5 Cara Media Sosial Merusak Demokrasi

Liberty Jemadu

Senin, 29 Januari 2018 | 17:26 WIB
5 Cara Media Sosial Merusak Demokrasi
Ilustrasi akun Facebook (Shutterstock).

Suara.com - Facebook pada pekan lalu mengakui bahwa media sosial memiliki potensi merusak demokrasi. Pengakuan itu diutarakan setelah Facebook dan Twitter terbukti menjadi alat Rusia untuk mengadu domba masyarakat dalam pemilihan umum di Amerika Serikat dan referendum di Inggris pada 2016 silam.

Salah satu bukti kesuksesan Rusia dalam memanfaatkan Facebook untuk merusak demokrasi terlihat di Houston, Texas, pada 21 Mei 2016 lalu. Ketika itu ada dua kelompok yang berseberangan melakukan demonstrasi di waktu dan tempat yang sama.

Dua demonstrasi itu bermula dari sebuah undangan di Facebook dari sebuah kelompok bernama "Heart of Texas". Kelompok itu mengajak orang-orang untuk berdemonstrasi untuk memperjuangkan kampanye "Stop Islamisasi Texas".

Undangan serupa juga datang dari kelompok lain bernama "United Muslims of America". Isinya mengajak pendukungnya untuk berdemonstrasi dengan slogan "Selamatkan Wawasan Islam".

Belakangan diketahui bahwa dua kelompok itu diciptakan oleh agen-agen Rusia di Facebook. Tujuannya adalah untuk memicu perpecahan dan bentrokan di tengah masyarakat.

Dalam sebuah artikel di blog resmi Facebook pada 22 Januari lalu, kepala bidang hubungan masyarakat sipil Facebook, Samidh Chakrabarti, mengakui kelengahan pihaknya untuk mengantisipasi permainan agen-agen Rusia tersebut.

Chakrabarti kemudian memperingatkan bahwa ada lima cara media sosial, termasuk Facebook, bisa merusak demokrasi. Ia mengungkap hal ini agar para pengguna bisa lebih waspada dalam menggunakan media sosial.

1. Campur tangan asing
Chakrabarti menulis bahwa pada 2016, di tengah panasnya kondisi politik AS jelang pemilihan presiden, agen-agen Rusia membuat laman-laman Facebook palsu untuk memengaruhi sentimen dan mengadu domba publik.

"Mereka menggunakan media sosial sebagai senjata informasi," tulis Chakrabarti.

Untuk mencegah hal itu terulang lagi, Facebook kini membuat politik lebih transparan di media sosialnya. Semua pengguna kini bisa memeriksa laman atau akun dari mereka yang beriklan politik di Facebook, agar maksud dan tujuan mereka bisa diketahui.

2. Hoax
Kabar bohong atau hoax kini jadi momok di media sosial. Facebook mengakui bahwa Hoax bisa memiliki konsekuensi yang fatal.

Seorang politikus perempuan Muslim di Australia pernah menjadi korban hoax pada 2017 lalu. Anne Aly, perempuan Muslim pertama yang menjadi anggota parlemen Australia itu disebut menolak untuk meletakan karangan bunga di monumen perjuangan.

Hoax ini menyebabkan banyak orang menulis komentar negatif di akun Facebook sang anggota parlemen.

Facebook sendiri berusaha mengatasi penyebaran hoax dengan mempermudah pengguna untuk melaporkan kabar bohong dan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk menyisir kabar bohong di platformnya.

3. Ruang gema
Salah satu risiko yang paling berbahaya dari media sosial adalah ruang-ruang gema atau echo chambers. Ruang gema diakui Facebook sebagai salah satu faktor yang membuat publik terpecah-belah.

Di media sosial seperti Facebook, orang akan diberikan informasi yang sesuai dengan pandangannya yang sudah dipercayainya saja. Ia akan diarahkan untuk bergabung dengan kelompok-kelompok yang memiliki pandangannya yang sama dengannya.

Pengguna seperti berada di dalam sebuah ruangan tertutup, yang di dalamnya ia dihantam bertubi-tubi oleh informasi-informasi yang hanya akan memperkuat keyakinannya - tanpa memberinya kesempatan untuk menengok atau mendengar informasi lain yang lebih beragam.

Alhasil pengguna akan sukar menerima pandangan lain dan bahkan menolak untuk menerima pandangan yang berseberangan, tak peduli itu benar atau salah. Fenomena ini dalam ilmu sosial disebut sebagai bias konfirmasi.

Untuk mengatasi bahaya ini, Facebook telah menguji sebuah fitur bernama "Related Articles" yang berfungsi untuk menawarkan informasi yang lebih beragam kepada pengguna.

4. Pelecehan politik
Meski media sosial sering disebut sebagai ruang publik baru yang lebih demokratis, tak jarang ia menjadi tempat di mana suara-suara kritis dibungkam atau diserang.

Menurut Facebook di beberapa negara, warga yang mengkritik lewat media sosial justru ditangkap oleh polisi. Ini adalah salah satu contoh bagaimana Facebook justru disalahgunakan oleh negara.

Contoh lain dari pelecehan politis dalam media sosial adalah ujaran kebencian. Media sosial kini banyak digunakan untuk menyerang orang-orang yang berbeda pilihan politik dengan ujaran kebencian dan bahkan ancaman.
 
5. Ketidaksetaraan
Meski media sosial justru mendorong kesetaraan antara berbagai kelompok di ruang publik, tetapi perempuan justru masih kurang melibatkan diri dalam dialog politik di Facebook.

