Greenland Menyusut, Pulau Raksasa yang Perlahan Bergeser

Agung Pratnyawan

Senin, 20 Oktober 2025 | 17:34 WIB
Greenland Menyusut, Pulau Raksasa yang Perlahan Bergeser
Ilustrasi Wilayah Greenland [Pixabay]

Suara.com - Greenland, pulau terbesar di dunia yang dikenal dengan hamparan es tebalnya, kini tengah mengalami perubahan besar akibat pemanasan global. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa wilayah yang menjadi bagian dari Kerajaan Denmark ini tidak hanya kehilangan lapisan es.

Tetapi juga perlahan menyusut dan bergeser ke arah barat laut, sebuah fenomena yang menggambarkan betapa kuatnya dampak perubahan iklim di kawasan Arktik.

Temuan mengejutkan ini diungkap oleh para ilmuwan dari DTU Space (Technical University of Denmark) dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada Oktober 2025.

Berdasarkan hasil analisis data satelit dan pemantauan dari 58 stasiun GNSS (Global Navigation Satellite System) yang tersebar di seluruh Greenland, para peneliti menemukan bahwa pulau tersebut bergerak sekitar dua sentimeter per tahun ke arah barat laut, sekaligus mengalami peregangan dan penyusutan pada wilayah yang berbeda.

Menurut Danjal Longfors Berg, peneliti utama sekaligus geodesis dari DTU Space, fenomena ini terjadi karena lapisan es Greenland yang mencair telah mengurangi tekanan pada batuan dasar di bawahnya.

“Ketika es mencair, tekanan di permukaan berkurang, dan hal itu membuat kerak bumi di bawahnya bereaksi—ada bagian yang terangkat, ada yang meregang, dan ada juga yang justru menyusut,” jelas Berg dikutip dari Interesting Engineering (18/10/2025).

Berg menambahkan bahwa meskipun selama ini banyak ilmuwan beranggapan Greenland lebih banyak meregang karena mencairnya es, hasil riset terbaru justru menunjukkan hal sebaliknya.

“Kami menemukan area yang luas di mana Greenland justru sedang ‘ditarik bersama’ atau menyusut akibat gerakan bumi di bawahnya,” ujarnya dikutip dari Interesting Engineering (18/10/2025).

Ilustrasi Greenland (Pixabay/Lurens)
Ilustrasi Greenland (Pixabay/Lurens)

Menariknya, timnya juga membuat model pergerakan daratan yang merekam perubahan sejak 26.000 tahun terakhir, mencakup masa akhir Zaman Es terakhir hingga periode modern.

baca juga

Model ini menunjukkan bahwa sisa pengaruh lapisan es purba, khususnya Laurentide Ice Sheet yang dahulu menutupi sebagian besar Amerika Utara, masih mempengaruhi struktur geologis Greenland hingga saat ini.

Fenomena geologis ini membuat pulau berpenduduk sekitar 56.000 orang tersebut mengalami dua kondisi sekaligus: ada wilayah yang memuai karena lapisan esnya mencair, dan ada yang menyusut karena gerakan kerak bumi.

Dengan luas mencapai 2,17 juta kilometer persegi, sekitar 80% permukaan Greenland ditutupi oleh lapisan es yang telah terbentuk selama jutaan tahun.

Peneliti menjelaskan, lapisan es yang mencair dalam jumlah besar telah mendorong sebagian daratan keluar dan membuat permukaan tanah sedikit terangkat.

“Akibatnya, area Greenland justru terlihat lebih besar secara geografis dibanding beberapa dekade lalu,” kata Berg.

Namun, di sisi lain, efek dari sisa perubahan tektonik sejak berakhirnya Zaman Es justru membuat bagian lain dari pulau ini mengalami kontraksi.

Dengan kata lain, Greenland kini berada dalam proses yang rumit: meluas di satu sisi, namun menyusut di sisi lain.

“Kami menemukan keseimbangan aneh antara gerakan ke luar dan ke dalam yang terjadi bersamaan,” tambah Berg.

Perubahan ini tidak lepas dari krisis iklim yang makin parah. Menurut laporan Euro News (16/10/2025), lapisan es Greenland telah kehilangan lebih banyak massa dibanding yang bisa dipulihkan selama 28 tahun berturut-turut.

Meskipun tahun 2024 tercatat sebagai tahun dengan kehilangan es paling sedikit sejak 2013, tren jangka panjangnya tetap mengkhawatirkan.

Lapisan es Greenland adalah salah satu sumber air tawar terbesar di dunia. Jika seluruh lapisan es ini mencair, permukaan air laut global bisa naik hingga 7,4 meter.

Menurut lembaga pemantau iklim Copernicus, setiap kenaikan permukaan laut sebesar satu sentimeter saja dapat menempatkan sekitar enam juta orang di seluruh dunia pada risiko banjir pesisir.

Artinya, apa yang terjadi di Greenland tidak hanya berdampak lokal—melainkan global. Hilangnya massa es di sana akan mempercepat naiknya permukaan laut, mengubah pola arus laut, hingga mempengaruhi sistem cuaca dunia.

