Rekor 10 Juta Kasus Covid-19, di Negara Mana Meningkat Pesat atau Menurun?

BBC

BBC

Selasa, 30 Juni 2020 | 07:26 WIB
Rekor 10 Juta Kasus Covid-19,  di Negara Mana Meningkat Pesat atau Menurun?
[BBC].

Suara.com - Dengan kasus virus corona di dunia yang telah mencapai 10 juta orang, pimpinan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan akan fase baru yang berbahaya dalam krisis ini.

Ketika banyak negara di Eropa Barat dan Asia berada dalam situasi penanganan virus yang dapat dikatakan di bawah kontrol, kawasan lain di dunia sekarang justru mengalami penyebaran penyakit pada tingkat yang semakin cepat.

Butuh tiga bulan untuk satu juta orang pertama terinfeksi, tetapi hanya delapan hari untuk mencatat jutaan orang lain terinfeksi.

Dan karena angka-angka ini hanya mencerminkan siapa yang dites positif, data tersebut cenderung menjadi "puncak gunung es", menurut seorang pejabat senior Amerika Latin.

Di manakah kasus Covid-19 meningkat cepat?

Grafik bergerak sepenuhnya ke arah yang salah di beberapa bagian Amerika, Asia Selatan dan Afrika.

Amerika Serikat,  yang sudah mencatat paling banyak infeksi dan sebagian besar kematian akibat Covid-19 dibandingkan negara lain di dunia, mengalami peningkatan yang lebih mengejutkan. Jumlah tes positif yang dicatat dalam beberapa hari terakhir telah mencapai rekor harian total 40.000, dan data itu masih naik, didorong oleh ledakan klaster di Arizona, Texas dan Florida.

Ini bukan "gelombang kedua" infeksi. Sebaliknya, ini adalah kebangkitan penyakit dan kebanyakan terjadi di negara-negara yang memutuskan untuk meloggarkan lockdown, keputusan yang bisa dibilang terlalu dini.

Brasil, negara kedua setelah Amerika Serikat yang menembus 1 juta kasus, juga mengalami kenaikan berbahaya. Kota-kota terbesarnya, São Paulo dan Rio de Janeiro, adalah yang paling terpukul, tetapi banyak daerah lain di negara ini yang melakukan sedikit pengujian, dan jumlah kasus yang sebenarnya akan jauh lebih tinggi.

baca juga

Hal serupa terjadi di India. Baru-baru ini India mencatat jumlah terbesar kasus baru dalam satu hari - 15.000. Tetapi karena ada pengujian yang relatif sedikit di beberapa negara bagian yang paling padat penduduknya, skala sebenarnya dari krisis tersebut-tidak dapat dihindari-lebih besar.

Mengapa ini terjadi? Komunitas yang kekurangan dan kondisi padat penduduk di negara-negara berkembang menjadikan mereka rentan. Virus corona telah menjadi "penyakit orang miskin", menurut David Nabarro, utusan khusus WHO untuk Covid-19.

Ketika seluruh keluarga dijejalkan ke rumah satu kamar, penjarakan sosial tidak mungkin dilakukan, dan tanpa air mengalir, mencuci tangan secara teratur tidaklah mudah. Di mana orang harus mencari nafkah sehari-hari untuk bertahan hidup, interaksi di jalan-jalan dan di pasar tidak bisa dihindari.

Untuk kelompok masyarakat adat di hutan hujan Amazon dan daerah terpencil lainnya, layanan kesehatan bisa terbatas atau bahkan tidak ada.

Dan tingkat infeksi sering kali sangat tinggi: dari semua orang yang dites di Meksiko, lebih dari setengahnya ternyata positif. Proporsi yang jauh lebih tinggi daripada yang ditemukan di episentrum seperti New York atau Italia utara bahkan pada saat-saat terburuknya.

Kekurangan alat pelindung diri (APD) untuk staf medis garis depan jauh lebih parah di mana anggarannya kecil.

Di Ekuador, di mana pada satu tahap jenazah dibuang di jalan-jalan karena pihak berwenang tidak bisa mengatasinya, sebuah laboratorium utama kehabisan bahan kimia yang diperlukan untuk menguji virus corona.

Dan di mana ekonomi sudah lemah, memaksakan lockdown untuk mengekang virus berpotensi membawa risiko yang jauh lebih besar daripada di negara maju.

Dr Nabarro mengatakan masih ada peluang untuk memperlambat penyebaran infeksi tetapi hanya dengan dukungan internasional yang kuat. "Saya tidak suka memberikan pesan yang menyedihkan," katanya, "tetapi saya khawatir tentang persediaan dan keuangan sampai bagi mereka yang membutuhkannya."

Sudut pandang politik

Namun hal tersebut bukan satu-satunya hal yang mendorong peningkatan kasus virus corona. Banyak politisi telah memilih alasan mereka sendiri untuk tidak mengikuti saran dari ahli kesehatan.

