- Telkomsel, Pemprov Bali, dan Gasing Academy meluncurkan ekosistem AI for Education di Bali.
- Inovasi ini mengintegrasikan kecerdasan buatan dan metode GASING untuk memperkuat kemampuan numerasi serta personalisasi belajar siswa.
- Kolaborasi strategis tersebut bertujuan mencetak sumber daya manusia berbasis data guna mendukung kemajuan sains dan teknologi nasional.
Suara.com - Di tengah tantangan global yang menuntut kecakapan data, metode konvensional mulai mencapai titik jenuh. Menjawab urgensi ini, sebuah ekosistem AI for Education yang inklusif resmi diluncurkan di Bali, menggeser paradigma dari sekadar menghitung menjadi inovasi berpikir berbasis teknologi.
Telkomsel bersama Pemerintah Provinsi Bali dan Gasing Academy menginisiasi sebuah ekosistem pendidikan digital terintegrasi. Kolaborasi ini tidak lagi mengandalkan promosi produk semata, melainkan penguatan fondasi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kecerdasan buatan (AI) dan platform berbasis permainan (gamification).
Transformasi Pedagogi Lewat Ekosistem "AI for Education"
Inti dari inovasi ini adalah integrasi antara metode pembelajaran manusiawi dengan presisi teknologi. Ekosistem ini menggabungkan pendekatan GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan) dari Prof. Yohanes Surya dengan platform digital seperti Sacred Octagon dan SkulPintar.
Berbeda dengan aplikasi belajar mandiri biasa, Sacred Octagon memanfaatkan AI untuk menganalisis kecepatan belajar setiap anak secara personal.
AI bertindak sebagai asisten yang membantu siswa berlatih matematika secara interaktif, sementara SkulPintar mengotomatisasi proses asesmen yang hasilnya dapat dipantau oleh pengambil kebijakan secara real-time berbasis data.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa teknologi ini hadir untuk menjawab kebutuhan mendasar manusia dalam bernalar.
"Numerasi lebih dari sekadar kemampuan berhitung, tetapi juga fondasi untuk berpikir, memahami masalah, dan mengambil keputusan," ujar Nugroho dalam keterangan resminya, Sabtu (15/8/2026).
Melalui kolaborasi ini, operator telekomunikasi satu ini ingin memberi lebih banyak anak kesempatan untuk belajar, mencoba, mencoba lagi, hingga percaya bahwa mereka bisa dan berhasil.
Bukan Pengganti, Tapi Penguat Peran Guru
Satu poin tajam yang ditekankan dalam kolaborasi ini adalah konsep Human-Centric AI. Di saat banyak pihak khawatir AI akan menggantikan profesi guru, ekosistem ini justru memposisikan teknologi sebagai alat bantu agar pendidik bisa lebih fokus pada aspek empati dan bimbingan moral.
Pencetus Metode GASING, Prof. Yohanes Surya Ph.D, menyoroti bahwa masalah pendidikan di Indonesia bukanlah pada kapasitas otak siswa, melainkan akses terhadap metode yang tepat.
"Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru dan metode yang baik. Ketika guru semakin percaya diri mengajar dan anak tidak lagi takut mencoba, di situlah proses belajar mulai membawa perubahan," tegas Prof. Yohanes.
Dampak Strategis: Mencetak SDM Berbasis Data
Gubernur Bali, Wayan Koster, melihat langkah ini sebagai bagian dari visi besar "Bali Unggul". Menurutnya, adopsi AI dalam pendidikan akan menciptakan generasi yang tidak gagap terhadap perkembangan zaman dan mampu bekerja berbasis data.
"Kemampuan numerasi akan membentuk generasi yang terbiasa berpikir logis dan siap beradaptasi. Kami mengapresiasi inisiatif ini dan siap mendorong kolaborasi yang lebih luas agar manfaatnya dirasakan oleh seluruh wilayah Bali," ungkap Koster.
![Kolaborasi Telkomsel, Pemerintah Provinsi Bali, dan Gasing Academy hadirkan ekosistem AI for Education. [Telkomsel]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/15/64578-ai-for-education.jpg)
Inovasi ini juga menjadi langkah konkret dalam mendukung Asta Cita ke-4 Presiden RI untuk memperkuat sains dan teknologi nasional.
Dengan dukungan infrastruktur dari Telkomsel, akses terhadap pembelajaran digital berkualitas kini tidak lagi hanya menjadi milik mereka di kota besar, melainkan menjadi hak inklusif bagi seluruh siswa, termasuk penyandang disabilitas dan masyarakat di daerah terpencil.
Melalui integrasi AI, pendidikan di Indonesia kini menuju ke arah personalisasi massal (mass personalization). Setiap siswa mendapatkan tantangan yang sesuai dengan level kemampuannya, tanpa ada yang merasa tertinggal.
Bali kini menjadi laboratorium hidup bagi masa depan pendidikan nasional, di mana teknologi bukan sekadar gaya hidup, melainkan solusi nyata atas krisis numerasi bangsa.