Menilik Sejarah Gunung Anak Krakatau: Lahir dari Letusan Dahsyat 1883 hingga Tragedi Tsunami 2018

Cesar Uji Tawakal, Shevinna Putti Anggraeni

Minggu, 06 September 2026 | 19:50 WIB
Menilik Sejarah Gunung Anak Krakatau: Lahir dari Letusan Dahsyat 1883 hingga Tragedi Tsunami 2018
Gunung Anak Krakatau melontarkan lava fountain atau lava air mancur Jumat (4/9/2026) malam pukul 23.24 WIB. [ANTARA/HO-Badan Geologi]
baca 10 detik
  • Sejarah Gunung Anak Krakatau dimulai dari kemunculannya pada tahun 1927.

  • Pertumbuhan tinggi Anak Krakatau tergolong sangat cepat dibanding gunung lain.

  • Longsoran bodi gunung memicu bencana tsunami Selat Sunda pada 2018.

Suara.com - Sejarah Gunung Anak Krakatau kembali mencuri perhatian dunia menyusul aktivitas vulkaniknya yang meningkat belakangan ini.

Gunung api yang terletak di Selat Sunda ini bukan sekadar tumpukan material vulkanik, melainkan saksi bisu dari kekuatan alam yang terus membangun ulang dirinya setelah kehancuran total.

Sejarah Anak Krakatau pun tidak bisa dilepaskan dari induknya, Gunung Krakatau.

Pantauan Gunung Anak Krakatau alami erupsi di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Pasauran, Anyer, Kabupaten Serang, pada Sabtu malam. (ANTARA/Desi Purnama Sari)
Pantauan Gunung Anak Krakatau alami erupsi di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Pasauran, Anyer, Kabupaten Serang, pada Sabtu malam. (ANTARA/Desi Purnama Sari)

Lahir dari Rahim Kaldera 1883

Pada Agustus 1883, Krakatau meletus dengan kekuatan kataklismik yang melenyapkan dua pertiga tubuh pulaunya.

Puncak Gunung Perbuwatan dan Danan sirna, menyisakan lubang besar di dasar laut yang dikenal sebagai kaldera.

Pasca letusan dahsyat itu, area tersebut sempat menjadi laut dangkal yang tenang.

Namun, di bawah permukaan air, aktivitas magma ternyata tidak pernah benar-benar mati.

Perjuangan Muncul ke Permukaan (1927-1930)

baca juga

Pada awal tahun 1927, tanda-tanda kehidupan mulai muncul. Asap dan letusan kecil mulai terlihat di titik bekas puncak yang hilang. Namun, kelahiran Anak Krakatau tidaklah mudah.

Daratan yang sempat muncul sering kali runtuh kembali dalam hitungan hari akibat hantaman gelombang laut.

Proses "timbul-tenggelam" ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Barulah pada 11 Agustus 1930, daratan ini berhasil bertahan dan secara resmi menjadi pulau vulkanik baru yang dinamakan Anak Krakatau.

Pertumbuhan Anak Krakatau yang Sangat Cepat

Anak Krakatau dikenal oleh para ahli vulkanologi dunia sebagai gunung api yang sangat aktif dan pertumbuhannya pesat. Sejak muncul, tingginya terus bertambah dengan laju fantastis, yakni sekitar 7 hingga 9 meter per tahun.

  • 1935: Tinggi 63 meter.
  • 1955: Tinggi 155 meter.
  • September 2018: Mencapai titik tertinggi 338 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pertumbuhan pesat ini menjadikannya laboratorium alam bagi para peneliti internasional untuk mempelajari bagaimana ekosistem baru terbentuk di pulau vulkanik yang masih muda.

Tragedi Tsunami 2018 dan Perubahan Wujud

Momen paling kelam dalam sejarah Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018.

Tanpa peringatan gempa tektonik yang besar, tubuh gunung mengalami longsoran besar (flank collapse) seluas minimal 64 hektare yang jatuh ke laut.

Peristiwa ini memicu tsunami mematikan di Selat Sunda yang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Dampak dari longsoran ini pun mengubah total morfologi gunung:

  • Ketinggian menyusut drastis: Dari 338 mdpl menjadi hanya 110 mdpl.
  • Kehilangan massa: Sekitar 150-180 juta meter kubik material longsor ke laut.
  • Terbentuk danau kawah: Foto satelit menunjukkan kawah yang tadinya berupa lubang magma kini berubah menjadi laguna yang kemudian terpotong menjadi danau kawah.

Status Terkini dan Mitigasi

Sejak tragedi 2018, tipe letusan Anak Krakatau berubah dari tipe Strombolian (lontaran lava pijar) menjadi tipe Surtseyan (percampuran magma dengan air laut).

Meskipun tingginya sempat menyusut, Gunung Anak Krakatau tetap aktif melakukan erupsi dan secara perlahan kembali menimbun material untuk tumbuh.

Pemerintah melalui PVMBG terus melakukan pemantauan 24 jam dengan berbagai alat canggih,
termasuk pemasangan buoy pendeteksi tsunami di sekitarnya.

Kini, dengan status yang sering berfluktuasi antara Waspada (Level II) hingga Siaga (Level III), masyarakat diingatkan untuk selalu mematuhi radius aman.

Sejarah mencatat bahwa Anak Krakatau adalah pengingat nyata bahwa kekuatan alam yang luar biasa selalu menuntut kesiapsiagaan dari kita yang hidup berdampingan dengannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

6 Bandara Ditutup, Menhub Minta Warga Beralih ke Kereta, Bus dan Kapal

6 Bandara Ditutup, Menhub Minta Warga Beralih ke Kereta, Bus dan Kapal

News | Minggu, 06 September 2026 | 19:40 WIB

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Rusak Mobil Permanen, Jangan Langsung Dilap

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Rusak Mobil Permanen, Jangan Langsung Dilap

Lifestyle | Minggu, 06 September 2026 | 19:26 WIB

Erupsi Anak Krakatau Batalkan 4 Penerbangan di Tanjungpinang, 469 Penumpang Terdampak

Erupsi Anak Krakatau Batalkan 4 Penerbangan di Tanjungpinang, 469 Penumpang Terdampak

News | Minggu, 06 September 2026 | 19:22 WIB

Ratusan Penerbangan Lion Group Batal akibat Erupsi Anak Krakatau

Ratusan Penerbangan Lion Group Batal akibat Erupsi Anak Krakatau

Bisnis | Minggu, 06 September 2026 | 19:15 WIB

Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus? Ini 4 Dampak yang Wajib Diwaspadai

Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus? Ini 4 Dampak yang Wajib Diwaspadai

Tekno | Minggu, 06 September 2026 | 19:30 WIB

Jangan Asal Sapu! Ini 6 Cara Bersihkan Rumah dari Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Jangan Asal Sapu! Ini 6 Cara Bersihkan Rumah dari Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Lifestyle | Minggu, 06 September 2026 | 19:07 WIB

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×