- PT ITSEC Asia Tbk meluncurkan Bronyx AI di Indonesia untuk mempercepat proses pengujian keamanan siber melalui teknologi otomatisasi.
- Platform tersebut mampu melakukan pengujian sistem secara dinamis dan efisien dengan waktu pengerjaan mulai dari 14 menit.
- Teknologi ini mengombinasikan kecepatan kecerdasan buatan dengan validasi tenaga ahli untuk memastikan kualitas laporan serta perlindungan data pelanggan.
Suara.com - Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masif telah mempercepat inovasi digital di berbagai sektor.
Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mengotomatisasi serangan dan menemukan celah keamanan dengan lebih cepat.
Kondisi tersebut membuat pendekatan keamanan siber konvensional semakin sulit mengimbangi laju perkembangan ancaman digital.
Menjawab tantangan itu, PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) resmi meluncurkan Bronyx AI, platform AI-assisted automated penetration testing yang dikembangkan di Indonesia.
Solusi ini dirancang untuk mempercepat proses pengujian keamanan sistem dari yang sebelumnya dapat memakan waktu berhari-hari menjadi hanya hitungan jam, bahkan mulai 14 menit pada pengujian laboratorium.
AI Tak Hanya Mendeteksi Celah, tetapi Menentukan Langkah Pengujian Berikutnya
Berbeda dengan vulnerability scanner yang umumnya hanya mengidentifikasi potensi kerentanan, Bronyx AI memanfaatkan AI agent yang mampu menganalisis hasil pengujian secara aktif dan menentukan tahapan pengujian berikutnya secara dinamis.
Platform ini menjalankan berbagai proses penetration testing, mulai dari network reconnaissance, vulnerability assessment, configuration review, pengujian web application dan API, hingga menghasilkan Security Assessment Report lengkap dengan skor Common Vulnerability Scoring System (CVSS) serta rekomendasi mitigasi.
Dalam pengujian internal ITSEC Asia, Bronyx AI mampu menyelesaikan Full Scan dalam waktu mulai dari 14 menit hingga empat jam, bergantung pada kompleksitas sistem yang diuji.
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan meningkatnya kompleksitas infrastruktur digital menuntut pendekatan baru dalam menjaga keamanan siber.
"Kecepatan perkembangan teknologi dan ancaman siber saat ini menghadirkan tantangan baru bagi organisasi," ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (16/7/2026).
Menurut dia, infrastruktur dan layanan digital terus berkembang, sementara pengujian keamanan membutuhkan waktu dan keahlian khusus.
"Melalui Bronyx AI, kami ingin membantu organisasi melakukan pengujian keamanan dalam hitungan jam dengan tetap mempertahankan keterlibatan dan validasi tenaga ahli keamanan siber," kata Patrick.
Menurutnya, Bronyx AI dikembangkan berdasarkan pengalaman lebih dari 16 tahun ITSEC Asia menangani layanan keamanan siber di berbagai industri dan negara.
"Bronyx AI dikembangkan dari pengalaman langsung tim ITSEC Asia dalam menangani kebutuhan keamanan siber di berbagai industri dan pasar," ucapnya,
Pihaknya membawa pengalaman tersebut ke dalam pengembangan teknologi AI dengan tetap mempertahankan keterlibatan tenaga ahli dalam proses pengujian.
![ITSEC Asia Luncurkan Bronyx AI. [ITSEC Asia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/16/95370-itsec-asia-luncurkan-bronyx-ai.jpg)
"Bagi kami, kecepatan yang ditawarkan AI harus berjalan bersama dengan kualitas temuan, analisis dan akuntabilitas profesional keamanan siber," tambah dia.
Human in the Loop Tetap Jadi Bagian Penting
Meski mengandalkan AI untuk mempercepat proses pengujian, ITSEC Asia menegaskan Bronyx AI tidak sepenuhnya menggantikan peran analis keamanan siber.
Platform ini menerapkan pendekatan Human in the Loop (HITL), di mana seluruh temuan dengan tingkat risiko tinggi maupun kritis akan diverifikasi oleh konsultan keamanan siber sebelum laporan akhir diserahkan kepada pelanggan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga kualitas analisis sekaligus memastikan rekomendasi keamanan tetap mempertimbangkan konteks bisnis dan karakteristik sistem yang diuji.
Data Pengujian Tidak Digunakan untuk Melatih AI
ITSEC Asia juga menekankan aspek perlindungan data sebagai bagian dari pengembangan Bronyx AI.
Perusahaan menyatakan setiap pengujian hanya dilakukan terhadap aset yang telah memperoleh otorisasi tertulis dari pelanggan dan sesuai ruang lingkup yang telah disepakati.
Selain itu, data hasil pengujian disimpan secara terisolasi, seluruh keys dan credentials dienkripsi, serta tidak digunakan untuk melatih model AI tanpa persetujuan tertulis dari pelanggan.
Bronyx AI tersedia dalam skema cloud maupun dapat diimplementasikan secara on-premises bagi organisasi yang memiliki kebutuhan keamanan data lebih ketat.
![ITSEC Asia Luncurkan Bronyx AI. [ITSEC Asia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/16/21273-itsec-asia-luncurkan-bronyx-ai.jpg)
Pemerintah Apresiasi AI Keamanan Siber Buatan Indonesia
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menilai pengembangan Bronyx AI menunjukkan kemampuan industri teknologi nasional dalam membangun solusi berbasis AI yang menjawab kebutuhan nyata.
"Perkembangan kecerdasan artifisial membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, sekaligus membawa tantangan baru yang perlu diantisipasi, termasuk dalam aspek keamanan siber," terangnya.
Pihaknya mengapresiasi upaya pelaku industri nasional seperti ITSEC Asia dalam mengembangkan teknologi berbasis AI dari Indonesia untuk menjawab kebutuhan nyata industri.
"Inisiatif seperti ini menunjukkan kapasitas talenta dan industri teknologi Indonesia untuk menciptakan solusi yang relevan bagi kebutuhan nasional serta meningkatkan daya saing di tingkat global," ujar Edwin.