- PT KAI meraup pendapatan sebesar Rp17,95 triliun pada semester pertama tahun 2026 yang berakhir 30 Juli.
- Laba bersih PT KAI anjlok 73,9 persen menjadi Rp305,3 miliar akibat lonjakan rugi entitas asosiasi.
- Kerugian terbesar dipengaruhi investasi pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang mencatatkan penurunan nilai pengembalian.
Suara.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatatkan laba bersih sebesar Rp305,3 miliar pada Semester I-2026. Raihan itu anjlok drastis 73,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp1,17 triliun.
Mengutip laporan keuangan di keterbukaan informasi, Kamis, 30 Juli 2026, KAI meraup pendapatan sebesar Rp17,95 triliun sepanjang enam bulan pertama ini, meningkat 6,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp16,84 triliun.
Kenaikan pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi peningkatan sejumlah beban yang membebani kinerja perseroan.
Beban usaha KAI tercatat naik menjadi Rp2,19 triliun dari Rp2 triliun pada semester I 2025 atau meningkat sekitar 9,5 persen.
![Pengendara berhentinsaat kereta melintas di perlintasan kereta api di dekat Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/01/38297-perlintasan-kereta-api-sebidang.jpg)
Tekanan terbesar terhadap laba berasal dari pos bagian rugi bersih entitas asosiasi dan ventura bersama yang melonjak drastis menjadi Rp2,99 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, pos tersebut tercatat sebesar Rp948,19 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan, kenaikan rugi tersebut terutama dipengaruhi oleh investasi pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang mencatatkan kerugian. Nilai pengembalian investasi KAI pada perusahaan tersebut turun tajam dari Rp3,24 triliun menjadi Rp235,85 miliar.
Untuk diketahui, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia perusahaan patungan yang menjadi pemegang saham PT KCIC, operator kereta cepat atau whoosh.
Selain itu, beban keuangan juga meningkat dari Rp1,25 triliun menjadi Rp1,38 triliun atau naik sekitar 10,4 persen.
Perseroan juga mencatat lonjakan kerugian akibat selisih kurs, yang meningkat lebih dari sepuluh kali lipat menjadi Rp235,47 miliar dibandingkan Rp23,31 miliar pada semester I 2025.
Dari sisi neraca, total aset KAI hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp104,79 triliun, sedikit turun dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp105,43 triliun.
Sementara itu, liabilitas perseroan turun dari Rp66,13 triliun menjadi Rp65,10 triliun.
Adapun ekuitas KAI tercatat sebesar Rp39,69 triliun, seiring penurunan aset dan liabilitas yang tercermin dalam laporan posisi keuangan perseroan.