- PT ITSEC Asia Tbk mencatat lonjakan laba usaha sebesar 1.171 persen pada kuartal II 2026.
- Perusahaan menandatangani kerja sama strategis dengan PT INTI dan PT Len Industri untuk memperluas pasar keamanan siber.
- Saham CYBR resmi masuk dalam IDX SMC Liquid Index pada Agustus 2026 untuk memperkuat likuiditas perdagangan.
Suara.com - Kebutuhan terhadap perlindungan sistem dan infrastruktur digital terus membuka peluang bagi industri keamanan siber.
Momentum tersebut tercermin pada kinerja PT ITSEC Asia Tbk yang mencatat lonjakan laba usaha hingga 1.171 persen secara tahunan pada kuartal II 2026.
Perusahaan berkode saham CYBR itu membukukan laba usaha sebesar Rp23,01 miliar pada Q2 2026, melonjak dibandingkan Rp1,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Seiring lonjakan tersebut, margin laba usaha meningkat dari 1,9 persen menjadi 20 persen.
Kinerja ini terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan ITSEC Asia sebesar 21 persen secara tahunan menjadi Rp115,03 miliar, dari Rp95,05 miliar pada Q2 2025.
Laba sebelum pajak juga mencatat kenaikan lebih tinggi. Berdasarkan perhitungan dari laporan keuangan Januari–Juni 2026 yang telah dipublikasikan, laba sebelum pajak mencapai Rp22,69 miliar atau melonjak 1.407 persen dibandingkan Rp1,51 miliar pada Q2 2025.
Margin laba sebelum pajak pun meningkat signifikan, dari 1,6 persen menjadi 19,7 persen.
Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, mengatakan kinerja kuartal kedua mencerminkan pertumbuhan pendapatan yang berlanjut serta realisasi sejumlah proyek utama.
“Kinerja kuartal kedua mencerminkan pertumbuhan pendapatan yang terus berlanjut serta realisasi sejumlah proyek utama pada periode tersebut. Pendapatan meningkat 21 persen secara tahunan, sementara kami mencatat peningkatan yang kuat pada laba usaha dan laba sebelum pajak,” ujar Patrick dalam keterangan resminya, Selasa (1/9/2026).
Realisasi Proyek Dorong Lonjakan Profitabilitas
Selain pertumbuhan pendapatan, lonjakan laba menunjukkan perubahan signifikan pada profitabilitas bisnis ITSEC Asia pada kuartal kedua tahun ini.
Laba bruto tercatat Rp52,09 miliar, naik 12 persen dari Rp46,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski margin laba bruto turun dari 48,9 persen menjadi 45,3 persen, peningkatan laba usaha dan laba sebelum pajak menunjukkan penguatan kinerja pada level operasional.
Patrick mengatakan, perseroan kini berfokus menjaga momentum pertumbuhan sekaligus meningkatkan margin dalam pelaksanaan proyek seiring bisnis yang terus berkembang.
“Kami fokus menjaga momentum tersebut sekaligus meningkatkan margin pelaksanaan proyek seiring pertumbuhan bisnis,” katanya.