Dua Cara Ini Diklaim Para Ahli Mampu Cegah Pandemi di Masa Depan

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami | Suara.com

Selasa, 08 September 2020 | 09:20 WIB
Dua Cara Ini Diklaim Para Ahli Mampu Cegah Pandemi di Masa Depan
Ilustrasi Pandemi Covid-19 (pexels)

Suara.com - Para ahli berpendapat, rata-rata sebanyak dua penyakit baru berpindah dari hewan ke manusia setiap tahun selama seabad terakhir.

Sebagian besar ahli sekarang, setuju bahwa Covid-19 berasal dari kelelawar, meskipun masih belum tahu persis bagaimana dan kapan itu terjadi. Kemungkinan virus Corona melewati spesies perantara sebelum menginfeksi manusia.

Namun, yang diyakini para ilmuwan adalah karena penggundulan hutan meluas dan perdagangan satwa liar global merajalela, menusia lebih sering bercampur dengan hewan. Semakin banyak interaksi tersebut terjadi, semakin banyak limpahan zoonosis yang akan dilihat.

Menurut Peter Daszak, Presiden EcoHealth Alliance, mengatakan bahwa koleganya menemukan 1 hingga 7 juta orang terpapar virus zoonosis di Asia Tenggara setiap tahun. Saat ini, tiga dari setiap empat penyakit menular yang muncul berasal dari hewan.

Ilustrasi kelelawar buah. [Shutterstock]
Ilustrasi kelelawar buah. [Shutterstock]

"Kita akan menghadapi lebih banyak penyakit ini. Saya tidak dapat memberi tahu kapan dan saya tidak dapat memberi tahu seberapa buruk itu akan terjadi. Beberapa akan menjadi mengerikan, beberapa tidak terlalu buruk. Yang dapat kami katakan dengan jelas adalah tren ini terus berlanjut," kata Stuart Pimm, ahli biologi di Duke University.

Pada Juli, Pimm dan beberapa ahli lain menghitung dalam sebuah makalah bahwa para pemimpin global, dapat mencegah banyak peristiwa limpahan zoonosis dengan menghabiskan sekitar 20 miliar dolar AS per tahun untuk upaya pencegahan. Sebagai perbandingan, perkiraan biaya virus Covid-19 di seluruh dunia adalah 5 triliun dolar AS tahun ini.

Dilansir dari Business Insider, Selasa (8/9/2020), dana itu harus digunakan dengan tiga cara utama, yaitu mencegah penggundulan hutan, menegakkan perdagangan satwa liar yang aman, dan mempelajari penyakit menular yang muncul dari hewan.

Menebang hutan tropis berkontribusi pada penyebaran penyakit zoonosis karena beberapa alasan. Pertama, nyamuk pembawa penyakit tumbuh subur di daerah tropis yang memiliki sedikit pohon dan lebih banyak genangan air.

Selain itu, menebang pohon dan memindahkan orang ke wilayah yang sebelumnya merupakan berhutan membuat manusia dan hewan liar saling berhubungan lebih dekat.

Dengan mendanai program yang memantau deforestasi di kawasan tropis dan menegakkan hukum bagi pembakalakan liar, dapat mengurangi deforestasi hingga 40 persen di kawasan yang paling mungkin terkena virus.

Perubahan itu dapat menurunkan jumlah penyakit baru yang masuk ke dalam populasi manusia.

Program-program seperti itu telah berhasil mengekang deforestasi sebelumnya. Di Brasil, insentif untuk melestarikan hutan dan prosedur menegakkan pembatasan penebangan mengurangi deforestasi secara signifikan antara tahun 2005 dan 2012.

Sayangnya, laju deforestasi kembali naik di sana. Pada 2019, hampir 3.800 mil persegi hutan menghilang.

Di sisi lain, para ahli yakin selain deforestasi, perdagangan hewan liar global juga memainkan peran pada berbagai wabah penyakit.

