Suara.com - Penelitian terbaru dipublikasikan di jurnal Science menunjukkan bahwa tanah yang tenggelam atau penurunan permukaan tanah, dapat mempengaruhi 8 persen permukaan tanah secara global dan 19 persen populasi dunia pada 2040.
Penurunan tanah dipicu oleh proses seperti penipisan air tanah dan menyebabkan tenggelamnya sebagian besar tanah, secara bertahap selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun.
Hal ini dapat menimbulkan dampak berbahaya, seperti peningkatan risiko banjir, menyebabkan rekatan di area yang terkena dampak, merusak bangunan dan infrastruktur, dan secara permanen mengurangi kapasitas akuifer.
Selain itu, permintaan air tanah di masa mendatang diperkirakan akan meningkat karena pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang semakin parah.
![Ilustrasi perubahan iklim. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/05/26/34754-perubahan-iklim.jpg)
Penurunan permukaan tanah juga dapat diperburuk oleh perubahan iklim karena curah hujan dan kekeringan yang sering terjadi serta peningkatan evapotranspirasi.
Para ilmuwan menganalisis dengan meninjau sistemik skala besar tentang penurunan permukaan tanah di seluruh dunia. Tim ahli menemukan bahwa penurunan permukaan tanah yang disebabkan oleh penipisan air tanah terjadi di 200 lokasi di lebih dari 34 negara.
Tingkat penurunan permukaan tanah di Meksiko termasuk yang tertinggi di dunia, sebanyak 30 sentimeter per tahun. Penurunan permukaan tanah di Dataran Sungai Po juga mengancam 30 persen populasi Italia karena banjir.
Iran memiliki beberapa kota yang paling cepat tenggelam dengan penurunan hingga 25 sentimeter per tahun karena pemompaan air tanah yang tidak diatur.
Pada abad yang lalu, Tokyo juga mengalami penurunan permukaan tanah sebanyak 4 meter dan Central Valley, California, mengalami penurunan 9 meter.
Di Indonesia sendiri, Jakarta dilaporkan juga telah mengalami penurunan permukaan tanah yang parah sehingga pemerintah berencana memindahkan ibu kota ke Kalimantan.
Dilansir dari IFL Science, Jumat (1/1/2021), para ilmuwan mengusulkan model global yang diklaim dapat memprediksi kerentanan penurunan permukaan tanah global pada resolusi 1 kilometer persegi.
Hal ini dilakukan melalui analisis statistik litologi (karakteristik fisik batuan), kemiringan permukaan tanah, tutupan lahan, dan kelas iklim Koppen-Geiger.
Model ini juga memperkirakan kemungkinan penipisan air tanah, mengidentifikasi area di bawah tekanan air atau dengan permintaan air tanah yang tinggi.
Hasil pemodelan menunjukkan 12 juta kilometer persegi dari permukaan tanah global berpotensi terancam oleh penurunan permukaan tanah.
![Taman nasional Death Valley di California, Amerika Serikat. [AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/08/18/50677-efek-perubahan-iklim-suhu-panas-di-death-valley-pecahkan-rekor.jpg)
Kawasan yang berisiko berada di sekitar perkotaan padat dan kawasan irigasi. Lebih dari 2,2 juta kilometer persegi dianggap berisiko tinggi atau sangat tinggi. Daerah ini menampung sekitar 1,2 miliar orang atau 19 persen dari populasi global.