-
Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu hujan abu hingga wilayah Jabodetabek.
-
Dentuman keras dan lontaran lava pijar membahayakan radius steril tiga kilometer.
-
Longsoran bodi gunung ke laut berpotensi memicu gelombang tsunami susulan.
Suara.com - Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.
Berada pada status Siaga atau Level III, gunung api yang tumbuh di bekas kaldera legendaris Krakatau 1883 ini menyimpan potensi bahaya yang tidak bisa diremehkan.
Jika Gunung Anak Krakatau meletus, ada sejumlah skenario fenomena alam yang akan terjadi, mulai dari gangguan kesehatan hingga ancaman bagi penduduk di sepanjang pesisir Banten dan Lampung.
Berikut adalah ulasan mengenai apa yang akan terjadi jika Gunung Anak Krakatau meletus, berdasarkan data PVMBG dan fakta sejarahnya:

1. Hujan Abu Vulkanik dan Gangguan Napas
Fenomena paling umum adalah semburan abu vulkanik. Angin dapat membawa abu ini menyebar ke berbagai wilayah di sekitar Selat Sunda, bahkan hingga menjangkau provinsi lain seperti Jakarta dan Jawa Barat.
Karena abu vulkanik bersifat abrasif (mengikis) dan asam, kondisi ini berisiko menyebabkan iritasi mata, kulit, hingga gangguan pernapasan akut (ISPA) bagi masyarakat yang terpapar.
2. Suara Dentuman dan Getaran
Erupsi tipe magmatik sering kali menghasilkan suara gemuruh dan dentuman keras yang terdengar dari jarak jauh.
Tak jarang, energi dari dentuman ini mampu membuat pintu dan jendela rumah warga di kawasan pesisir bergetar hebat.
3. Lontaran Lava Pijar
Dalam jarak dekat, Anak Krakatau akan memuntahkan lava pijar dan bebatuan pijar di sekitar kawah aktif.
Fenomena ini menciptakan pemandangan yang mencekam
sekaligus berbahaya, sehingga radius 3 kilometer dari kawah harus steril dari aktivitas manusia.
4. Ancaman Longsoran Bawah Laut dan Tsunami
Dampak ini adalah skenario yang paling diwaspadai. Meski tidak semua letusan memicu tsunami, tapi Badan Geologi mengingatkan adanya potensi tersebut jika terjadi ketidakstabilan lereng.
Tsunami terjadi jika letusan besar memicu longsoran badan gunung ke dalam laut (flank collapse), mirip dengan peristiwa maut pada Desember 2018 silam.
Belajar dari Sejarah Dahsyat Krakatau 1883
Potensi bahaya Anak Krakatau selalu dikaitkan dengan "induknya", yaitu Gunung Krakatau yang meletus dahsyat pada tahun 1883.
Letusan kala itu menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia dengan dampak global:
- Tsunami dan Korban Jiwa: Menewaskan sekitar 36.000 jiwa akibat awan panas dan tsunami raksasa.
- Dunia Menjadi Gelap: Atmosfer tertutup debu vulkanik hingga membuat beberapa negara gelap selama 2,5 hari.
- Penurunan Suhu Global: Hamburan debu mencapai Norwegia dan New York, menyebabkan suhu rata-rata global turun 1,2 derajat Celcius selama setahun.
- Lahirnya "Sang Anak": Setelah puncak Krakatau sirna pada 1883, muncul Gunung Anak Krakatau ke permukaan laut pada tahun 1927.
Anak Krakatau dikenal sebagai gunung yang sangat aktif "tumbuh". Setiap tahunnya, ketinggian gunung ini bertambah sekitar 6 hingga 12 meter.
Saat ini, ketinggiannya diperkirakan telah mencapai 230 meter di atas permukaan laut.
Pertumbuhan yang cepat ini terus dipantau karena berkaitan dengan stabilitas struktur tubuh gunung.