Hal ini berbahaya menurut Facebook, karena para politikus akhirnya tak akan bisa menangkap aspirasi publik secara lengkap dan seimbang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ketika Perhatian Publik Berpindah, Siapa Mengawal Penyelesaiannya?

Ketika Perhatian Publik Berpindah, Siapa Mengawal Penyelesaiannya?

Your Say | Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:59 WIB

Catatan Eks Tapol Demo Agustus: 81 Tahun RI dan Kemerdekaan yang Belum Dinikmati Seutuhnya

Catatan Eks Tapol Demo Agustus: 81 Tahun RI dan Kemerdekaan yang Belum Dinikmati Seutuhnya

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:00 WIB

HUT RI, Mahasiswa UGM Turunkan Bendera Setengah Tiang: 81 Tahun Merdeka atau Menderita?

HUT RI, Mahasiswa UGM Turunkan Bendera Setengah Tiang: 81 Tahun Merdeka atau Menderita?

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:11 WIB

2026 Is the New 2016, Mengapa Gen Z Kangen Internet yang Dulu?

2026 Is the New 2016, Mengapa Gen Z Kangen Internet yang Dulu?

Your Say | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 15:20 WIB

Kisah di Balik Video Viral Kakek Roy Kebingungan di Halte Cawang Transjakarta

Kisah di Balik Video Viral Kakek Roy Kebingungan di Halte Cawang Transjakarta

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:37 WIB

Hadapi Demokrasi Mahal dan Krisis Iklim, DPD Usung Gagasan Green Democracy

Hadapi Demokrasi Mahal dan Krisis Iklim, DPD Usung Gagasan Green Democracy

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:45 WIB

Muzani Kutip Raja Ali Haji di Sidang MPR: Demokrasi Tak Makin Kuat karena Kita Keras Mencela

Muzani Kutip Raja Ali Haji di Sidang MPR: Demokrasi Tak Makin Kuat karena Kita Keras Mencela

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 09:54 WIB

Rezim Tumbang Tak Cukup, Demokrasi Indonesia Harus Dibangun Ulang

Rezim Tumbang Tak Cukup, Demokrasi Indonesia Harus Dibangun Ulang

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:33 WIB

Bahaya Scroll Society: Saat Anak Muda Mahir Scrolling, Lupa Berpikir

Bahaya Scroll Society: Saat Anak Muda Mahir Scrolling, Lupa Berpikir

Your Say | Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Insiden Hafalan Al-Quran Berhadiah Miras, Aksi Boikot Produk OT Group Menggema, Apa Saja Produknya?

Insiden Hafalan Al-Quran Berhadiah Miras, Aksi Boikot Produk OT Group Menggema, Apa Saja Produknya?

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:00 WIB

Terkini

Kuota Internet Tak Lagi Hangus, Siapa yang Harus Menanggung Beban Biaya dan Kapasitas Jaringan?

Kuota Internet Tak Lagi Hangus, Siapa yang Harus Menanggung Beban Biaya dan Kapasitas Jaringan?

Video | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:00 WIB

Senjata Canggih Tak Cukup Jaga Kedaulatan RI! Ada 3 Hal yang Wajib Diperkuat Prabowo

Senjata Canggih Tak Cukup Jaga Kedaulatan RI! Ada 3 Hal yang Wajib Diperkuat Prabowo

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:54 WIB

Pelabuhan Diminta Seaman Bandara, DPR Dorong Pemisahan Kapal Barang dan Penumpang

Pelabuhan Diminta Seaman Bandara, DPR Dorong Pemisahan Kapal Barang dan Penumpang

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:51 WIB

BRI Sediakan Fasilitas Cicilan 0 Persen Hingga 12 Bulan di AZKO

BRI Sediakan Fasilitas Cicilan 0 Persen Hingga 12 Bulan di AZKO

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:50 WIB

Pemkot Palembang Tak Lagi Menanggung 5.502 Guru PPPK, Ini Dampaknya bagi APBD

Pemkot Palembang Tak Lagi Menanggung 5.502 Guru PPPK, Ini Dampaknya bagi APBD

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:49 WIB

Diskon Belanja Hingga 50 Persen di AZKO dari BRI, Cek Syaratnya

Diskon Belanja Hingga 50 Persen di AZKO dari BRI, Cek Syaratnya

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:35 WIB

Mirip 98 Persen! Meterai Palsu Banjiri Marketplace, Cara Mudah Bedakannya Pakai Air Liur

Mirip 98 Persen! Meterai Palsu Banjiri Marketplace, Cara Mudah Bedakannya Pakai Air Liur

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:32 WIB

Peringati HUT RI ke-81, Semen Gresik Dorong Insan Perusahaan Hadirkan Karya Terbaik bagi Negeri

Peringati HUT RI ke-81, Semen Gresik Dorong Insan Perusahaan Hadirkan Karya Terbaik bagi Negeri

Jawa Tengah | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:21 WIB

Kenapa Kulit Melasma dan Flek Hitam Disarankan Pakai Tinted Sunscreen? Begini Kata Dokter

Kenapa Kulit Melasma dan Flek Hitam Disarankan Pakai Tinted Sunscreen? Begini Kata Dokter

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:10 WIB

6 Shio Paling Beruntung Akhir Agustus 2026: Rezeki Nomplok hingga Asmara Membara

6 Shio Paling Beruntung Akhir Agustus 2026: Rezeki Nomplok hingga Asmara Membara

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:05 WIB

×