Astronom Deteksi Ledakan Supernova Paling Terang di Alam Semesta

RR Ukirsari Manggalani, Lintang Siltya Utami

Jum'at, 17 April 2020 | 09:15 WIB
Astronom Deteksi Ledakan Supernova Paling Terang di Alam Semesta
Ilustrasi ledakan Supernova paling terang [Aaron Geller, Northwestern University].

Suara.com - Para astronom mendeteksi ledakan supernova paling terang di alam semesta. Supernova yang dikenal sebagai SN2016aps itu sebelumnya telah diamati PanSTARRS Survey for Transients pada 22 Februari 2016. Lokasinya teridentifikasi berada pada sebuah galaksi yang berjarak 4,5 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Setelah penelitian selama empat tahun terakhir, dinyatakan bahwa SN2016aps rupanya 500 kali lebih terang dibandingkan dari ledakan supernova yang pernah ditemukan pada umumnya.

Suasana malam di bawah naungan galaksi Bima Sakti di Mangli, Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (3/7) malam. [ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho]
Suasana malam di bawah naungan galaksi Bima Sakti. Sebagai ilustrasi [ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho]

Dilansir dari laman IFL Science, massa supernova ini antara 50 dan 100 kali massa Matahari. Umumnya supernova memiliki massa 8 dan 15 massa Matahari. Menurut Nature Astronomy, peristiwa ini telah diprediksi secara teoritis namun belum pernah diamati sebelumnya.

Menurut Dr Matt Nicholl dari University of Birmingham, Inggris, pada tahun-tahun terakhir sebelum bintang meledak terjadi pelepasan sejumlah besar gas pada permukaannya ketika berdenyut hebat dan membentuk fitur seperti cangkang yang mengeliling bintang ini. Ketika supernova akhirnya terjadi, puing-puing ledakan bertumbukan dengan cangkang itu dan menyebabkan kecerahan supernova yang luar biasa.

"Bintang-bintang dengan massa yang sangat besar mengalami denyutan keras sebelum meledak. Tapi SN2016aps memiliki misteri lain. Gas yang kami deteksi sebagian besar adalah hidrogen, tetapi bintang masif seperti itu biasanya akan kehilangan semua hidrogennya sebelum mulai berdenyut," ucap Dr Matt Nicholl.

Ledakan luar biasa ini adalah hasil dari penggabungan dua bintang, dan peningkatan energi kemungkinan terjadi karena tabrakan yang berbeda antara supernova dengan gas yang dilepaskan oleh satu atau kedua bintang sebelum kematiannya.

"Dua bintang yang kurang masif dulunya bergabung bersama, membentuk bintang besar yang meledak dalam supernova ini. Hal itu bisa dibuktikan karena bintang bermassa rendah mampu menahan hidrogen lebih lama," tambah Dr Matt Nicholl.

Astronom memperkirakan energi yang dikeluarkan supernova ini sedikit lebih tinggi dari ASASSN-15lh, pemegang rekor sebelumnya untuk ledakan supernova paling dahsyat.

Tak hanya itu, para ahli juga menempatkan SN2016aps sebagai jenis supernova langka yang hanya terlihat pada bintang yang sangat masif dan kaya akan hidrogen serta helium yang disebut supernova-ketidakstabilan-pasangan-pulsasional (pulsational pair-instability supernova).

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terbaru, Astronom Bagikan Gambar Resolusi Tertinggi Matahari

Terbaru, Astronom Bagikan Gambar Resolusi Tertinggi Matahari

Tekno | Senin, 13 April 2020 | 09:18 WIB

Berapa Seringkah Supernova Terjadi di Alam Semesta?

Berapa Seringkah Supernova Terjadi di Alam Semesta?

Tekno | Kamis, 28 November 2019 | 16:30 WIB

Astronom Temukan Supernova Baru di Rasi Bintang Cetus

Astronom Temukan Supernova Baru di Rasi Bintang Cetus

Tekno | Selasa, 04 Desember 2018 | 08:07 WIB

Terkini

Perseteruan Wakil Rakyat, Polda Riau Turun Tangan Periksa CCTV

Perseteruan Wakil Rakyat, Polda Riau Turun Tangan Periksa CCTV

Riau | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:19 WIB

Keciduk CCTV! Pria di Tambora Gasak Motor Teknisi WiFi yang Kuncinya Tergantung Demi Biaya Hidup

Keciduk CCTV! Pria di Tambora Gasak Motor Teknisi WiFi yang Kuncinya Tergantung Demi Biaya Hidup

News | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:15 WIB

Analisis Taktik Mendalam Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina

Analisis Taktik Mendalam Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina

Sulsel | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:09 WIB

Beri Kail Bukan Ikan: Inspirasi Cinta Laura Biayai Kuliah Asisten Pribadinya

Beri Kail Bukan Ikan: Inspirasi Cinta Laura Biayai Kuliah Asisten Pribadinya

Your Say | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:05 WIB

Tahan untuk Beli, Harga Emas Antam Berpotensi Naik Pekan Depan

Tahan untuk Beli, Harga Emas Antam Berpotensi Naik Pekan Depan

Bisnis | Minggu, 19 Juli 2026 | 19:43 WIB

Tiki-Taka vs Sihir Messi: Prediksi Pertarungan Sengit Final Spanyol vs Argentina

Tiki-Taka vs Sihir Messi: Prediksi Pertarungan Sengit Final Spanyol vs Argentina

Sulsel | Minggu, 19 Juli 2026 | 19:29 WIB

Bukan Sekadar Rapuh: Membedah Stigma "Generasi Strawberry" pada Gen Z

Bukan Sekadar Rapuh: Membedah Stigma "Generasi Strawberry" pada Gen Z

Your Say | Minggu, 19 Juli 2026 | 19:15 WIB

Bahlil Sebut Antrean BBM di Sumatera Bukan Stok Habis, tapi Sopir Tangki Mogok

Bahlil Sebut Antrean BBM di Sumatera Bukan Stok Habis, tapi Sopir Tangki Mogok

Riau | Minggu, 19 Juli 2026 | 19:12 WIB

Tutup Borok Korupsi dan PHK, Isu LGBTQ Diduga Cuma Strategi Pecah Fokus Kemarahan Publik

Tutup Borok Korupsi dan PHK, Isu LGBTQ Diduga Cuma Strategi Pecah Fokus Kemarahan Publik

News | Minggu, 19 Juli 2026 | 19:10 WIB

Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup

Ekosida Peradaban Air Sumsel, Ketika Lahan Basah Tak Lagi Menjadi Ruang Hidup

Sumsel | Minggu, 19 Juli 2026 | 19:06 WIB

×