- Kaspersky melaporkan lebih dari satu juta akun perbankan diretas selama 2025 akibat serangan malware pencuri data infostealer.
- Peretas kini memanfaatkan perdagangan data di dark web serta situs e-commerce palsu sebagai metode pencurian kredensial utama.
- Serangan siber bergeser ke perangkat mobile dengan peningkatan signifikan di kawasan Asia Pasifik sebesar 132 persen sepanjang tahun.
Asia Pasifik Alami Lonjakan Ancaman
![Ilustrasi malware. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/08/02/72109-ilustrasi-malware.jpg)
Kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan signifikan dalam serangan infostealer, bahkan mencapai 132 persen.
Secara global, deteksi malware jenis ini naik sekitar 59 persen, menunjukkan bahwa pencurian data menjadi strategi utama dalam kejahatan siber modern.
Temuan lain yang tak kalah mengkhawatirkan, sekitar 74 persen kartu pembayaran yang bocor masih aktif hingga Maret 2026. Artinya, data yang dicuri berpotensi terus digunakan oleh pelaku kejahatan dalam jangka waktu lama.
Ancaman Makin Kompleks, Pengguna Harus Waspada
Dengan semakin terorganisirnya kejahatan di dark web, Kaspersky menilai ancaman siber finansial kini lebih kompleks dan sulit dideteksi.
“Memutus siklus ini membutuhkan intelijen ancaman proaktif dari organisasi, serta peningkatan kesadaran dari pengguna,” tegas Polina.