Penggundulan hutan hujan Amazon. [AFP/Nelson Almeida]
Penggundulan hutan hujan Amazon. [AFP/Nelson Almeida]

Pimm dan timnya mengatakan bahwa wabah dapat dicegah dengan jaringan pendanaan seperti Jaringan Penegakan Satwa Liar ASEAN, yang membantu lembaga penegak hukum dari berbagai negara mengoordinasikan tanggapan terhadap pasar gelap satwa liar. Dengan memberlakukan undang-undang yang lebih ketat juga dapat membuat perdagangan satwa liar legal lebih aman.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Awas! Kumpul dengan Keluarga, Bisa Jadi Klaster Penyebaran COVID-19

Awas! Kumpul dengan Keluarga, Bisa Jadi Klaster Penyebaran COVID-19

Jawa Tengah | Senin, 07 September 2020 | 11:28 WIB

Iran Buka Kembali Sekolah Pekan Ini, Otoritas Kesehatan Khawatir

Iran Buka Kembali Sekolah Pekan Ini, Otoritas Kesehatan Khawatir

News | Minggu, 06 September 2020 | 17:23 WIB

Epidemiolog UI Sebut Indonesia Belum Maksimal Atasi Pandemi Covid-19

Epidemiolog UI Sebut Indonesia Belum Maksimal Atasi Pandemi Covid-19

Tekno | Minggu, 06 September 2020 | 17:15 WIB

Australia Perpanjang Lockdown di Melbourne Meski Kasus Covid-19 Turun

Australia Perpanjang Lockdown di Melbourne Meski Kasus Covid-19 Turun

News | Minggu, 06 September 2020 | 17:19 WIB

Paus Fransiskus Himbau Manusia Beri Waktu Bumi Beristirahat

Paus Fransiskus Himbau Manusia Beri Waktu Bumi Beristirahat

Tekno | Minggu, 06 September 2020 | 06:05 WIB

Isi Air Liur, Lansia Curi Sekotak Sampel Covid-19 untuk Dijadikan Payung

Isi Air Liur, Lansia Curi Sekotak Sampel Covid-19 untuk Dijadikan Payung

News | Jum'at, 04 September 2020 | 19:53 WIB

Terkini

Harga dan Spesifikasi Marshall Monitor III ANC Cream di Indonesia

Harga dan Spesifikasi Marshall Monitor III ANC Cream di Indonesia

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 18:16 WIB

5 Tablet 12 Inci untuk Produktivitas Tinggi, Ringkas Dibawa Kemana Saja

5 Tablet 12 Inci untuk Produktivitas Tinggi, Ringkas Dibawa Kemana Saja

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 18:03 WIB

Google Luncurkan Search Live, Bisa Cari Info Pakai Suara dan Kamera

Google Luncurkan Search Live, Bisa Cari Info Pakai Suara dan Kamera

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 17:49 WIB

Tips Bikin Konten Instagram dan TikTok Lebih Autentik Pakai Xiaomi 17 dengan Kamera Leica

Tips Bikin Konten Instagram dan TikTok Lebih Autentik Pakai Xiaomi 17 dengan Kamera Leica

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 16:57 WIB

5 Pilihan HP POCO 5G Terbaru Paling Murah di 2026, Konektivitas Cepat

5 Pilihan HP POCO 5G Terbaru Paling Murah di 2026, Konektivitas Cepat

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 16:48 WIB

Samsung Galaxy A37 5G Resmi Hadir: Andalkan Kamera Nightography dan AI, Cocok Buat Konten Seharian

Samsung Galaxy A37 5G Resmi Hadir: Andalkan Kamera Nightography dan AI, Cocok Buat Konten Seharian

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 16:26 WIB

Serangan Siber di Indonesia Tembus 14,9 Juta, Kaspersky Dorong SOC Berbasis AI

Serangan Siber di Indonesia Tembus 14,9 Juta, Kaspersky Dorong SOC Berbasis AI

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 15:49 WIB

Biaya Registrasi SIM Biometrik Mahal, Komdigi Minta Keringanan ke Tito dan Purbaya

Biaya Registrasi SIM Biometrik Mahal, Komdigi Minta Keringanan ke Tito dan Purbaya

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 15:36 WIB

NextDev Summit 2026 : Telkomsel Dorong Startup AI, Tax Point Jadi Juara

NextDev Summit 2026 : Telkomsel Dorong Startup AI, Tax Point Jadi Juara

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 15:13 WIB

Komdigi Buka Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, Perluas Internet ke Pelosok Daerah

Komdigi Buka Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, Perluas Internet ke Pelosok Daerah

Tekno | Jum'at, 10 April 2026 | 14:34 WIB