Presiden Tanzania mengambil langkah berani dengan menyatakan bahwa negaranya sebagian besar telah mengalahkan virus tersebut. Sejak awal Mei ia telah memblokir rilis data yang tepat tentang itu, meskipun tanda-tanda bahwa ancaman Covid-19 masih sangat besar.

Di AS, Presiden Trump telah mengecilkan Covid-19 atau menyalahkan China dan WHO untuk itu, serta mendesak pembukaan kembali cepat ekonomi Amerika.

Dia memuji gubernur Partai Republik Texas, Greg Abbott, karena termasuk orang pertama yang memutuskan negaranya keluar dari lockdown, suatu langkah yang sekarang berbalik ketika kasus-kasus meningkat.

Bahkan pemakaian masker di tempat publik, yang telah menjadi rekomendasi resmi pemerintah AS sejak awal April, menjadi simbol perpecahan politik.

Abbott telah menolak untuk mengizinkan walikota Texas untuk mendesak mereka sehingga, seperti yang ia katakan, "kebebasan individu tidak dilanggar". Sebaliknya gubernur California, yang berasal dari partai Demokrat, mengatakan "sains menunjukkan bahwa masker berperan". Sementara itu, Trump menolak untuk mengenakannya.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro, telah terjebak dalam argumen yang sama. Setelah menganggap Covid-19 sebagai "flu ringan", dia berulang kali mencoba untuk menghentikan pejabat melakukan apa pun yang dapat mengganggu perekonomian. Dan setelah secara teratur tampil di depan umum tanpa masker, dia sekarang diperintahkan oleh pengadilan untuk mengenakannya.

Sikap seperti inilah yang mendorong kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, untuk memperingatkan bahwa ancaman terbesar bukanlah virus itu sendiri melainkan "kurangnya solidaritas global dan kepemimpinan global".

Di manakah kasus Covid-19 terkendali?

Sebagai pulau terpencil di Pasifik, Selandia Baru dapat mengisolasi diri dengan mudah, dan pemerintahan Jacinda Ardern telah dipuji secara luas atas tanggapan agresif yang baru-baru ini mengarah ke periode 24 hari tanpa ada kasus baru.

Situasi itu berakhir ketika warga mulai kembali dari luar negeri, beberapa dari mereka terinfeksi, dan tindakan lebih lanjut diperlukan untuk memantau orang-orang pada saat kedatangan. Tetapi alih-alih hal ini menjadi pukulan terhadap harapan Selandia Baru untuk bebas Covid-19, banyak ahli melihatnya sebagai bukti sistem pengawasan yang pada umumnya bekerja secara efektif.

Demikian pula, Korea Selatan dipuji karena menggunakan teknologi dan pelacakan kontak untuk menurunkan infeksi ke jumlah yang sangat rendah dan mengalami tiga hari berturut-turut tanpa kasus baru.

Pejabatnya sekarang mengatakan mereka melihat gelombang kedua, dengan klaster-klaster yang berpusat di klab malam di ibukota Seoul, meskipun jumlahnya relatif kecil.

Walikota Seoul telah memperingatkan bahwa jika kasus di atas 30 selama tiga hari, langkah-langkah penjarakan sosial akan diberlakukan kembali. Sebaliknya, Inggris memiliki sekitar 1.000 kasus baru per hari, juga Indonesia memiliki rata-rata lebih dari 1.000 kasus per hari.

Yang paling membanggakan adalah Vietnam, yang mengklaim tidak memiliki kematian sama sekali dari Covid-19. Penguncian cepat dan kontrol perbatasan ketat digabungkan untuk menjaga agar jumlah infeksi tetap rendah.

Apa berikutnya? Yang tidak diketahui adalah apa yang terjadi di sebagian besar negara-negara Afrika, yang dalam banyak kasus belum melihat skala penyakit dibandingkan yang dikhawatirkan.

Sebuah pandangan menyatakan kurangnya infrastruktur untuk pengujian massal mengaburkan penyebaran virus yang sebenarnya. Yang lain adalah bahwa dengan populasi yang relatif muda, jumlah yang tertular cenderung lebih rendah.

Perspektif ketiga adalah bahwa komunitas dengan koneksi yang lebih sedikit ke dunia luar akan menjadi yang terakhir disentuh oleh pandemi.

Di negara-negara yang paling berhasil mengendalikan virus, tantangannya tetap waspada ketika mencoba kemungkinan sejumlah normalitas berjalan kembali.

Tetapi kenyataan bagi banyak kawasan lain adalah ramalan suram Dr Nabarro tentang "peningkatan terus jumlah orang dengan Covid-19 dan penderitaan yang terkait".

