- Riset Kaspersky menunjukkan 84 persen pengguna global kini lebih memilih menyimpan data pribadi secara digital daripada fisik.
- Metode penyimpanan digital yang paling banyak digunakan meliputi perangkat keras komputer serta layanan berbasis cloud yang praktis.
- Kaspersky menyarankan strategi cadangan data 3-2-1 serta autentikasi dua faktor untuk meminimalisir risiko keamanan informasi penting pengguna.
Suara.com - Riset terbaru dari Kaspersky mengungkap bahwa mayoritas pengguna kini lebih memilih menyimpan data sensitif dalam format digital dibandingkan fisik.
84% Pengguna Simpan Data Pribadi Secara Digital
Berdasarkan penelitian pusat Riset Pasar Kaspersky, sebanyak 84 persen responden mengaku menyimpan informasi penting seperti identitas (KTP), data keuangan, informasi kesehatan, hingga arsip foto secara elektronik.
Tren ini bahkan lebih tinggi di kalangan generasi muda. Pada usia 18–34 tahun, angkanya melonjak hingga 90 persen, menandakan tingkat digitalisasi yang sangat tinggi.
Sebaliknya, hanya 16 persen responden yang masih mengandalkan penyimpanan fisik. Angka ini meningkat pada kelompok usia di atas 55 tahun, di mana hampir 30 persen masih memilih cara tradisional seperti menulis di kertas.
Cara Penyimpanan Data Paling Populer
Riset juga mengungkap metode penyimpanan digital yang paling banyak digunakan:
- 56% menyimpan data di komputer atau hard drive
- 45% menggunakan layanan cloud
- 20% memanfaatkan layanan digital pemerintah
Khusus di Indonesia, hasilnya sedikit berbeda:
- 61% menggunakan komputer atau perangkat keras
- 61% memanfaatkan cloud
- 14% menggunakan layanan digital pemerintah
Risiko Penyimpanan Digital Masih Mengintai
Meski praktis, setiap metode penyimpanan memiliki risiko. Media fisik bisa hilang atau rusak, perangkat eksternal kurang fleksibel saat bepergian, sementara layanan cloud berpotensi mengalami akses tidak sah jika tidak diamankan dengan baik.
Tips Keamanan Data dari Kaspersky
Untuk mengurangi risiko, para ahli Kaspersky membagikan sejumlah tips penting:
1. Gunakan Strategi Backup 3-2-1
Pengguna disarankan memiliki tiga salinan data, disimpan di dua jenis media berbeda, serta satu salinan di lokasi terpisah (offline atau cloud).
2. Perkuat Keamanan dengan 2FA
Sebanyak 98 persen responden sudah melakukan perlindungan data, namun 36 persen masih menggunakan password sederhana. Ini dinilai berisiko tinggi.
![Ilustrasi password di HP. [Unsplash/Kenny Eliason]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/02/02/98067-ilustrasi-password-di-hp.jpg)
Solusinya adalah menggunakan autentikasi dua faktor (2FA) atau teknologi passkey untuk perlindungan ekstra.
3. Aktifkan Backup Otomatis
Fitur backup otomatis seperti di layanan cloud dapat membantu pengguna menghindari kehilangan data penting tanpa harus melakukannya secara manual.
Pentingnya Prioritas dalam Backup Data
Wakil Presiden Bisnis Konsumen Kaspersky, Marina Titova, menekankan pentingnya strategi dalam mengelola data digital.
“Kita semua tahu bahwa pencadangan itu penting, tetapi sebagian besar dari kita tidak pernah melakukannya karena kita mencoba mencadangkan semuanya sekaligus dan itu menjadi sangat merepotkan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (6/4/2026).
Ia menyarankan agar pengguna mulai memilah data berdasarkan tingkat kepentingannya.
“Otomatiskan pencadangan waktu nyata untuk hal-hal penting, jadwalkan pencadangan mingguan atau bulanan untuk sisanya. Dan untuk data sensitif seperti kata sandi dan ID, gunakan solusi khusus kami dengan brankas rahasia untuk menjaganya tetap aman,” katanya.
Menurutnya, pendekatan ini membuat perlindungan data menjadi lebih efektif tanpa membebani pengguna.
“Ketika mengotomatiskan dan memprioritaskan, kamu melindungi apa yang benar-benar penting tanpa menjadi kewalahan,” tambahnya.