- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu penerbangan pada Minggu, 6 September, sehingga Persebaya harus pulang dari Lampung melalui jalur darat dan laut.
- Kementerian Perhubungan menutup sementara operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang berdampak pada sedikitnya 33 jadwal penerbangan.
- Kapten Persebaya, Francisco Rivera, menyatakan perjalanan darat dan laut tersebut memberikan pengalaman baru bagi skuadnya.
Suara.com - Persebaya Surabaya harus menempuh perjalanan darat dan laut untuk kembali ke Surabaya, Jawa Timur, setelah penerbangan tim terganggu akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Skuad Bajul Ijo sebelumnya berada di Lampung untuk menjalani pertandingan tandang menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Gangguan penerbangan membuat rombongan memilih jalur alternatif dengan menyeberangi Selat Sunda menggunakan kapal laut.
Kapten Persebaya, Francisco Rivera, menyebut perjalanan tersebut menjadi pengalaman baru baginya selama berada di Indonesia.
Meski melelahkan, ia juga mengaku bisa merasakan langsung perjalanan yang biasa ditempuh para suporter ketika mendukung tim kesayangan mereka.
“Ya, ini adalah pengalaman baru bepergian seperti ini ke Surabaya. Kami bisa memahami para penggemar yang melakukan perjalanan serupa untuk mendukung kami,” kata Rivera.
Rombongan Persebaya berangkat dari hotel di Lampung sekitar pukul 07.00 WIB, Minggu (6/9). Tim kemudian menuju Pelabuhan Bakauheni untuk menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten.
Setelah tiba di Merak, perjalanan belum berakhir.
Para pemain, staf pelatih, dan rombongan tim akan langsung melanjutkan perjalanan menuju Surabaya menggunakan bus melalui jalur darat.
Perjalanan panjang tersebut ditempuh sebagai konsekuensi terganggunya penerbangan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sebaran abu vulkanik membuat sejumlah penerbangan harus mengalami penyesuaian demi alasan keselamatan.
Rivera berharap seluruh perjalanan tim berjalan tanpa kendala hingga rombongan tiba di Surabaya.
“Kami berharap semuanya baik-baik saja dan kami bisa segera tiba di Surabaya,” ujarnya.
Sebelumnya, operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta dihentikan sementara setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi di wilayah udara sekitar jalur penerbangan.
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan penutupan awal berlaku pada Minggu (6/9) pukul 01.30 hingga 05.30 WIB, berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26.
Data Kementerian Perhubungan mencatat sedikitnya 33 penerbangan terdampak, termasuk penerbangan dari dan menuju Lampung serta penerbangan dengan tujuan Surabaya.
Penutupan kemudian diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB karena sebaran abu vulkanik masih terdeteksi. Otoritas penerbangan juga terus memantau kondisi untuk memastikan keselamatan penerbangan. [Antara]