Itulah sebabnya ia dan banyak negara lain berharap bahwa negara-negara berkembang akan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan, sebelum krisis semakin parah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

3 Tentara Luka Parah Kena Ledakan Ranjau di Zona Demiliterisasi Korea

3 Tentara Luka Parah Kena Ledakan Ranjau di Zona Demiliterisasi Korea

News | Senin, 21 September 2026 | 13:07 WIB

Ada Sabotase? Lagu Korut Diputar Saat Tim Hoki Korsel Tanding, Panitia Asian Games 2026 Minta Maaf

Ada Sabotase? Lagu Korut Diputar Saat Tim Hoki Korsel Tanding, Panitia Asian Games 2026 Minta Maaf

Sport | Sabtu, 19 September 2026 | 19:25 WIB

Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 16:45 WIB

7 Cara Mengetahui Apakah Suatu Lipstik Mengandung Timbal, Waspadai Ciri Ini

7 Cara Mengetahui Apakah Suatu Lipstik Mengandung Timbal, Waspadai Ciri Ini

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:59 WIB

Review Hope: Ketika Ketidaktahuan Manusia Jadi Kekacauan yang Mematikan

Review Hope: Ketika Ketidaktahuan Manusia Jadi Kekacauan yang Mematikan

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 13:50 WIB

Ada Benda Asing dari Larva hingga Lelehan Plastik di MBG Selandia Baru Respon Pemerintah Mengejutkan

Ada Benda Asing dari Larva hingga Lelehan Plastik di MBG Selandia Baru Respon Pemerintah Mengejutkan

News | Rabu, 09 September 2026 | 18:49 WIB

Soft Life In This Economy: Bisakah Tenang di Tengah Biaya Hidup Meningkat?

Soft Life In This Economy: Bisakah Tenang di Tengah Biaya Hidup Meningkat?

Your Say | Rabu, 09 September 2026 | 19:30 WIB

Pencemaran Limbah Potasium di Serang

Pencemaran Limbah Potasium di Serang

Foto | Jum'at, 04 September 2026 | 19:07 WIB

TetherMax Tunjuk Aktor Korea Yun Si Yun Jadi Brand Ambassador Seiring Perluas Kehadiran di Asia

TetherMax Tunjuk Aktor Korea Yun Si Yun Jadi Brand Ambassador Seiring Perluas Kehadiran di Asia

Bisnis | Kamis, 03 September 2026 | 20:33 WIB

Masuk Bursa Dirjen WHO, Menkes Budi Ungkap Instruksi Prabowo

Masuk Bursa Dirjen WHO, Menkes Budi Ungkap Instruksi Prabowo

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Terkini

Houthi Tuduh Arab Saudi Nodai Kesucian Makkah: Dari Konser Hiburan hingga Corong Zionis

Houthi Tuduh Arab Saudi Nodai Kesucian Makkah: Dari Konser Hiburan hingga Corong Zionis

News | Selasa, 22 September 2026 | 10:04 WIB

5 Sunscreen Mengandung Vitamin C dan Niacinamide, Ampuh Atasi Wajah Kusam dan Cegah Flek

5 Sunscreen Mengandung Vitamin C dan Niacinamide, Ampuh Atasi Wajah Kusam dan Cegah Flek

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 10:03 WIB

Banjir Bandang Solok: 4 Warga Luka, 11 Kantor Pemerintahan dan Puluhan Kendaraan Rusak Parah

Banjir Bandang Solok: 4 Warga Luka, 11 Kantor Pemerintahan dan Puluhan Kendaraan Rusak Parah

News | Selasa, 22 September 2026 | 10:00 WIB

Review Film Heart of the Beast: Drama Survival yang Sangat Menyentuh Hati

Review Film Heart of the Beast: Drama Survival yang Sangat Menyentuh Hati

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 10:00 WIB

Jadi Rekan Setim, Marc Marquez Prediksi Bakal Dikalahkan oleh Pedro Acosta

Jadi Rekan Setim, Marc Marquez Prediksi Bakal Dikalahkan oleh Pedro Acosta

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 09:59 WIB

Harga Emas Antam Turun Lagi Jadi Rp2.627.000/Gram

Harga Emas Antam Turun Lagi Jadi Rp2.627.000/Gram

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 09:58 WIB

Bukan Cuma Jual TBS, Petani Sawit Didorong Punya Pabrik CPO Sendiri

Bukan Cuma Jual TBS, Petani Sawit Didorong Punya Pabrik CPO Sendiri

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 09:51 WIB

Klub Madrid Doakan Perjuangan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Klub Madrid Doakan Perjuangan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Selasa, 22 September 2026 | 09:49 WIB

Sebelum Sunscreen Pakai Apa Dulu? Ini Urutan Skincare Pagi yang Benar Menurut Dokter

Sebelum Sunscreen Pakai Apa Dulu? Ini Urutan Skincare Pagi yang Benar Menurut Dokter

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 09:44 WIB

Dua Tersangka Konten Porno 'A Day in My Life' Positif HIV

Dua Tersangka Konten Porno 'A Day in My Life' Positif HIV

News | Selasa, 22 September 2026 | 09:43 WIB

×