Suara.com - Orang Mesir kuno dikenal melakukan pemujaan terhadap kucing. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa mereka juga memelihara kucing sebagai hewan peliharaan, seperti yang dilakukan umat manusia saat ini.
Informasi terbaru diketahui, setelah hampir 600 makam kucing, anjing, dan monyet digali di pemakaman hewan peliharaan yang berusia sekitar 2.000 tahun.
Pemakaman ini pertama kali ditemukan satu dekade lalu di pelabuhan kuno Laut Merah Berenice. Namun, para peneliti tidak yakin apakah tulang hewan yang ditemukan mewakili penguburan asli.
Awalnya, beberapa ahli berpendapat bahwa mayat hewan hanya dibuang sebagai sampah.
Tetapi, analisis yang lebih rinci dari situs tersebut memberikan kesimpulan bahwa lokasi itu sebenarnya adalah tempat peristirahatan bagi hewan peliharaan kesayangan, menjadikannya pemakaman hewan peliharaan tertua di dunia.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal World Archaeology, tim penggali mengungkapkan bahwa situs tersebut berisi total 585 hewan yang mati.
![Makam kucing, anjing, dan monyet dari jaman Mesir Kuno. [World Archeology]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/03/03/18339-makam-kucing-anjing-dan-monyet-dari-jaman-mesir-kuno.jpg)
Makam tersebut dianggap telah digunakan dari abad pertama hingga kedua Masehi dan berisi berbagai spesies hewan berbeda, bahkan beberapa di antaranya bukan asli Afrika.
Sekitar 90 persen hewan peliharaan yang dikubur di Berenice adalah kucing, dengan ras Eropa kecil dan kucing Mesir.
Beberapa kalung yang melingkar di leher kucing juga menunjukkan status hewan peliharaan tersebut.
Para peneliti bahkan mampu menganalisis isi perut beberapa kucing, mencatat bahwa hewan tersebut diberi makan dengan makanan pilihan yang bahkan tidak tersedia untuk kucing non-domestik.
Di sisi lain, sebanyak 5 persen makam anjing ditemukan di lokasi penguburan tersebut. Mayoritas adalah jenis Spitz kecil, tapi para ahli juga menemukan sisa-sisa fosil anjing Malta dan jenis anjing yang lebih besar seperti anjing pemburu yang populer di Pompeii.
Banyak hewan yang digali di situs tersebut menunjukkan hidup sampai tua dan meninggal akibat cedera atau penyakit.
Beberapa anjing bahkan menderita penyakit gusi dan para ilmuwan percaya anjing-anjing itu pasti dirawat dengan baik dan diberi makan oleh pemiliknya.
"Karena anjing tua ini tidak mampu mencari makanan secara mandiri, kami dapat menyimpulkan bahwa mereka sepenuhnya bergantung pada perawatan manusia," tulis penulis penelitian, seperti dikutip dari IFL Science, Rabu(3/3/2021).
Tim ilmuwan juga menemukan sisa-sisa dua monyet, di mana keduanya berasal dari sub-benua India. Tidak jelas bagaimana kedua monyet itu menjadi hewan peliharaan di Mesir, tetapi para ahli menemukan bahwa salah satu monyet memiliki makam yang luar biasa.