- Google DeepMind menggunakan teknologi AI untuk merekonstruksi gol ikonik Pelé tahun 1959 yang tidak pernah terekam kamera.
- Proyek ini melibatkan riset sejarah mendalam serta penggunaan model AI Gemini dan Veo di Stadion Rua Javari.
- Hasil dokumenter tersebut kini dipamerkan di Museu Pelé Brasil untuk melestarikan memori kolektif bagi generasi masa kini.
Suara.com - Kini, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga dimanfaatkan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah yang tidak pernah terekam kamera, membuka cara baru dalam pelestarian arsip budaya dan olahraga.
Salah satu contohnya adalah upaya Google DeepMind menghidupkan kembali gol legendaris Pelé yang selama lebih dari enam dekade hanya hidup dalam ingatan para saksi mata.
Melalui kolaborasi dengan Pelé Brand, keluarga Pelé, sejarawan, jurnalis olahraga, dan komunitas lokal di Brasil, Google DeepMind menciptakan mini-documentary yang merekonstruksi "Gol da Rua Javari", gol ikonik yang dicetak Pelé pada 2 Agustus 1959 di Stadion Rua Javari, São Paulo.
Gol tersebut memiliki nilai historis tinggi karena tidak pernah direkam oleh kamera. Meski demikian, Pelé berulang kali menyebutnya sebagai gol terbaik sepanjang kariernya setelah melewati beberapa pemain bertahan dan kiper dengan tiga sentuhan sombrero tanpa membiarkan bola menyentuh tanah.
"Rekonstruksi ini bukan sekadar menghadirkan kembali sebuah gol dalam bentuk visual. Ini merupakan penghormatan terhadap memori kolektif, sejarah sepak bola, dan warisan Pelé," demikian dijelaskan Google dalam keterangan resminya, Sabtu (18/7/2026).
AI Digunakan untuk Membangun Ulang Momen Bersejarah
Alih-alih mengandalkan imajinasi semata, proyek ini dibangun melalui pendekatan multidisiplin yang menggabungkan riset sejarah dengan teknologi AI generatif.
Tim peneliti lebih dahulu mengumpulkan hampir 2.000 dokumen sejarah, termasuk blueprint stadion, foto arsip, laporan media, album keluarga, hingga diagram pertandingan.
Selain itu, lebih dari 3.600 foto historis dianalisis untuk membangun kembali kondisi Stadion Rua Javari sebagaimana pada 1959.
Kesaksian para saksi mata, jurnalis olahraga, serta masyarakat kawasan Mooca di São Paulo juga menjadi bagian penting dalam proses rekonstruksi agar setiap detail visual tetap memiliki dasar historis.
Setelah fondasi tersebut selesai, Google melakukan pengambilan gambar langsung di Stadion Rua Javari menggunakan kostum dan bola kulit yang sesuai dengan era 1950-an sebelum dipadukan dengan teknologi AI.
Gemini dan Veo Jadi Mesin Rekonstruksi Digital
Pada tahap produksi, Google memanfaatkan sejumlah model AI miliknya, yakni Gemini Omni, Veo, dan Nano Banana Pro, untuk mengubah materi hasil syuting menjadi adegan sinematik yang mendekati kondisi asli.
Teknologi tersebut digunakan untuk membangun kembali kemiripan wajah Pelé, kostum bernomor punggung 10, arsitektur stadion, pencahayaan, hingga atmosfer penonton pada masa itu.
Salah satu inovasi penting dalam proyek ini adalah penggunaan teknologi Performance Control berbasis Veo 3 yang mampu menangkap gerakan tiga dimensi seorang stunt player modern, kemudian menerjemahkannya menjadi gerakan khas Pelé dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
Hasil AI tersebut selanjutnya dipadukan dengan proses visual effects tradisional seperti compositing, color balancing, penambahan grain film, hingga diproses menggunakan filmout machine untuk menghasilkan nuansa visual khas sinema dekade 1950-an.
![Flavia Kurtz, putri legenda sepak bola Pele. [Google]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/18/67774-flavia-kurtz-putri-legenda-sepak-bola-pele.jpg)
AI Menjadi Pendamping Sejarah, Bukan Penggantinya
Google menegaskan bahwa tujuan utama proyek ini bukan untuk menggantikan fakta sejarah, melainkan membantu generasi baru memahami peristiwa yang selama puluhan tahun hanya bertahan melalui cerita lisan dan arsip.
"Tidak ada teknologi yang dapat menggantikan pengalaman orang-orang yang hadir langsung di stadion pada hari itu. Namun melalui kolaborasi antara arsip, ingatan manusia, riset sejarah, dan teknologi sebagai pendamping kreatif, momen tersebut dapat diperkenalkan kembali kepada generasi baru," tulis Google.
Mini-documentary tersebut kini dipamerkan di Museu Pelé, Santos, Brasil, sekaligus tersedia melalui kanal YouTube Google agar dapat diakses publik secara global.
Euforia Piala Dunia 2026 Dorong Lonjakan Pencarian di Google
Google juga mencatat tingginya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Piala Dunia 2026 melalui tren Google Search sepanjang 9–16 Juli 2026.
Pertanyaan yang paling banyak dicari meliputi "Nonton bola di mana", "Cara nonton Piala Dunia 2026 di HP", hingga "Cara nonton bola gratis".
Sementara itu, pencarian terkait budaya penggemar didominasi pertanyaan seperti "Bola tadi malam siapa yang menang", "Di mana nonton live Piala Dunia 2026", serta "Siapa yang menang bola tadi malam".
Untuk kategori tim nasional, masyarakat Indonesia paling banyak mencari informasi mengenai Spanyol, Prancis, Argentina, Inggris, dan Norwegia. Sedangkan pemain yang paling banyak dicari adalah Lamine Yamal, Lionel Messi, Kylian Mbappé, Cristiano Ronaldo, dan Erling Haaland.
![Pencarian tertinggi Piala Dunia 2026 di Indonesia. [Google]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/18/62356-pencarian-tertinggi-piala-dunia-2026-di-indonesia.jpg)
Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI dan mesin pencari kini tidak hanya menjadi sarana menemukan informasi, tetapi juga berperan sebagai teknologi yang mampu menjaga memori kolektif, menghubungkan sejarah dengan generasi digital, serta menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati olahraga melalui inovasi berbasis kecerdasan buatan.