Penelitian ini menjadi salah satu bukti ilmiah paling kuat mengenai perubahan iklim di kawasan Arktik. Data dari satelit dan stasiun GNSS yang dipasang di bebatuan sekitar pulau menunjukkan bahwa Greenland bukan hanya “mencair,” tetapi benar-benar bergerak.

“Ini pertama kalinya kita bisa mengukur pergerakan Greenland dengan ketelitian seperti ini. Bahkan titik-titik referensi tetap yang digunakan untuk survei dan navigasi di sana kini ikut bergeser karena daratan di bawahnya terus berubah.” ujar Berg.

Ilustrasi Greenland (Pixabay/Thomas_Ritter)
Ilustrasi Greenland (Pixabay/Thomas_Ritter)

Selain penting bagi ilmu geosains, temuan ini juga berdampak praktis bagi navigasi, pemetaan, dan sistem komunikasi berbasis satelit.

“Mengetahui bagaimana daratan bergerak sangat penting, terutama untuk pemantauan iklim jangka panjang dan keselamatan navigasi,” tambahnya.

Para ilmuwan sepakat bahwa fenomena penyusutan dan pergeseran Greenland adalah hasil kombinasi antara proses geologis alami dan percepatan pemanasan global akibat aktivitas manusia.

Mereka memperkirakan, jika tren mencairnya es terus meningkat, perubahan pada struktur batuan dasar Greenland akan semakin cepat dan tidak menentu.

“Greenland saat ini seperti sedang bereaksi terhadap dua kekuatan besar: sisa efek Zaman Es ribuan tahun lalu dan perubahan iklim yang kita ciptakan sekarang,” ungkap Berg dalam wawancara dengan Newsweek (15/10/2025).

Peneliti berencana untuk terus memantau evolusi antara lapisan es dan bumi padat di bawahnya dalam beberapa dekade mendatang.

Mereka berharap, pemahaman lebih dalam tentang dinamika ini dapat membantu memprediksi bagaimana planet kita akan bereaksi terhadap perubahan suhu global yang terus meningkat.

Kontributor : Gradciano Madomi Jawa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Luas Es Laut Antartika Catat Titik Terendah Ketiga dalam 47 Tahun

Luas Es Laut Antartika Catat Titik Terendah Ketiga dalam 47 Tahun

Tekno | Senin, 06 Oktober 2025 | 18:48 WIB

Bagaimana Serangga Asli Antartika Melawan Dingin

Bagaimana Serangga Asli Antartika Melawan Dingin

Tekno | Sabtu, 15 Februari 2025 | 21:00 WIB

Lapisan Es Mencair, Sepatu Tertua di Norwegia Ditemukan

Lapisan Es Mencair, Sepatu Tertua di Norwegia Ditemukan

Tekno | Rabu, 08 Juni 2022 | 13:38 WIB

Terkini

IHSG Mulai Menguat Pagi Ini Menuju Level 5.400, Cek Saham TLKM

IHSG Mulai Menguat Pagi Ini Menuju Level 5.400, Cek Saham TLKM

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:19 WIB

Jeon Do Yeon Diprediksi Masuk Nominasi Oscar Berkat Film Possible Love

Jeon Do Yeon Diprediksi Masuk Nominasi Oscar Berkat Film Possible Love

Your Say | Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:15 WIB

TelkomGroup Luncurkan Pengembangan Sovereign Digital Technology di DTIIF 2026

TelkomGroup Luncurkan Pengembangan Sovereign Digital Technology di DTIIF 2026

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:06 WIB

Lonely Planet: Kisah Cinta Penulis Novel dan Pekerja Kantoran di Maroko

Lonely Planet: Kisah Cinta Penulis Novel dan Pekerja Kantoran di Maroko

Your Say | Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Sepatu Mills Hypercharge R26 Cocok untuk Lari Apa? Intip Teknologi, Harga, dan Ulasannya

Sepatu Mills Hypercharge R26 Cocok untuk Lari Apa? Intip Teknologi, Harga, dan Ulasannya

Lifestyle | Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:57 WIB

Kebakaran Lahan di Tol Samarinda-Balikpapan, Petugas Terkendala Pasokan Air

Kebakaran Lahan di Tol Samarinda-Balikpapan, Petugas Terkendala Pasokan Air

Kaltim | Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:52 WIB

Puntung Rokok Diduga Picu Kebakaran Lahan di Pulau Tidung

Puntung Rokok Diduga Picu Kebakaran Lahan di Pulau Tidung

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:43 WIB

Nasib UMKM RI: Modal dan Akses Pasar Jadi Tantangan

Nasib UMKM RI: Modal dan Akses Pasar Jadi Tantangan

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:38 WIB

iPad Mini OLED Resmi Meluncur, Lebih Tipis dan Tangguh dengan Chip A20 Pro

iPad Mini OLED Resmi Meluncur, Lebih Tipis dan Tangguh dengan Chip A20 Pro

Tekno | Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:38 WIB

7 Manfaat Koran Bekas untuk Kebersihan Rumah yang Jarang Diketahui

7 Manfaat Koran Bekas untuk Kebersihan Rumah yang Jarang Diketahui

Lifestyle | Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:31 WIB

×