- Pemerintah Selandia Baru menghadapi kritik terkait penemuan benda asing tidak dikenal di dalam sajian brownies program makan siang sekolah.
- Wakil Perdana Menteri David Seymour menyatakan insiden tersebut adalah masalah keamanan pangan umum dari pemasok, bukan kesalahan program.
- Program makan siang sekolah yang dimulai sejak 2020 ini menyediakan makanan sehat bagi lebih dari 240.000 siswa.
Suara.com - Masalah pada program Makan Gizi Gratis (MBG) yang kian marak di Indonsia ternayta juga dialami negara tetangga, Selandia Baru.
Program makan siang murah untuk siswa di Selandia Baru menjadi sorotan setelah ditemukan benda asing yang belum diketahui jenisnya di dalam sebuah kue brownies yang disajikan.
Meski mendapat kritik pedas dari banyak pihak MBG di Selandia Baru ini tetap mendapat pembelaan dari pihak pemerintah.
Wakil Direktur Jenderal Keamanan Pangan Selandia Baru Vincent Arbuckle mengatakan benda asing dapat masuk ke makanan pada berbagai tahap, mulai dari bahan baku hingga proses produksi, penanganan, dan pengolahan.
Dalam kasus brownie tersebut, benda asing dikategorikan sebagai tidak diketahui jenisnya karena tidak dapat diidentifikasi ketika laporan pertama dibuat.
“Dalam penyelidikan, diketahui bahwa benda asing tersebut kemungkinan, meski belum dapat dipastikan, merupakan bagian dari kemasan bahan yang digunakan selama proses produksi,” kata Arbuckle dikutip dari The New Zealan Herald.
Ia mengatakan produsen telah menerapkan langkah perbaikan untuk memperketat pengendalian benda asing selama proses produksi.
Keamanan Pangan Selandia Baru juga memastikan brownies tersebut berasal dari pemasok eksternal.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Selandia Baru David Seymour menyebut bahwa brownies bermasalah tersebut emungkinan juga dijual di berbagai tempat dan tidak secara khusus dibuat hanya untuk program makan siang sekolah.
“Jelas ini menjadi perhatian. Namun, ini merupakan persoalan keamanan pangan secara umum yang terdampak pada Program Makan Siang Sehat, bukan persoalan yang disebabkan oleh program tersebut,” kata Seymour.
Meski muncul sejumlah laporan keamanan pangan, Seymour menegaskan pemerintah tidak mengabaikan persoalan yang terjadi.
Seymour mengatakan pemerintah terus berupaya menyelesaikan berbagai masalah dalam pelaksanaan program tersebut dan memastikan makanan sekolah tetap tersedia bagi siswa yang membutuhkan.
Pernah Ada Plastik dan Larva
Program makan siang sekolah Selandia Baru sebelumnya juga pernah menghadapi sejumlah insiden yang menjadi perhatian publik.
Pada 2025, misalnya, otoritas menyelidiki laporan plastik kemasan yang meleleh dan masuk ke makanan.