-
PBB mengutuk keras pengeboman sekolah dasar di Minab, Iran selatan.
-
Serangan militer Israel menewaskan setidaknya 150 orang, sebagian besar adalah siswa sekolah dasar.
-
UNESCO menyatakan serangan terhadap lembaga pendidikan adalah pelanggaran hukum humaniter internasional.
Suara.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui akun resmi UNESCO mengutuk serta mengecam serangan militer AS dan Israel yang mengenai sekolah di Iran.
Tak hanya itu, PBB mengungkap bahwa pemboman Israel terhadap sebuah sekolah dasar di Iran merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter.
Data yang diterima oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) membeberkan fakta menyedihkan.
Rudal-rudal dilaporkan menghancurkan sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran bagian selatan. Pengeboman menewaskan 150 orang dan melukai hampir 100 orang.
Sebagian besar korban tewas merupakan para siswi yang sedang menempuh pendidikan.
Itu merupakan salah satu bagian serangan yang diluncurkan AS-Israel sejak Sabtu (28/02/2026).

"Badan Pendidikan PBB, UNESCO menyatakan bahwa pengeboman sebuah sekolah dasar selama serangan militer AS dan Israel terhadap #Iran pada hari Sabtu merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter," tulis akun resmi X milik UNESCO dan United Nations Geneva (@UNGeneva).
Postingan mengenai kecaman PBB viral di X setelah mendapatkan 10 ribu retweet, ribuan komentar, dan 26 ribu tanda suka.
Utusan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai turut memberikan pernyataan kesedihan serta keprihatinan terhadap pemboman di lembaga pendidikan.
"Pembunuhan warga sipil, terutama anak-anak, adalah tindakan yang tidak dapat diterima, dan saya mengutuknya tanpa ragu. Semua negara dan pihak harus menjunjung tinggi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional untuk melindungi warga sipil dan menjaga keamanan sekolah. Setiap anak berhak untuk hidup dan belajar dalam damai," kata Malala.
Informasi tambahan, Malala adalah simbol internasional perjuangan untuk pendidikan anak perempuan. Ia ditembak tahun 2012 karena menentang pembatasan Taliban terhadap pendidikan perempuan di negara asalnya, Pakistan.
Melalui pernyataan resmi yang diunggah 3 Maret 2026, UNESCO bergabung dengan sejumlah badan dari seluruh sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa dan para pejabat senior, termasuk Sekretaris Jenderal António Guterres untuk mengutuk serangan militer, serta serangan balasan oleh Iran yang menghantam beberapa negara Timur Tengah.
"Pembunuhan murid di tempat yang didedikasikan untuk pembelajaran merupakan pelanggaran berat terhadap perlindungan yang diberikan kepada sekolah berdasarkan hukum humaniter internasional. Serangan terhadap lembaga pendidikan membahayakan siswa dan guru serta merusak hak atas pendidikan. Sesuai dengan mandatnya dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2601 (2021), UNESCO mengingatkan kembali kewajiban semua pihak untuk melindungi sekolah, siswa, dan tenaga pendidik," tulis UNESCO.

Mengutip laporan terpisah dari BBC dan AlJazeera bersumber Bulan Sabit Merah Iran, serangan Israel pada Sabtu telah menewaskan 201 orang dan melukai setidaknya 747 jiwa.
Sekolah putri di Iran selatan ternyata terletak cukup dekat dengan dengan pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sebelumnya pernah menjadi target serangan.