Sumsel?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 22:40 WIB

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

Video | Selasa, 22 September 2026 | 22:10 WIB

×