Jakarta Dingin Selama Juni, Ini Penyebabnya

Liberty Jemadu

Kamis, 01 Juli 2021 | 16:09 WIB
Jakarta Dingin Selama Juni, Ini Penyebabnya
Suhu Jakarta dingin selama Juni 2021, lebih dari bulan yang sama pada 2020 lalu. Foto: Warga beraktivitas saat hujan deras di kawasan Pinang Ranti, Jakarta Timur, Jumat (18/6/2021). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Selama Juni 2021 suhu Jakarta dingin lebih dari bulan yang sama pada 2020 lalu, padahal Indonesia sudah memasuki musim kemarau yang biasanya bersuhu panas, demikian dikatakan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Para peneliti dari PSTA Lapan, pada akhir pekan lalu mengungkapkan bahwa selama Juni 2021 suhu udara permukaan Jakarta dingin, turun rata-rata sebesar 0.6 derajat Celcius.

Tak hanya Jakarta, kondisi penurunan suhu juga terjadi di Bandung, Jawa Barat, demikian dibeberkan para ilmuwan PSTA Lapan di media sosial Instagram.

"Tren pendinginan suhu antara 0,5-1 derajat Celcius juga terjadi di Bandung sejak bulan Januari hingga Juni 2021 jika dibandingkan dengan tahun 2020," jelas mereka.

Menurut Lapan dinginnya Jakarta dan Bandung di tengah musim kemarau ini kemungkinan disebabkan oleh fenomena front, yakni perbenturan dua massa udara yang berlainan, yaitu antara udara dingin dan udara hangat.

Yang kemungkinan terjadi saat ini adalah front udara dingin (cold front) mendorong udara hangat ke atas, sehingga membuat permukaan Bumi, dalam hal ini Jakarta dan Bandung, lebih dingin.

Cold front dapat terbentuk dari pergerakan kuat monsun timuran Australia yang bersifat dingin. Front dingin ini selanjutnya berbenturan dengan udara hangat dari barat karena keberadaan vorteks dan Dipole Mode negatif di Samudra Hindia.

"Cold front ini selanjutnya dapat meluas dan tertahan oleh eksistensi awan-awan dingin tebal yang persisten meliputi daratan," beber PSTA Lapan.

Hujan Bulan Juni

baca juga

Mengenai Dipole Mode Negatif sendiri telah dijelaskan PSTA Lapan saat mengungkap alasan semakin seringnya hujan di Bulan Juni ini. Di Tanah Air, Juni lazimnya sudah masuk musim kemarau, tetapi di tahun ini hujan justru masih terjadi hampir setiap hari.

"Hujan yang masih sering terjadi di wilayah barat Indonesia (Jawa dan Sumatra) sejak awal bulan Juni terjadi karena pengaruh dinamika laut-atmosfer yang terjadi di Samudra Hindia," jelas Erma Yulihastin dari PSTA Lapan.

Dinamika laut-atmosfer ini ditunjukkan dari pembentukan pusat tekanan rendah berupa pusaran angin yang dinamakan vorteks di selatan Khatulistiwa, dekat pesisir barat Sumatra dan Jawa.

Sejak awal Juni pembentukan vorteks di Samudra Hindia yang sangat intensif dan diperkirakan bertahan sepanjang periode musim kemarau sehingga berpotensi menimbulkan anomali musim kemarau yang cenderung basah sepanjang bulan Juli-Oktober pada tahun ini.

Hal ini juga diperkuat dengan prediksi pembentukan Dipole Mode Negatif di Samudra Hindia yang berpotensi menimbulkan fase basah di barat Indonesia.

Dipole mode ditandai dengan penghangatan suhu permukaan laut di Samudra Hindia dekat Sumatra, sedangkan sebaliknya di wilayah dekat Afrika mengalami pendinginan suhu permukaan laut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya

News | Minggu, 06 September 2026 | 12:05 WIB

Elegi Hujan Bulan Juni: Merawat Tabah di Tengah Badai Rupiah yang Tiarap

Elegi Hujan Bulan Juni: Merawat Tabah di Tengah Badai Rupiah yang Tiarap

Your Say | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:15 WIB

Ulasan Novel Hujan Bulan Juni: Kisah Romantisme dalam Nuansa Sastra Jawa

Ulasan Novel Hujan Bulan Juni: Kisah Romantisme dalam Nuansa Sastra Jawa

Your Say | Kamis, 05 Desember 2024 | 17:06 WIB

Atasi Reading Slump dengan Baca 3 Buku Puisi Berikut Ini!

Atasi Reading Slump dengan Baca 3 Buku Puisi Berikut Ini!

