- Perkembangan AI membuat kebutuhan talenta keamanan siber di Indonesia semakin tinggi karena organisasi menghadapi ancaman digital yang makin kompleks.
- Teknologi AI tidak cukup untuk memperkuat keamanan siber tanpa didukung tenaga profesional yang memiliki keterampilan mengelola, mengawasi, dan memahami risikonya.
- Organisasi perlu memperkuat talenta melalui pelatihan, sertifikasi, mentoring, serta memperluas akses bagi calon tenaga profesional dari berbagai latar belakang.
Suara.com - Ekonomi digital Indonesia terus mengalami perkembangan seiring semakin banyak organisasi mengadopsi layanan cloud, memodernisasi operasional, hingga memasukkan kecerdasan buatan (AI) ke dalam proses bisnis sehari-hari.
Pemanfaatan teknologi tersebut memang mampu mendorong produktivitas sekaligus meningkatkan daya saing. Namun, perkembangan itu juga membuat kebutuhan terhadap kemampuan baru, terutama dalam menjaga keamanan digital, ikut berubah.
Menurut Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, tantangan keamanan siber saat ini tidak lagi hanya berkutat pada bagaimana melindungi lingkungan digital yang semakin luas.
Organisasi juga dituntut memiliki sumber daya manusia yang mampu menerapkan dan mengelola teknologi baru, memahami risiko yang semakin kompleks, serta mengambil tindakan secara efektif ketika terjadi insiden.
“Ketika AI mengubah pertahanan siber sekaligus kejahatan siber, kesenjangan keterampilan keamanan siber di Indonesia menjadi persoalan ketahanan bisnis yang tidak dapat diabaikan oleh dewan direksi maupun tim eksekutif,” kata Edwin Lim.
Gambaran mengenai tantangan tersebut terlihat dalam laporan Fortinet 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report.
Sebanyak 92 persen organisasi di Indonesia yang disurvei tercatat mengalami setidaknya satu pelanggaran keamanan siber dalam 12 bulan sebelumnya.
Bahkan, hampir dua pertiga responden mengaku harus menanggung biaya lebih dari satu juta USD akibat pelanggaran tersebut.
Di sisi lain, tiga perempat responden menyebut kekurangan tenaga profesional keamanan siber turut menciptakan risiko siber tambahan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ketahanan organisasi di tengah perkembangan teknologi.
AI Melahirkan Kesenjangan Keterampilan Baru
AI kini digunakan dalam keamanan siber dari dua sisi. Bagi tim keamanan, teknologi tersebut dapat membantu menganalisis informasi dalam jumlah besar, mengotomatisasi pekerjaan berulang, sekaligus meningkatkan kemampuan mendeteksi dan merespons ancaman.
Kemampuan tersebut semakin dibutuhkan ketika perusahaan menghadapi lingkungan digital yang semakin kompleks serta ancaman siber yang terus berkembang.
Namun, pelaku serangan siber juga memanfaatkan AI untuk meningkatkan kemampuan mereka. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mempercepat pengintaian, membuat kampanye rekayasa sosial menjadi lebih meyakinkan, serta menjalankan serangan dalam kecepatan dan skala yang lebih besar.
Situasi ini akhirnya melahirkan kesenjangan keterampilan kedua. Organisasi tetap membutuhkan tenaga profesional yang menguasai berbagai disiplin keamanan siber.