- Fosil kupu-kupu berusia 34 juta tahun ditemukan di selatan Prancis dalam kondisi sangat lengkap.
- Spesimen ini kemudian diidentifikasi sebagai spesies baru bernama Apaturoides monikae.
- Temuan ini membantu ilmuwan memahami lebih jauh evolusi awal kupu-kupu dan kemungkinan usia kelompok “emperor” yang lebih tua dari perkiraan sebelumnya.
Suara.com - Penemuan fosil serangga sering kali menjadi kejadian langka, terlebih untuk kelompok kupu-kupu yang tubuhnya sangat rapuh.
Sayap kupu-kupu yang tipis dan ringan membuat peluang untuk terawetkan dalam bentuk fosil sangat kecil. Oleh karena itu, catatan evolusi kupu-kupu di masa purba masih banyak menyisakan teka-teki.
Namun, sebuah temuan di wilayah selatan Prancis berhasil mengejutkan dunia ilmu pengetahuan.
Mengutip dari IFL Science pada Rabu, 15 April 2026, fosil ini bukan hanya utuh, tetapi juga menyimpan detail yang sangat jelas, termasuk pola sayap yang masih terlihat hingga sekarang.
Awalnya, temuan ini tidak langsung mendapat perhatian besar, hingga akhirnya diteliti kembali dengan teknologi modern.
Ketika dianalisis ulang, fosil ini ternyata menyimpan informasi penting yang dapat mengubah pemahaman tentang sejarah panjang evolusi kupu-kupu di dunia.

Penemuan Fosil Kupu-Kupu Purba di Cereste
Fosil ini pertama kali ditemukan pada tahun 1979 di endapan batuan zaman Oligosen awal. Selama beberapa dekade, spesimen tersebut tersimpan di koleksi ilmiah tanpa kajian mendalam.
Baru kemudian, tim peneliti internasional dari Amerika Serikat, Swedia, dan Jerman melakukan analisis ulang menggunakan teknik yang lebih mutakhir.
Hasilnya menunjukkan bahwa fosil ini merupakan spesies dan genus yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Merupakan Kupu-Kupu Purba yang Terawetkan Sempurna
Spesies yang diidentifikasi dari fosil ini diberi nama Apaturoides monikae.
Kupu-kupu ini diperkirakan hidup sekitar 34 hingga 28 juta tahun lalu dan terbang di kawasan hutan purba yang kini menjadi wilayah Eropa modern.
Fosilnya tergolong sangat lengkap. Hampir seluruh sayap kanan, sebagian besar sayap kiri, hingga pola venasi sayap masih terlihat jelas. Bahkan bagian tubuh seperti kepala, dada, dan sebagian perut juga ikut terawetkan.
Kondisi ini memungkinkan para peneliti untuk mempelajari struktur tubuhnya secara detail dan menempatkannya secara lebih akurat dalam pohon evolusi kupu-kupu.
Masuk dalam Kelompok Kupu-Kupu "Emperor"
Hasil studi menunjukkan bahwa fosil ini termasuk dalam subfamili Apaturinae, kelompok kupu-kupu yang sering disebut "emperor".
Menariknya, ini merupakan fosil pertama yang secara jelas dapat dikaitkan dengan kelompok tersebut.
Temuan ini kemudian membuka kemungkinan bahwa garis keturunan Apaturinae sudah muncul jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Menurut peneliti dari State Museum of Natural History Stuttgart, fosil ini dapat menjadi kunci untuk memahami bagaimana kelompok kupu-kupu modern mulai berkembang dan menyebar.
Dampak pada Teori Evolusi Kupu-Kupu
Selama ini, ilmuwan mengandalkan data molekuler untuk memperkirakan waktu kemunculan berbagai kelompok kupu-kupu.
Namun, fosil Apaturoides monikae memberi bukti nyata yang bisa memperkuat atau bahkan menantang teori tersebut.
Beberapa ahli dari Hessian State Museum Darmstadt menyebut bahwa temuan ini bisa menunjukkan dua kemungkinan, yakni garis keturunan Apatura mungkin lebih tua dari perkiraan, atau ciri-ciri nenek moyangnya bertahan sangat lama tanpa banyak perubahan.
Kupu-Kupu Purba dan Jejak Makanan di Masa Lalu
Selain fosil ini, penelitian lain juga memberikan gambaran lebih luas tentang sejarah kupu-kupu.
Studi terhadap coprolite atau fosil kotoran menunjukkan adanya sisik serangga yang diduga milik kupu-kupu purba.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa struktur seperti belalai penghisap nektar sudah ada sejak ratusan juta tahun lalu, bahkan sebelum banyak tumbuhan berbunga berkembang pesat.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa evolusi kupu-kupu berlangsung jauh lebih kompleks dan panjang dibandingkan yang selama ini dipahami.