Pasar HP Murah di Indonesia Menciut Akibat Kenaikan Harga BBM

Liberty Jemadu | Dicky Prastya
Pasar HP Murah di Indonesia Menciut Akibat Kenaikan Harga BBM
Pasar HP murah di Indonesia tertekan akibat naiknya harga BBM. Tapi penjualan ponsel mahal justru stabil. Foto: Penjual melayani pembelian ponsel di salah satu pusat perbelanjaan elektronik di Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/12/2019). [Antara/Risky Andrianto]

Ponsel mahal, dengan harga di atas Rp 6 juta justru naik. Penjualan HP murah justru turun.

Suara.com - Firma riset pasar International Data Corporation atau IDC baru saja menerbitkan laporan soal kondisi pangsa pasar ponsel Indonesia selama kuartal tiga (Q3) 2022.

Hasilnya, IDC menemukan pangsa pasar ponsel Indonesia turun 12,4 persen secara year-on-year (YoY) atau 14,6 persen secara quarter-on-quarter (QoQ) dengan total pengiriman 8,1 juta unit. Penjualan HP murah yang paling terpukul.

Associate Market Analyst IDC Indonesia, Vanessa Aurelia mengatakan pasar ponsel Indonesia lemah di Q3 2022 akibat inflasi 5,95 YoY pada September kemarin. Inflasi ini disebabkan dari kenaikan harga BBM subsidi dan non-subsidi.

“Meningkatnya harga bahan bakar berdampak negatif pada daya beli masyarakat dan permintaan pasar,” ucap Vanessa dalam keterangan resminya, Selasa (15/11/2022).

Baca Juga: Potensi Inflasi Sumsel, Harga Jual Karet Turun tapi Harga Cabai Meroket

Lesunya pasar dirasakan di ponsel kelas ultra-low-end (harga di bawah 100 Dolar AS atau Rp 1,5 juta) dan low-end (harga 100-200 Dolar AS atau Rp 1,5-3,1 juta).

“Sehingga jumlah pangsa keduanya turun menjadi 75 persen dari 81 persen di Q3 2022,” terang dia.

Sementara segmen mid-range dengan harga 200-400 Dolar AS atau Rp 3,1 juta hingga Rp 6,2 juta terlihat tetap stabil.

Berbeda di ponsel segmen dengan harga di atas 400 Dolar AS (Rp 6,2 jutaan), Vanessa menyebut kalau permintaannya menguat signifikan.

Menurutnya permintaan di segmen itu relatif tidak elastis dibandingkan dengan segmen harga yang lebih murah.

Baca Juga: Waduh, Pakistan Terancam Bangkrut, Inflasinya Naik 27,5%

“Para vendor merilis produk mereka secara strategis, serta menawarkan diskon dan cashback untuk mendorong permintaan,” tutur dia.