Your Say | Rabu, 19 Juni 2024 | 11:08 WIB

Musim Hujan Masih Lanjut Meski Sudah Bulan Maret, Ada Apa?

Musim Hujan Masih Lanjut Meski Sudah Bulan Maret, Ada Apa?

Tekno | Minggu, 03 Maret 2024 | 12:47 WIB

Peneliti BRIN Sebut Rancaekek Diserang Tornado  Bukan Puting Beliung

Peneliti BRIN Sebut Rancaekek Diserang Tornado Bukan Puting Beliung

Tekno | Kamis, 22 Februari 2024 | 18:44 WIB

Menguak Makna Puisi "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono

Menguak Makna Puisi "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono

Your Say | Rabu, 07 Juni 2023 | 18:38 WIB

Beri Komentar ke Muhammadiyah, Ini Profil Thomas Djamaluddin Peneliti BRIN dan LAPAN

Beri Komentar ke Muhammadiyah, Ini Profil Thomas Djamaluddin Peneliti BRIN dan LAPAN

Video | Selasa, 25 April 2023 | 12:00 WIB

Akun Medsos Peneliti BRIN Halalkan Darah Umat Muhammadiyah, Akui Ancaman Pembunuhan

Akun Medsos Peneliti BRIN Halalkan Darah Umat Muhammadiyah, Akui Ancaman Pembunuhan

News | Senin, 24 April 2023 | 11:01 WIB

Profil Sapardi Djoko Damono, Sastrawan di Google Doodle Hari Ini

Profil Sapardi Djoko Damono, Sastrawan di Google Doodle Hari Ini

News | Senin, 20 Maret 2023 | 15:33 WIB

Terkini

Viral Video Dugaan Ucapan Rasis Dirtek Java United Achmad Resal ke Shin Tae-yong

Viral Video Dugaan Ucapan Rasis Dirtek Java United Achmad Resal ke Shin Tae-yong

Bola | Senin, 21 September 2026 | 20:09 WIB

Tuai Kecaman Usai Disebut Ditutup-tutupi, Ini Alasan Ditjenpas Lepas Mas Bechi Lebih Awal

Tuai Kecaman Usai Disebut Ditutup-tutupi, Ini Alasan Ditjenpas Lepas Mas Bechi Lebih Awal

News | Senin, 21 September 2026 | 20:07 WIB

Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Kapan Lawan Malaysia?

Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Kapan Lawan Malaysia?

Bola | Senin, 21 September 2026 | 20:05 WIB

Dua Laga Nirgol, Fikron Afriyanto Ungkap Kunci Kokohnya Pertahanan Kendal Tornado FC

Dua Laga Nirgol, Fikron Afriyanto Ungkap Kunci Kokohnya Pertahanan Kendal Tornado FC

Jawa Tengah | Senin, 21 September 2026 | 20:04 WIB

Tok! Dua Terdakwa Penipuan Investasi Rp5 Miliar Divonis Penjara

Tok! Dua Terdakwa Penipuan Investasi Rp5 Miliar Divonis Penjara

Jatim | Senin, 21 September 2026 | 19:55 WIB

Borong Tanaman Hias di FLOII Expo 2026 Dapat Cashback Rp100 Ribu dari BRI

Borong Tanaman Hias di FLOII Expo 2026 Dapat Cashback Rp100 Ribu dari BRI

Bri | Senin, 21 September 2026 | 19:52 WIB

10 Finalis Seleksi Nasional Karang Taruna Berprestasi 2026 Bersaing Menuju 5 Besar, Ini Daftarnya

10 Finalis Seleksi Nasional Karang Taruna Berprestasi 2026 Bersaing Menuju 5 Besar, Ini Daftarnya

Bekaci | Senin, 21 September 2026 | 19:51 WIB

Investasi Emas Makin Mudah, Pegadaian Gandeng blu Hadirkan bluInvest Emas Mulai Rp10 Ribu

Investasi Emas Makin Mudah, Pegadaian Gandeng blu Hadirkan bluInvest Emas Mulai Rp10 Ribu

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 19:50 WIB

OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara, KPK Amankan Total 14 Orang

OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara, KPK Amankan Total 14 Orang

News | Senin, 21 September 2026 | 19:49 WIB

30 Tahun Berlalu, Penyintas Kudatuli Minta Komnas HAM Usut Dugaan Penyiksaan

30 Tahun Berlalu, Penyintas Kudatuli Minta Komnas HAM Usut Dugaan Penyiksaan

Jatim | Senin, 21 September 2026 | 19:43 WIB

×