Sebelum Manusia, Ilmuwan Sarankan Kirim Bakteri ke Mars

RR Ukirsari Manggalani, Lintang Siltya Utami

Kamis, 28 November 2019 | 18:00 WIB
Sebelum Manusia, Ilmuwan Sarankan Kirim Bakteri ke Mars
Ilustrasi perjalanan ke Planet Mars [Shutterstock].

Suara.com - NASA diketahui berencana untuk mengirim manusia ke Planet Mars pada sekitar 2030-an. Seorang ilmuwan memberikan usul untuk mengirim bakteri terlebih dahulu sebelum mengirim manusia dalam misi itu.

Dalam penelitiannya, Benjamin Lehner, seorang calon doktoral di Delft University of Technology, Belanda, menyarankan agar mengirim bakteri dengan spesies Shewanella oneidensis ke Mars karena bakteri ini bisa menambang besi yang dari tanah Mars.

Ilustrasi bakteri. (Shutterstock)
Ilustrasi bakteri [Shutterstock].

"Dalam bentuk alaminya, kita tidak bisa menggunakan banyak besi di tanah Mars. Tetapi, Shewanella oneidensis memiliki kemampuan untuk mengubah bagian tanah menjadi magnetit, oksida magnetik besi," ucap Benjamin Lehner, seperti yang dikutip dari Space.com.

Benjamin Lehner mengusulkan untuk mengirim kapsul tanpa awak yang berisi penjelajah, bioreaktor, dan printer 3D. Penjelajah akan mengumpulkan tanah Mars dan membawa tanah kembali ke bioreaktor yang akan diisi dengan bakteri tadi.

Setelah bakteri bekerja dan menghasilkan magnetit, magnetit akan diekstraksi dan dipisahkan dari sisa tanah dengan magnet. Kemudian printer 3D akan mengubah bahan logam mentah ini menjadi benda berharga bagi manusia, seperti sekrup, mur, baut, atau bagian bangunan lainnya yang bisa menjadi bagian integral dari pemukiman manusia di Mars.

Benjamin Lehner dan timnya mengatakan dengan reaktor 1.400 L bisa menghasilkan sekitar 350 kg magnetit setiap tahun.

"Setelah 3,3 tahun, akan menghasilkan lebih banyak zat besi daripada yang bisa dimuat dalam kapsul. Dengan mengirimkan modul tak berawak ini ke Mars, kami bisa menghasilkan sejumlah besar zat besi dalam waktu beberapa bulan," tambah Benjamin Lehner.

Untuk bahan makanan agar bakteri itu mampu bertahan hidup, Benjamin Lehner mengusulkan agar mikroalga dikirim bersama bakteri. Mikroalga dapat menjaga diri sendiri, bertahan hidup di bawah sinar Matahari dan karbon dioksida, yang akan berubah menjadi nutrisi dan oksigen untuk bakteri. Limbah residu yang ditinggalkan oleh mikroalga ini juga bisa berfungsi sebagai kompos untuk astronot yang dikirim ke Mars di masa depan.

Usul ini tampaknya harus dipertimbangkan oleh NASA. Mengingat NASA mulanya berencana untuk mengirim peralatan berat ke Mars secara bertahap dan hal itu menguras biaya. Dengan bakteri, NASA juga dapat menghemat ruang kapsul pengangkut.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ilmuwan Temukan Gas Mirip Oksigen di Mars

Ilmuwan Temukan Gas Mirip Oksigen di Mars

Tekno | Senin, 18 November 2019 | 10:30 WIB

Curiosity Abadikan Foto Bebatuan di Gunung Mars

Curiosity Abadikan Foto Bebatuan di Gunung Mars

Tekno | Rabu, 13 November 2019 | 15:47 WIB

Masuk Bulan November, Ini 5 Peristiwa Langit yang Akan Terjadi

Masuk Bulan November, Ini 5 Peristiwa Langit yang Akan Terjadi

Tekno | Senin, 04 November 2019 | 10:05 WIB

Terkini

Mediasi Sengketa Lahan 14 Hektare di Gunung Sindur Belum Menemukan Titik Terang, Ini Penyebabnya

Mediasi Sengketa Lahan 14 Hektare di Gunung Sindur Belum Menemukan Titik Terang, Ini Penyebabnya

News | Rabu, 04 November 2026 | 18:40 WIB

Solusi Disrupsi AI, UGM dan Uni Eropa Dorong Kolaborasi di EHEF 2026

Solusi Disrupsi AI, UGM dan Uni Eropa Dorong Kolaborasi di EHEF 2026

Your Say | Rabu, 04 November 2026 | 18:40 WIB

Koleksi Mobil Ariyo Windutomo, Plt KSP Usai Listyo Sigit Dipecat

Koleksi Mobil Ariyo Windutomo, Plt KSP Usai Listyo Sigit Dipecat

Otomotif | Rabu, 04 November 2026 | 18:39 WIB

Kisah Koperasi Rimba Lestari: Terangi Dusun dengan Mikrohidro, Hidupi Warga Lewat Kopi

Kisah Koperasi Rimba Lestari: Terangi Dusun dengan Mikrohidro, Hidupi Warga Lewat Kopi

News | Rabu, 04 November 2026 | 18:37 WIB

Shampoo Bayam Mustika Ratu Apakah Non SLS? Cek Kandungan dan Manfaatnya

Shampoo Bayam Mustika Ratu Apakah Non SLS? Cek Kandungan dan Manfaatnya

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 18:37 WIB

KPK Tak Berhenti, Jaringan Bisnis Djarum Bakal Diusut Termasuk BCA?

KPK Tak Berhenti, Jaringan Bisnis Djarum Bakal Diusut Termasuk BCA?

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 18:35 WIB

Review Novel Resign, Ketika Angkat Kaki dari Kantor Jadi Bahan Taruhan

Review Novel Resign, Ketika Angkat Kaki dari Kantor Jadi Bahan Taruhan

Your Say | Rabu, 04 November 2026 | 18:30 WIB

Makin Panas Pemakzulan Gibran, Pendukung Bilang Gusti Allah Mboten Sare Netizen Balas Menohok

Makin Panas Pemakzulan Gibran, Pendukung Bilang Gusti Allah Mboten Sare Netizen Balas Menohok

News | Rabu, 04 November 2026 | 18:29 WIB

Obat Diabetes Golongan SGLT2 Inhibitor Bisa Turunkan Berat Badan, Begini Cara Kerjanya

Obat Diabetes Golongan SGLT2 Inhibitor Bisa Turunkan Berat Badan, Begini Cara Kerjanya

Health | Rabu, 04 November 2026 | 18:26 WIB

10 Fakta Kasus Penyadapan Presiden Prabowo oleh Listyo Sigit Cs

10 Fakta Kasus Penyadapan Presiden Prabowo oleh Listyo Sigit Cs

News | Rabu, 04 November 2026 | 18:25 WIB

×